Kamis, 18 Oktober 2018 | 19:46 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Harga minyak mentah WTI `rebound` setelah turun tajam

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 09:29 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2CeSCf6
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2CeSCf6

Elshinta.com - Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tumbuh 0,52 persen pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) atau berbalik naik (rebound) dari penurunan tajam hari sebelumnya berkat membaiknya sentimen pasar.

WTI untuk pengiriman November 2018 meningkat 0,37 dolar AS menjadi menetap di 71,34 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, seperti dilansir Antara dari Xinhua, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember 2018 naik 0,17 dolar AS menjadi 80,43 dolar AS per barel.

Harga minyak internasional mengalami penurunan tajam pada dua sesi perdagangan sebelumnya, menyusul kejatuhan di pasar saham dan lonjakan stok minyak mentah komersial di Amerika Serikat pada pekan lalu.

Badan Energi Internasional (IEA) pada Jumat (12/10) memangkas pertumbuhan permintaan minyak global pada 2018 dan 2019 masing-masing sebesar 110.000 barel per hari, mengutip kerusakan ekonomi akut di banyak negara berkembang serta risiko dari sengketa perdagangan.

Baik permintaan maupun pasokan minyak global sekarang mendekati posisi baru, tertinggi signifikan secara historis pada 100 juta barel per hari, dan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti tumbuh dalam waktu dekat, menurut laporan pasar minyak yang dikeluarkan oleh IEA. "Meskipun demikian, posisi kami adalah bahwa energi mahal kembali, dengan perdagangan minyak, gas dan batu bara di tertinggi multi-tahun, dan itu menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi," kata laporan tersebut.

"Permintaan minyak dunia akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan, tetapi tidak akan tumbuh sebanyak di tahun lalu. Saya kira itu akan lebih dari satu juta barel per hari per tahun," Eirik Waerness, wakil presiden senior dan kepala ekonom raksasa energi Norwegia Equinor, mengatakan pada Jumat (12/10).

"Jika Anda melihat sisi politik dan sisi permintaan energi, ini adalah kombinasi dari skenario reformasi dan persaingan," kata Waerness mengenai tiga skenario dalam laporan makro dan pasar jangka panjang Perspektif Energi 2018 yang disajikan oleh para ekonom.

Ditandai dengan volatilitas geopolitik, siklus boom dan bust, peraturan pasar yang merusak dan kurangnya kerja sama, skenario persaingan akan melihat intensitas energi yang lebih tinggi, PDB lebih rendah, sebagian besar bahan bakar fosil yang stabil dan lebih banyak permintaan untuk gas serpih (shale).

Sebaliknya, skenario pembaruan membutuhkan perubahan kebijakan, kerja sama global, transisi cepat, dan mencapai target dua derajat Celsius dengan skenario reformasi yang sebagian besar menampilkan tren dan arah kebijakan saat ini.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Manajemen | 18 Oktober 2018 - 19:45 WIB

Ini kemampuan yang harus dimiliki oleh founder startup

Aplikasi | 18 Oktober 2018 - 19:36 WIB

Twitter lakukan pembaruan pada tweet yang dilaporkan

Sosbud | 18 Oktober 2018 - 19:25 WIB

Santri dan warga Sukoharjo gelar Salat Istisqo

Aktual Dalam Negeri | 18 Oktober 2018 - 19:15 WIB

Pedagang Pasar Setono Betek keluhkan dagangan tak laku ke Wali Kota Kediri

Aktual Sepakbola | 18 Oktober 2018 - 18:58 WIB

Sadio Mane jalani operasi tangan

Aktual Pemilu | 18 Oktober 2018 - 18:47 WIB

Fahri Hamzah: Dana saksi dibiayai negara hindari persaingan tak sehat

Elshinta.com - Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tumbuh 0,52 persen pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) atau berbalik naik (rebound) dari penurunan tajam hari sebelumnya berkat membaiknya sentimen pasar.

WTI untuk pengiriman November 2018 meningkat 0,37 dolar AS menjadi menetap di 71,34 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, seperti dilansir Antara dari Xinhua, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember 2018 naik 0,17 dolar AS menjadi 80,43 dolar AS per barel.

Harga minyak internasional mengalami penurunan tajam pada dua sesi perdagangan sebelumnya, menyusul kejatuhan di pasar saham dan lonjakan stok minyak mentah komersial di Amerika Serikat pada pekan lalu.

Badan Energi Internasional (IEA) pada Jumat (12/10) memangkas pertumbuhan permintaan minyak global pada 2018 dan 2019 masing-masing sebesar 110.000 barel per hari, mengutip kerusakan ekonomi akut di banyak negara berkembang serta risiko dari sengketa perdagangan.

Baik permintaan maupun pasokan minyak global sekarang mendekati posisi baru, tertinggi signifikan secara historis pada 100 juta barel per hari, dan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti tumbuh dalam waktu dekat, menurut laporan pasar minyak yang dikeluarkan oleh IEA. "Meskipun demikian, posisi kami adalah bahwa energi mahal kembali, dengan perdagangan minyak, gas dan batu bara di tertinggi multi-tahun, dan itu menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi," kata laporan tersebut.

"Permintaan minyak dunia akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan, tetapi tidak akan tumbuh sebanyak di tahun lalu. Saya kira itu akan lebih dari satu juta barel per hari per tahun," Eirik Waerness, wakil presiden senior dan kepala ekonom raksasa energi Norwegia Equinor, mengatakan pada Jumat (12/10).

"Jika Anda melihat sisi politik dan sisi permintaan energi, ini adalah kombinasi dari skenario reformasi dan persaingan," kata Waerness mengenai tiga skenario dalam laporan makro dan pasar jangka panjang Perspektif Energi 2018 yang disajikan oleh para ekonom.

Ditandai dengan volatilitas geopolitik, siklus boom dan bust, peraturan pasar yang merusak dan kurangnya kerja sama, skenario persaingan akan melihat intensitas energi yang lebih tinggi, PDB lebih rendah, sebagian besar bahan bakar fosil yang stabil dan lebih banyak permintaan untuk gas serpih (shale).

Sebaliknya, skenario pembaruan membutuhkan perubahan kebijakan, kerja sama global, transisi cepat, dan mencapai target dua derajat Celsius dengan skenario reformasi yang sebagian besar menampilkan tren dan arah kebijakan saat ini.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com