Jumat, 16 November 2018 | 19:45 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Hiburan / Musik

Penobatan `Kota Musik` pemerintah jangan setengah hati

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 09:46 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
 Anggota DPR RI Komisi X Anang Hermansyah. Foto: Efendi Murdiono/Radio Elshinta
 Anggota DPR RI Komisi X Anang Hermansyah. Foto: Efendi Murdiono/Radio Elshinta

Elshinta.com - Anggota DPR RI Komisi X Anang Hermansyah menyampaikan sejumlah kota di Indonesia dinobatkan sebagai Kota Musik. Namun semestinya penobatan Kota Musik diikuti dengan penyediaan regulasi dari pemerintah daerah. Cara ini lebih konkret ketimbang sekadar penobatan sebagai Kota Musik.

Politisi PAN dari Dapil Kabupaten Jember dan Kabupaten Lumajang tersebut mengkritisi penobatan sejumlah kota dengan sebutan Kota Musik. Menurut dia, penobatan Kota Musik hanya seremonial saja.

"Saya melihat penobatan Kota Musik hanya seremonial saja. Belum menyentuh substansi persoalan," kata Anang, Sabtu (13/10), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

Menurut Anang, semestinya pemerintah melakukan tindakan nyata dengan tidak sekadar mendaulat kota dengan sebutan kota musik melalui penyusunan regulasi di daerah. "Pemerintah daerah dapat membuat regulasi yang kondusif bagi perkembangan musik di daerah seperti persoalan hak royalti, rumah karoke, serta pengembangan potensi musik di daerah," urai Anang. 

Menurut dia, UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang memasukan musik sebagian bagian dari kebudayaan serta UU No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dapat dijadikan pijakan bagi pemda untuk menerbitkan Perda atau Peraturan Kepala Daerah (Perkada).

"Saya kira ini soal kehendak politik Pemda saja. Sayangnya, sampai saat ini pemda terjebak pada agenda selebrasi penobatan kota musik tapi miskin substansi," kritik Anang. 

Ditegaskan musisi dan vokalis asal Kabupaten Jember, sebagaimana saat perayaan Hari Musik Nasional pada 9 Maret lalu, Ambon dinobaktkan sebagai Kota Musik. Tidak hanya Ambon, sejumlah daerah juga menobatkan diri sebagai Kota Musik seperti Bandung.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual SDGs | 16 November 2018 - 19:35 WIB

Perkawinan anak bawa dampak buruk terhadap SDGs

Lingkungan | 16 November 2018 - 19:24 WIB

Hadapi musim penghujan, Pemkab Kudus petakan daerah rawan banjir

Megapolitan | 16 November 2018 - 19:13 WIB

YLKI: KAI setengah hati respon pencopotan iklan rokok di stasiun

Kecelakaan | 16 November 2018 - 18:59 WIB

Tim DVI kembali identifikasi tiga korban Lion Air

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 18:37 WIB

PT KAI siapkan 20 kereta tambahan untuk Natal dan Tahun Baru

Elshinta.com - Anggota DPR RI Komisi X Anang Hermansyah menyampaikan sejumlah kota di Indonesia dinobatkan sebagai Kota Musik. Namun semestinya penobatan Kota Musik diikuti dengan penyediaan regulasi dari pemerintah daerah. Cara ini lebih konkret ketimbang sekadar penobatan sebagai Kota Musik.

Politisi PAN dari Dapil Kabupaten Jember dan Kabupaten Lumajang tersebut mengkritisi penobatan sejumlah kota dengan sebutan Kota Musik. Menurut dia, penobatan Kota Musik hanya seremonial saja.

"Saya melihat penobatan Kota Musik hanya seremonial saja. Belum menyentuh substansi persoalan," kata Anang, Sabtu (13/10), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

Menurut Anang, semestinya pemerintah melakukan tindakan nyata dengan tidak sekadar mendaulat kota dengan sebutan kota musik melalui penyusunan regulasi di daerah. "Pemerintah daerah dapat membuat regulasi yang kondusif bagi perkembangan musik di daerah seperti persoalan hak royalti, rumah karoke, serta pengembangan potensi musik di daerah," urai Anang. 

Menurut dia, UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang memasukan musik sebagian bagian dari kebudayaan serta UU No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dapat dijadikan pijakan bagi pemda untuk menerbitkan Perda atau Peraturan Kepala Daerah (Perkada).

"Saya kira ini soal kehendak politik Pemda saja. Sayangnya, sampai saat ini pemda terjebak pada agenda selebrasi penobatan kota musik tapi miskin substansi," kritik Anang. 

Ditegaskan musisi dan vokalis asal Kabupaten Jember, sebagaimana saat perayaan Hari Musik Nasional pada 9 Maret lalu, Ambon dinobaktkan sebagai Kota Musik. Tidak hanya Ambon, sejumlah daerah juga menobatkan diri sebagai Kota Musik seperti Bandung.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Jumat, 16 November 2018 - 13:15 WIB

Anang sesalkan karya film jadi obyek politisasi

Selasa, 13 November 2018 - 07:55 WIB

Jennie: Debut solo saya bagian dari musik BLACKPINK

Selasa, 13 November 2018 - 07:47 WIB

Zayn Malik ungkap dirinya bukan seorang Muslim

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com