Selasa, 23 Oktober 2018 | 13:28 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Bencana Alam

Korban gempa-tsunami belum terima kabar soal relokasi

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 16:28 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2IEB0KA
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2IEB0KA

Elshinta.com - Korban gempa dan tsunami di Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengaku belum mendapat kabar mengenai rencana relokasi maupun pembangunan tempat pengungsian terpadu yang bersifat sementara.

"Mengenai barak pengungsi dan relokasi permukiman sama sekali belum ada kabar," kata salah satu korban gempa dan tsunami Kecamatan Sindue Mohammad Hamdin.

Dihubungi dari Palu, Sabtu (13/10), Mohammad Hamdin mengaku bahwa belum ada tanda-tanda langkah pemerintah untuk membangunkan barak bagi pengungsi korban gempa dan tsunami. "Warga di sini serba kesusahan dan serba salah. Mau balik ke rumah, sementara rumah sudah tidak layak huni. Mau bertahan di lokasi pengungsian, sementara terpal tidak layak digunakan," ucap Hamdin.

Saat ini, kata Hamdin, sekitar 1.373 jiwa atau lebih dari 300 kepala keluarga dari berbagai desa di Kecamatan Sindue mengungsi di lapangan Sanggola, Dusun 01 Pompaya, Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Mereka hanya dapat bantuan dari salah satu partai politik dan relawan berupa makanan, air minum, pakaian dan tenda.

Sementara sarana lainnya tidak ada seperti mandi, cuci, kakus (MCK), air untuk mandi, cuci pakaian, piring dan memasak tidak tersedia. "Kalau-pun tersedia itu air dari irigasi, atau saluran-saluran pertanian. Ini sangat membahayakan kesehatan warga," ujarnya, dikutip Antara.

Mantan Aktivis (Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND) itu menyarankan kepada pemerintah agar segera memikirkan lokasi pengungsian terpadu yang sifafnya sementara dan jauh dari ancaman tsunami serta gempa. "Lokasi pengungsian warga itu tidak jauh dari laut. Karena Desa Lero itu desa yang berdekatan dengan laut," sebutnya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pendidikan | 23 Oktober 2018 - 13:27 WIB

LIPI sebut ilmu sosial berperan signifikan sukseskan pembangunan

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:12 WIB

Dinas perikanan bina dua unit koperasi nelayan

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 13:05 WIB

DPR: Korban gempa Sulteng masih perlu bantuan

Ekonomi | 23 Oktober 2018 - 12:57 WIB

Bappenas: Cegah korupsi dengan pemerintahan terbuka

Aktual Dalam Negeri | 23 Oktober 2018 - 12:48 WIB

Rizal Ramli datangi KPK adukan dugaan korupsi

Hukum | 23 Oktober 2018 - 12:37 WIB

Tb Chaeri Wardana diperiksa KPK kembali

Elshinta.com - Korban gempa dan tsunami di Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengaku belum mendapat kabar mengenai rencana relokasi maupun pembangunan tempat pengungsian terpadu yang bersifat sementara.

"Mengenai barak pengungsi dan relokasi permukiman sama sekali belum ada kabar," kata salah satu korban gempa dan tsunami Kecamatan Sindue Mohammad Hamdin.

Dihubungi dari Palu, Sabtu (13/10), Mohammad Hamdin mengaku bahwa belum ada tanda-tanda langkah pemerintah untuk membangunkan barak bagi pengungsi korban gempa dan tsunami. "Warga di sini serba kesusahan dan serba salah. Mau balik ke rumah, sementara rumah sudah tidak layak huni. Mau bertahan di lokasi pengungsian, sementara terpal tidak layak digunakan," ucap Hamdin.

Saat ini, kata Hamdin, sekitar 1.373 jiwa atau lebih dari 300 kepala keluarga dari berbagai desa di Kecamatan Sindue mengungsi di lapangan Sanggola, Dusun 01 Pompaya, Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Mereka hanya dapat bantuan dari salah satu partai politik dan relawan berupa makanan, air minum, pakaian dan tenda.

Sementara sarana lainnya tidak ada seperti mandi, cuci, kakus (MCK), air untuk mandi, cuci pakaian, piring dan memasak tidak tersedia. "Kalau-pun tersedia itu air dari irigasi, atau saluran-saluran pertanian. Ini sangat membahayakan kesehatan warga," ujarnya, dikutip Antara.

Mantan Aktivis (Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND) itu menyarankan kepada pemerintah agar segera memikirkan lokasi pengungsian terpadu yang sifafnya sementara dan jauh dari ancaman tsunami serta gempa. "Lokasi pengungsian warga itu tidak jauh dari laut. Karena Desa Lero itu desa yang berdekatan dengan laut," sebutnya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Selasa, 23 Oktober 2018 - 07:46 WIB

BMKG pasang 20 sensor gempa di Sulteng

Senin, 22 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Polisi bekuk pembunuh wanita tanpa busana di Binjai

Senin, 22 Oktober 2018 - 19:46 WIB

Polresta Malang gerebek toko pembuat miras oplosan

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com