Rabu, 12 Desember 2018 | 20:24 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Pemilu / Aktual Pemilu

Pakar: Waspadai akun provokator pada masa kampanye

Sabtu, 13 Oktober 2018 - 19:57 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Warga yang tergabung dalam Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) menunjukkan saat unjukrasa menolak hoaks di Alun-alun Tegal, Jawa Tengah. Sumber foto: https://bit.ly/2QOG6qn
Warga yang tergabung dalam Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) menunjukkan saat unjukrasa menolak hoaks di Alun-alun Tegal, Jawa Tengah. Sumber foto: https://bit.ly/2QOG6qn

Elshinta.com - Pakar keamanan siber Doktor Pratama Persadha mengingatkan warganet (netizen) untuk selalu waspada terhadap pesan yang berasal dari akun provokator pada masa kampanye Pemilu 2019.

"Jangan sampai karena ketidaktahuan, warganet melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagaimana diubah dalam UU No. 19/2016," kata Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC di Semarang, Sabtu (13/10) seperti dikutip dari Antara.

Sebelumnya, Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) memproduksi sebuah video berdurasi 1 menit yang berisi tips mengenali hoaks (berita bohong). Video yang menjadi viral ini mengingatkan warganet pemilik akun Facebook agar tidak terjebak hoaks, antara lain, jangan langsung percaya judul. Hilangkan kebiasaan membaca berita dari judulnya saja.

Tips kedua, periksa URL atau alamat situsnya. URL berita palsu biasanya berisi situs abal-abal yang alamatnya dibuat mirip dengan situs resmi. Ketiga, cari tahu sumber beritanya. Warganet harus memastikan bahwa sumber berita yang tercantum memang benar-benar kredibel.

Keempat, warganet diminta perhatikan penulisan berita. Berita hoaks sering kali mengandung kesalahan penulisan tanda baca, seperti koma, titik, dan kesalahan penulisan lainnya. Kelima, kroscek dengan berita lain. Periksa kebenaran sebuah laporan dengan laporan dari sumber berita lain tentang hal yang sama.

Keenam, cek detail pendukung berita. Sebuah berita kredibel memiliki beberapa pendukung atau kutipan dari para ahli dan sumber. Ketujuh, periksa tanggal berita. Periksa tanggal peredaran berita dan cocokkan dengan waktu dan masalah yang terjadi, terkait dengan isu di dalamnya.

Kedelapan, pelihara sikap kritis. Yang terpenting, pembaca harus tetap kritis dan skeptis menyikapi segala informasi. "Sudah tidak zamannya lagi tertipu berita bohong (hoaks)," ucap Pratama.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Politik | 12 Desember 2018 - 20:23 WIB

MABMI tak berpolitik dan tak terlibat dalam dukung mendukung

Aktual Dalam Negeri | 12 Desember 2018 - 20:17 WIB

Kemenag sediakan master Al Quran gratis

Sosbud | 12 Desember 2018 - 20:07 WIB

Poligami celah lakukan korupsi

Megapolitan | 12 Desember 2018 - 19:58 WIB

Polisi segera jawab temuan Ombudsman terkait Novel

Startup | 12 Desember 2018 - 19:45 WIB

Tokopedia konformasi dapatkan kucuran dana Rp16 triliun

Aktual Dalam Negeri | 12 Desember 2018 - 19:36 WIB

Kabupaten Kudus bukan penyumbang pengangguran di Jateng

Elshinta.com - Pakar keamanan siber Doktor Pratama Persadha mengingatkan warganet (netizen) untuk selalu waspada terhadap pesan yang berasal dari akun provokator pada masa kampanye Pemilu 2019.

"Jangan sampai karena ketidaktahuan, warganet melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagaimana diubah dalam UU No. 19/2016," kata Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC di Semarang, Sabtu (13/10) seperti dikutip dari Antara.

Sebelumnya, Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) memproduksi sebuah video berdurasi 1 menit yang berisi tips mengenali hoaks (berita bohong). Video yang menjadi viral ini mengingatkan warganet pemilik akun Facebook agar tidak terjebak hoaks, antara lain, jangan langsung percaya judul. Hilangkan kebiasaan membaca berita dari judulnya saja.

Tips kedua, periksa URL atau alamat situsnya. URL berita palsu biasanya berisi situs abal-abal yang alamatnya dibuat mirip dengan situs resmi. Ketiga, cari tahu sumber beritanya. Warganet harus memastikan bahwa sumber berita yang tercantum memang benar-benar kredibel.

Keempat, warganet diminta perhatikan penulisan berita. Berita hoaks sering kali mengandung kesalahan penulisan tanda baca, seperti koma, titik, dan kesalahan penulisan lainnya. Kelima, kroscek dengan berita lain. Periksa kebenaran sebuah laporan dengan laporan dari sumber berita lain tentang hal yang sama.

Keenam, cek detail pendukung berita. Sebuah berita kredibel memiliki beberapa pendukung atau kutipan dari para ahli dan sumber. Ketujuh, periksa tanggal berita. Periksa tanggal peredaran berita dan cocokkan dengan waktu dan masalah yang terjadi, terkait dengan isu di dalamnya.

Kedelapan, pelihara sikap kritis. Yang terpenting, pembaca harus tetap kritis dan skeptis menyikapi segala informasi. "Sudah tidak zamannya lagi tertipu berita bohong (hoaks)," ucap Pratama.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:00 WIB

Pemilih gangguan jiwa di Gorontalo capai 525 orang

Rabu, 12 Desember 2018 - 08:30 WIB

Sumbar peringkat ketiga nasional rawan Pemilu

Selasa, 11 Desember 2018 - 21:59 WIB

Tommy Soeharto dikukuhkan sebagai anak adat Sentani

Selasa, 11 Desember 2018 - 21:49 WIB

290 penyandang disabilitas tercatat di DPTHP-2 Binjai

Selasa, 11 Desember 2018 - 21:26 WIB

KPU Purwakarta tetapkan DPT Pemilu 2019

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com