Senin, 10 Desember 2018 | 17:04 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Tokoh NU kecam perusakan sedekah laut di Bantul

Minggu, 14 Oktober 2018 - 12:27 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Pegiat budaya Zastrouw Al-Ngatawi. Sumber Foto: https://bit.ly/2CfyARF
Pegiat budaya Zastrouw Al-Ngatawi. Sumber Foto: https://bit.ly/2CfyARF

Elshinta.com - Pegiat budaya Zastrouw Al-Ngatawi menyatakan bahwa perusakan perlengkapan upacara tradisi sedekah laut di Pantai Baru, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) oleh sekelompok orang merupakan tindakan tak beradab dan tak bermoral.

“Itu mencederai akhlak orang beragama dan pendangkalan terhadap ajaran dan nilai-nilai agama,” tegas Zastrouw, Minggu (14/10) di Jakarta.

Menurut Pimpinan Grup Musik Religi Ki Ageng Ganjur ini, klaim bahwa upacara tradisional itu syirik adalah menunjukkan pandangan agama yang picik. “Sikap-seperti ini merupakan benih-benih radikalisme dan tindakan intoleran,” jelas Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta ini.

Pria yang lekat dengan blangkonnya ini mengemukakan, terbukti secara historis dan faktual, budaya menjadi instrumen dan metode efektif untuk penyebaran, pendidikan, dan pengamalan agama.

“Jika tradisi dan kebudayaan dirusak, maka agama akan menjadi kering, keras, dan kehilangan dimensi estetik dan tidak manusiawi. Jika sudah demikian, agama akan semakin jauh dari realitas sosial. Dan agama yang seperti ini hanya bisa diamalkan oleh malaikat,” urai Zastrouw, seperti dikutip nu.or.id.

Ia mengungkapkan, agama apa pun tak akan bisa menarik simpati manusia bila diajarkan dengan kekerasan dan kebencian. Sikap seperti itu justru membuat orang bersikap menjauh dan antipati terhadap agama. "Kebanyakan hidayah mudah turun dalam suasana hati yang ikhlas, tenang, dan lembut. Bukan pada hati yang keras, penuh dendam, dan kebencian," tandasnya.

Acara sedekah laut di Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul batal digelar setelah sekelompok orang merusak properti di lokasi acara Jumat (12/10) malam. Perusakan itu dilakukan karena sedekah laut dianggap bermuatan unsur syirik.

Menurut keterangan warga setempat, pukul setengah 12 malam ada sekitar 50 orang datang dengan sejumlah motor, dua mobil, dan ada satu mobil ambulan. Selanjutnya melakukan perusakan dimaksud.

Meski mengalami perusakan, sejak pagi hari warga yang tinggal di pesisir Pantai Baru sibuk menata makanan yang terdiri dari ayam suwir, lalapan dan nasi gurih ke dalam sebuah pincuk berwarna putih yang disebut takir. Selanjutnya, makanan yang diwadahi takir itu langsung dibagi-bagikan kepada warga dan pengunjung pantai tersebut.

Hingga saat ini, tindak perusakan tersebut masih dalam penanganan Polres Bantul. Polisi telah memintai keterangan dari sembilan orang.

Polisi juga turut menyita beberapa barang bukti yang menguatkan adanya perusakan di Pantai Baru, bahkan ada satu spanduk yang disita. Mengenai spanduk, Kapolres Bantul AKBP Sahat Marisi Hasibuan membenarkan bahwa spanduk yang disita bertuliskan penolakan kesyirikan berbalut budaya. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Luar Negeri | 10 Desember 2018 - 16:55 WIB

Pemerintah siapkan strategi baru bela Siti Aisyah

Sosbud | 10 Desember 2018 - 16:45 WIB

Pertamina bagikan santunan ke 12 panti asuhan

Megapolitan | 10 Desember 2018 - 16:36 WIB

Jalan Raya Legok rusak, Bupati akan tindak tegas sopir muatan berat

Aktual Pemilu | 10 Desember 2018 - 16:25 WIB

KPU Tangerang temukan daftar pemilih tak sesuai syarat

Aktual Pemilu | 10 Desember 2018 - 16:14 WIB

Wapres: Kalau Pemilu gagal, Bawaslu kecewakan masyarakat

Ekonomi | 10 Desember 2018 - 16:06 WIB

3 menteri ground breaking rusunami Stasiun Rawabuntu

Elshinta.com - Pegiat budaya Zastrouw Al-Ngatawi menyatakan bahwa perusakan perlengkapan upacara tradisi sedekah laut di Pantai Baru, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) oleh sekelompok orang merupakan tindakan tak beradab dan tak bermoral.

“Itu mencederai akhlak orang beragama dan pendangkalan terhadap ajaran dan nilai-nilai agama,” tegas Zastrouw, Minggu (14/10) di Jakarta.

Menurut Pimpinan Grup Musik Religi Ki Ageng Ganjur ini, klaim bahwa upacara tradisional itu syirik adalah menunjukkan pandangan agama yang picik. “Sikap-seperti ini merupakan benih-benih radikalisme dan tindakan intoleran,” jelas Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta ini.

Pria yang lekat dengan blangkonnya ini mengemukakan, terbukti secara historis dan faktual, budaya menjadi instrumen dan metode efektif untuk penyebaran, pendidikan, dan pengamalan agama.

“Jika tradisi dan kebudayaan dirusak, maka agama akan menjadi kering, keras, dan kehilangan dimensi estetik dan tidak manusiawi. Jika sudah demikian, agama akan semakin jauh dari realitas sosial. Dan agama yang seperti ini hanya bisa diamalkan oleh malaikat,” urai Zastrouw, seperti dikutip nu.or.id.

Ia mengungkapkan, agama apa pun tak akan bisa menarik simpati manusia bila diajarkan dengan kekerasan dan kebencian. Sikap seperti itu justru membuat orang bersikap menjauh dan antipati terhadap agama. "Kebanyakan hidayah mudah turun dalam suasana hati yang ikhlas, tenang, dan lembut. Bukan pada hati yang keras, penuh dendam, dan kebencian," tandasnya.

Acara sedekah laut di Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul batal digelar setelah sekelompok orang merusak properti di lokasi acara Jumat (12/10) malam. Perusakan itu dilakukan karena sedekah laut dianggap bermuatan unsur syirik.

Menurut keterangan warga setempat, pukul setengah 12 malam ada sekitar 50 orang datang dengan sejumlah motor, dua mobil, dan ada satu mobil ambulan. Selanjutnya melakukan perusakan dimaksud.

Meski mengalami perusakan, sejak pagi hari warga yang tinggal di pesisir Pantai Baru sibuk menata makanan yang terdiri dari ayam suwir, lalapan dan nasi gurih ke dalam sebuah pincuk berwarna putih yang disebut takir. Selanjutnya, makanan yang diwadahi takir itu langsung dibagi-bagikan kepada warga dan pengunjung pantai tersebut.

Hingga saat ini, tindak perusakan tersebut masih dalam penanganan Polres Bantul. Polisi telah memintai keterangan dari sembilan orang.

Polisi juga turut menyita beberapa barang bukti yang menguatkan adanya perusakan di Pantai Baru, bahkan ada satu spanduk yang disita. Mengenai spanduk, Kapolres Bantul AKBP Sahat Marisi Hasibuan membenarkan bahwa spanduk yang disita bertuliskan penolakan kesyirikan berbalut budaya. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com