Bareksa, marketplace reksadana dorong penetrasi investasi
Elshinta
Selasa, 16 Oktober 2018 - 17:30 WIB | Penulis : Syahid | Editor : Administrator
Bareksa, marketplace reksadana dorong penetrasi investasi
Sumber foto: Reza/Elshinta.com

Elshinta.com - Salah satu produk investasi yang memiliki imbal hasil cukup tinggi dan memiliki risiko yang terukur adalah reksadana. Reksadana merupakan sebuah wadah investasi yang kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat untuk diinvestasikan ke dalam instrumen-instrumen pasar modal oleh manajer investasi. Produk investasi ini memiliki imbal hasil cukup tinggi karena dana kelolanya diinvestasikan pada instrumen-instrumen investasi di pasar modal seperti saham, obligasi, dan instrumen keuangan lainnya. 

Berbeda dengan membeli produk investasi di pasar modal secara langsung yang membutuhkan analisis lebih rumit dengan nominal investasi yang tinggi, berinvestasi di reksadana lebih mudah karena dana yang disetorkan diputar oleh seseorang atau lembaga yang lebih mengerti, yaitu manajer investasi dari dana-dana yang dikumpulkan dari para investor. 

Berinvestasi di reksadana saat ini pun menjadi semakin mudah dilakukan seiring dengan munculnya marketplace yang mampu mengumpulkan agen-agen penjual reksadana ke dalam sebuah platform berbasis online. Salah satunya adalah Bareksa yang merupakan perusahaan financial technology (fintech) pertama yang mendapatkan lisensi Otoritas Jasa Keuangan untuk menjual produk reksadana kepada nasabah di Indonesia. 

Menurut Karaniya Dharmasaputra, pendiri Bareksa, salah satu hal yang melatarbelakangi pendirian marketplace reksadana adalah mindset berinvestasi pada masyarakat Indonesia yang masih belum tumbuh. “Di Indonesia itu kan mindsetnya betul-betul masih menabung di bank. Karena ada pepatah menabung pangkal kaya. Sebetulnya pepatah itu sudah harus direvisi.” ujar Karaniya. 

Ia menambahkan, saat ini perbankan di Indonesia sedang mengikuti jalur yang ada di negara-negara maju di mana suku bunga simpanan bank terus menurun, bahkan negatif. Saat ini,rata-rata suku bunga di perbankan besar untuk nilai simpanan di atas Rp1 juta berkisar antara 0,7% saja, itu pun masih harus dipotong pajak dan biaya administrasi bulanan. Karena itulah, menginvestasikan dana yang kita punya menjadi penting. 

Marketplacenya produk investasi

Bareksa yang resmi diluncurkan pada Januari 2015 tersebut, layaknya sebuah marketplace ecommerce seperti Tokopedia atau Bukalapak yang mempertemukan penjual dan pembeli dalam sebuah platform. Bedanya, produk-produk yang dijual oleh Bareksa adalah produk investasi reksadana atau produk pasar modal lainnya karena sejak 2018 ini, Bareksa juga resmi ditunjuk untuk menjual Surat Utang Negara (SUN) kepada masyarakat. 

Hingga artikel ini ditulis, sudah ada 87 manajer investasi yang tercatat di Bareksa. Mereka menjual beberapa jenis reksadana seperti reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham. Nasabah bisa memilih jenis reksadana yang mereka sukai, dan agen penjual atau manajer investasi yang menurutnya memiliki kinerja baik. 

Baca juga: 3 hal ini yang menyebabkan investasi gagal

Dalam berinvestasi, terutama pada produk pasar modal, data menjadi hal yang fundamental dalam proses pengambilan keputusan. Pada reksadana, nasabah disarankan untuk mencari tahu terlebih dahulu profil manajer investasi, besaran dana kelolanya, rata-rata return atau imbal hasilnya setiap tahun, sampai bagaimana komposisi portofolio investasi tersebut mereka kelola. 

“Selama ini informasi dan data keuangan terutama yang terkait pasar modal itu susah diakses oleh masyarakat luas. Hanya disediakan untuk segment masyarakat tertentu.” ujar Karaniya. Karena itulah, Bareksa membuka semua informasi tersebut secara luas sehingga masyarakat awam bisa ikut berinvestasi produk pasar modal. Informasi yang ada diharapkan dapat membantu nasabah untuk memilih reksadana yang sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Memilih produk reksadana

Menurut Karaniya, untuk memilih reksadana, sebaiknya kenali dulu bagaimana kepribadian kita dalam melihat risiko. “Pertama tentukan dulu, kita itu orangnya seperti apa, kita mau enggak menerima risiko yang tinggi, kalau enggak yah pilih reksadana pasar uang. Tapi kalau kita punya uang lebih dan kita orang yang berani mengambil risiko karena ingin dapat return tinggi ya ambil reksadana saham.” ungkapnya. 

Imbal hasil pada setiap jenis reksadana memang berbanding lurus dengan risikonya. Reksadana pasar uang misalnya, jenis reksadana ini cocok untuk jangka pendek dengan tingkat risiko yang kecil. Imbal hasilnya, biasanya lebih tinggi daripada imbal hasil dari deposito. “Reksadana pasar uang itu bisa menghasilkan return sekitar 6-7 persen” ungkapnya. 

Bila menginginkan imbal hasil yang tinggi, nasabah bisa memilih jenis reksadana seperti campuran atau saham yang investasinya lebih banyak pada efek ekuitas (saham) atau surat utang. Imbal hasilnya bisa mencapai 18-20% setiap tahunnya. Untuk jenis saham seperti ini, disarankan untuk jangka waktu menengah dan panjang, yaitu 3 – 5 tahun. 

Baca juga: Sebelum investasi reksa dana, cari tahu istilah-istilahnya berikut ini

Penggunaan teknologi informasi seperti Bareksa, terbukti telah berhasil mendorong minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi, khususnya pada produk pasar modal. Ia mengungkapkan, pada saat Bareksa pertama berdiri jumlah investor reksadana di Indonesia masih sekitar 200.000 karena jalur distribusinya hanya mengandalkan jalur perbankan. Setelah ada era fintech seperti Bareksa, jumlah investor reksadana mencapai 900.000 lebih. “Dalam waktu 3,5 tahun tumbuh 231%.” ujarnya. 

Sampai dengan April 2018, Bareksa telah mampu mencetak 100.000 investor reksadana. Jumlah tersebut melonjak 57% bila dibandingkan dengan Desember 2017 yang masih sebanyak 63.500 investor. Kesuksesannya itu pula yang membuat pemerintah akhirnya memberikan kepercayaan kepada Bareksa sebagai salah satu penjual obligasi pemerintah. “Melihat kesuksesan  ini, karena itu pemerintah ingin agar bagaimana teknologi internet bisa dimanfaatkan untuk memperluas dan memperdalam penetrasi reksadana dan obligasi kita.” ujarnya. 

Anda bisa membaca artikel-artikel menarik lainnya seputar investasi pada eMajels edisi Oktober 2018. Klik di sini untuk membaca atau kunjung elshinta.com/majalah-elshinta untuk edisi-edisi lainnya. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Wujudkan pertanian untuk semua, startup pertanian ini gelar TaniHack
Sabtu, 14 Maret 2020 - 09:18 WIB
TaniHub Group, perusahaan digital rintisan (startup) di bidang pertanian, terus berupaya melakukan t...
Kerja sama RI-Korea diharapkan dongkrak pertumbuhan startup
Senin, 02 Desember 2019 - 14:18 WIB
Kementerian Perindustrian mendorong penguatan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang ekono...
4 tips sederhana untuk sukses memulai bisnis startup
Jumat, 25 Oktober 2019 - 14:36 WIB
Para milenial ramai-ramai terjun ke bidang bisnis startup. Potensi yang besar membuat sejumlah kalan...
Ini minuman dan kuliner khas inovasi anak Presiden
Selasa, 22 Oktober 2019 - 15:32 WIB
Tren ragam kuliner mancanegara mulai menjadi santapan sehari-hari hingga gaya hidup masyarakat urban...
Startup asal Jerman ini bernama Kontool, warganet Indonesia geger
Selasa, 03 September 2019 - 17:55 WIB
Jagat maya kembali heboh. Kali ini lantaran kehadiran startup asal Jerman yang dinamai Kontool. Kare...
BAKTI ajak startup e-commerce dan UMKM digital gali potensi daerah 3T
Selasa, 03 September 2019 - 16:14 WIB
Badan Aksesibililitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika me...
Ngampooz, startup besutan anak bangsa untuk segala masalah di kampus
Senin, 26 Agustus 2019 - 09:25 WIB
Satu lagi aplikasi yang hadir untuk menjawab kebutuhan banyak orang. Kali ini aplikasi ini mampu men...
Dapat kucuran Rp71 M, startup Goola milik Gibran siap ekspansi ke Asia Tenggara
Senin, 19 Agustus 2019 - 16:30 WIB
Perusahaan rintisan bidang kuliner Goola, yang memproduksi kreasi minuman tradisional Indonesia, men...
Startup asal Indonesia ini ikuti netpreneur training di markas Alibaba
Selasa, 13 Agustus 2019 - 10:19 WIB
Program ini merupakan kerja sama dengan Kadin Indonesia dan didukung Badan Ekonomi Kreatif (Bekfraf)...
Hai pelaku startup! Ini 6 tips untuk menggaet dana dari investor
Rabu, 17 Juli 2019 - 13:05 WIB
Saat membangun sebuah bisnis, termasuk perusahaan rintisan atau startup, tentu harus memikirkan baga...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV