Jumat, 16 November 2018 | 19:43 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Menhub segera kaji penerapan `panic button` taksi online

Rabu, 17 Oktober 2018 - 21:23 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Dewi Rusiana
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Sumber foto: https://bit.ly/2CMruVC
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Sumber foto: https://bit.ly/2CMruVC

Elshinta.com - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan mengkaji fitur tombol panik atau yang lebih dikenal `panic button` di aplikasi taksi online untuk menjamin keselamatan, baik penumpang maupun pengamudi.

“Belum final, kita lagi menggabungkan antara rekomendasi dari Mahkamah Agung dengan apa yang kita lakukan,” kata Budi di Jakarta, Rabu (17/10), seperti dikutip Antara.

Dia menambahkan hal itu agar sejalan dengan yang direkomenasikan oleh MA. Pasalnya, lanjut dia, banyak poin yang dianulir oleh MA. Oleh karena itu ia berpedoman pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan di mana posisinya adalah di atas Peraturan Menteri.

“Kita akan jalankan dengan undang-undang yang sudah berlaku secara umum itu harus mereka ikuti, tapi juga ada moral tertentu yang harus mereka penuhi,” lanjut dia.

Budi menjelaskan `panic button` berfungsi jika pengemudi maupun penumpang berada dalam kondisi terancam. Dia berharap usulan ini tidak ada lagi penolakan dari pihak manapun karena untuk keselamatan mengingat banyaknya kasus yang terjadi berkaitan dengan taksi daring.

“Panic button ini kan diperlukan, untuk melindungi keselamatan kemanan, masa ditolak. Diskusi dengan aplikator begini mereka kan butuh perlindungan ya butuh juga semacam perlakuan yang dari sisi tarif aplikator itu makanya mereka ingin jangan cuma pengemudi yang diatur tapi kalau bisa aplikator juga diatur,” tandasnya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual SDGs | 16 November 2018 - 19:35 WIB

Perkawinan anak bawa dampak buruk terhadap SDGs

Lingkungan | 16 November 2018 - 19:24 WIB

Hadapi musim penghujan, Pemkab Kudus petakan daerah rawan banjir

Megapolitan | 16 November 2018 - 19:13 WIB

YLKI: KAI setengah hati respon pencopotan iklan rokok di stasiun

Kecelakaan | 16 November 2018 - 18:59 WIB

Tim DVI kembali identifikasi tiga korban Lion Air

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 18:37 WIB

PT KAI siapkan 20 kereta tambahan untuk Natal dan Tahun Baru

Elshinta.com - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan mengkaji fitur tombol panik atau yang lebih dikenal `panic button` di aplikasi taksi online untuk menjamin keselamatan, baik penumpang maupun pengamudi.

“Belum final, kita lagi menggabungkan antara rekomendasi dari Mahkamah Agung dengan apa yang kita lakukan,” kata Budi di Jakarta, Rabu (17/10), seperti dikutip Antara.

Dia menambahkan hal itu agar sejalan dengan yang direkomenasikan oleh MA. Pasalnya, lanjut dia, banyak poin yang dianulir oleh MA. Oleh karena itu ia berpedoman pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan di mana posisinya adalah di atas Peraturan Menteri.

“Kita akan jalankan dengan undang-undang yang sudah berlaku secara umum itu harus mereka ikuti, tapi juga ada moral tertentu yang harus mereka penuhi,” lanjut dia.

Budi menjelaskan `panic button` berfungsi jika pengemudi maupun penumpang berada dalam kondisi terancam. Dia berharap usulan ini tidak ada lagi penolakan dari pihak manapun karena untuk keselamatan mengingat banyaknya kasus yang terjadi berkaitan dengan taksi daring.

“Panic button ini kan diperlukan, untuk melindungi keselamatan kemanan, masa ditolak. Diskusi dengan aplikator begini mereka kan butuh perlindungan ya butuh juga semacam perlakuan yang dari sisi tarif aplikator itu makanya mereka ingin jangan cuma pengemudi yang diatur tapi kalau bisa aplikator juga diatur,” tandasnya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com