Rabu, 14 November 2018 | 19:15 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Atasi dekompresi, RS Polri berikan terapi Hiperbarik ke tim penyelam

Senin, 05 November 2018 - 20:59 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Sigit Kurniawan
Tim penyelam melakukan evakuasi korban Lion Air JT 610. Sumber foto: https://bit.ly/2zp1FXu
Tim penyelam melakukan evakuasi korban Lion Air JT 610. Sumber foto: https://bit.ly/2zp1FXu

Elshinta.com - Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, berikan terapi Hiperbarik kepada para tim penyelam evakuasi yang mengalami dekompresi guna menghindari penyakit akibat perubahanan tekanan pada kedalaman dan atmosfer tertentu itu.

Penanggungjawab pelaksanaan Terapi Hiperbarik AKBP Karjana menjelaskan terapi di RS Polri diadakan demi mendukung kegiatan para penyelam dalam mencari dan mengevakuasi penumpang maupun bangkai pesawat, pasca jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610.

“Terapi oksigen hiperbarik ini aplikasinya untuk penyelamat, bisa dilakukan sebelum yang bersangkutan menjalani penugasan penyelaman dan bisa dilakukan setelah beberapa kali penyelaman,” ujar Karjana di Gedung Sentra Visum dan Medikolegal RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (5/11), sebagaimana dikutip NTMC Polri.

Ia menambahkan, terapi hiperbarik ini dilakukan selama kurang lebih dua jam yang diikuti oleh lima orang ke sebuah ruang udara oksigen bertekanan tinggi (RUBT). Selanjutnya, penyelam yang berada dalam RUBT ini akan dibawa ke dalam tekanan atmosfer tertentu dan dilakukan secara bertahap. Tetapi tekanan atmosfer yang diberikan dalam terapi ini tergantung pada kebutuhan masing-masing penyelam.

“Jadi secara bertahap klien akan dibawa kedalam tekanan di atas satu atmosfer. Jadi tergantung kepentingannya. Kalau menyelam lebih dalam akan disesuaikan lagi. Jadi 30-35 meter kalau di Karawang, jadi nanti tekanan yang diberikan kepada klien bisa lebih dari 14 atm (Atmosfer). Tergantung kebutuhan,”  ungkap Karjana.

Namun, sebelum memulai terapi hiperbarik ini, ia menjelaskan, ada tahapan-tahapan yang perlu dilakukan. Pertama, penyelam perlu melakukan assesment meliputi identitas, riwayat penyakit, riwayat penyelaman serta penerbangan terakhir. Setelah proses assesment selesai, maka akan dilanjutkan dengan pemeriksaan medis umum, pemeriksaan vital sains, pemeriksaan laboratorium sederhana, dan ditambah dengan pemeriksaan penunjang.

“Yang lebih penting pemeriksaan spesialis THT dan Radiologi, yaitu rontgen foto torax. Setelah itu hasil kami analisis apakah yang bersangkutan memenuhi syarat atau tidak. Kalau belum memenuhi syarat kita tunda, misalnya ada gangguan batuk, pilek, kita tunda sampai sembuh. Baru bisa dilakukan terapi oksigen hiperbarik,” tambah Karjana.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Bencana Alam | 14 November 2018 - 18:49 WIB

Masuk musim hujan, BPBD Lumajang siaga bencana

Ekonomi | 14 November 2018 - 18:35 WIB

Rupiah terapresiasi seiring tensi perang dagang mereda

Arestasi | 14 November 2018 - 18:25 WIB

Merasa malu, janda buang bayinya yang dianggap cacat

Megapolitan | 14 November 2018 - 18:16 WIB

15 bangunan liar di bantaran Kali Item ditertibkan

Elshinta.com - Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, berikan terapi Hiperbarik kepada para tim penyelam evakuasi yang mengalami dekompresi guna menghindari penyakit akibat perubahanan tekanan pada kedalaman dan atmosfer tertentu itu.

Penanggungjawab pelaksanaan Terapi Hiperbarik AKBP Karjana menjelaskan terapi di RS Polri diadakan demi mendukung kegiatan para penyelam dalam mencari dan mengevakuasi penumpang maupun bangkai pesawat, pasca jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610.

“Terapi oksigen hiperbarik ini aplikasinya untuk penyelamat, bisa dilakukan sebelum yang bersangkutan menjalani penugasan penyelaman dan bisa dilakukan setelah beberapa kali penyelaman,” ujar Karjana di Gedung Sentra Visum dan Medikolegal RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (5/11), sebagaimana dikutip NTMC Polri.

Ia menambahkan, terapi hiperbarik ini dilakukan selama kurang lebih dua jam yang diikuti oleh lima orang ke sebuah ruang udara oksigen bertekanan tinggi (RUBT). Selanjutnya, penyelam yang berada dalam RUBT ini akan dibawa ke dalam tekanan atmosfer tertentu dan dilakukan secara bertahap. Tetapi tekanan atmosfer yang diberikan dalam terapi ini tergantung pada kebutuhan masing-masing penyelam.

“Jadi secara bertahap klien akan dibawa kedalam tekanan di atas satu atmosfer. Jadi tergantung kepentingannya. Kalau menyelam lebih dalam akan disesuaikan lagi. Jadi 30-35 meter kalau di Karawang, jadi nanti tekanan yang diberikan kepada klien bisa lebih dari 14 atm (Atmosfer). Tergantung kebutuhan,”  ungkap Karjana.

Namun, sebelum memulai terapi hiperbarik ini, ia menjelaskan, ada tahapan-tahapan yang perlu dilakukan. Pertama, penyelam perlu melakukan assesment meliputi identitas, riwayat penyakit, riwayat penyelaman serta penerbangan terakhir. Setelah proses assesment selesai, maka akan dilanjutkan dengan pemeriksaan medis umum, pemeriksaan vital sains, pemeriksaan laboratorium sederhana, dan ditambah dengan pemeriksaan penunjang.

“Yang lebih penting pemeriksaan spesialis THT dan Radiologi, yaitu rontgen foto torax. Setelah itu hasil kami analisis apakah yang bersangkutan memenuhi syarat atau tidak. Kalau belum memenuhi syarat kita tunda, misalnya ada gangguan batuk, pilek, kita tunda sampai sembuh. Baru bisa dilakukan terapi oksigen hiperbarik,” tambah Karjana.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com