Sabtu, 17 November 2018 | 10:35 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Ekonomi

YLKI: Cukai tembakau tinggi upaya lindungi masyarakat

Selasa, 06 November 2018 - 19:27 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2F6Uo4Z
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2F6Uo4Z

Elshinta.com - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan tingginya tarif cukai tembakau adalah salah satu upaya untuk melindungi masyarkat Indonesia dari konsumsi rokok.

YLKI kecewa dengan keputusan pemerintah untuk menunda menaikkan cukai rokok pada 2019, padahal menurut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau menyebutkan cukai hasil tembakau adalah 57 persen.

"Cukai itu prinsipnya pengendalian konsumen untuk tidak mengonsumsi barang tersebut. Saat ini cukai rokok di Indonesia tidak sampai 40 persen, belum sesuai dengan peraturan yang pemeritah buat yaitu 57 persen," kata Tulus saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (6/11), dihimpun kantor berita Antara.

Dia mengatakan biaya cukai dibebankan kepada pembeli, bukan dibebankan kepada industri rokok. Sehingga, apabila tarif cukai tembakau dinaikkan maka industri rokok tidak akan merugi.

Baca juga: YLKI minta Lion Air beri kompensasi pada korban

Dia menjelaskan, naiknya tarif cukai tembakau juga tidak berdampak dengan pengurangan tenaga kerja di tempat industri rokok. "Yang menyebabkan berkurangnya tenaga kerja adalah mekanisasi, satu mesin saja bisa menggantikan 900 pekerja di pabrik rokok," pungkasnya.

Dengan diundurnya tarif cukai tembakau, menurut dia, maka negara telah abai dengan kesehatan masyarakat Indonesia. "Pemerintah telah abai terhadap kesehatan publik dengan mengutamakan kepentingan jangka pendek. Padahal rokok menjadi salah satu penyebab terjadi penyakit tidak menular seperti stroke, jantung koroner dan lainnya," ujarnya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 10:25 WIB

Pemerintah fokus bangun SPBU BBM satu harga

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 10:12 WIB

Jadi target hoaks, Ridwan Kamil angkat bicara

Kriminalitas | 17 November 2018 - 09:45 WIB

Komplotan penipuan `Hijacking` dibekuk Siber Bareskrim Polri

Kriminalitas | 17 November 2018 - 09:35 WIB

Seorang kakek keji perkosa siswi SMP hingga hamil

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 09:25 WIB

Harimau yang terjebak di pasar Riau terluka akibat terjerat

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 09:15 WIB

Taspen berikan perlindungan lengkap bagi ASN

Elshinta.com - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan tingginya tarif cukai tembakau adalah salah satu upaya untuk melindungi masyarkat Indonesia dari konsumsi rokok.

YLKI kecewa dengan keputusan pemerintah untuk menunda menaikkan cukai rokok pada 2019, padahal menurut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau menyebutkan cukai hasil tembakau adalah 57 persen.

"Cukai itu prinsipnya pengendalian konsumen untuk tidak mengonsumsi barang tersebut. Saat ini cukai rokok di Indonesia tidak sampai 40 persen, belum sesuai dengan peraturan yang pemeritah buat yaitu 57 persen," kata Tulus saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (6/11), dihimpun kantor berita Antara.

Dia mengatakan biaya cukai dibebankan kepada pembeli, bukan dibebankan kepada industri rokok. Sehingga, apabila tarif cukai tembakau dinaikkan maka industri rokok tidak akan merugi.

Baca juga: YLKI minta Lion Air beri kompensasi pada korban

Dia menjelaskan, naiknya tarif cukai tembakau juga tidak berdampak dengan pengurangan tenaga kerja di tempat industri rokok. "Yang menyebabkan berkurangnya tenaga kerja adalah mekanisasi, satu mesin saja bisa menggantikan 900 pekerja di pabrik rokok," pungkasnya.

Dengan diundurnya tarif cukai tembakau, menurut dia, maka negara telah abai dengan kesehatan masyarakat Indonesia. "Pemerintah telah abai terhadap kesehatan publik dengan mengutamakan kepentingan jangka pendek. Padahal rokok menjadi salah satu penyebab terjadi penyakit tidak menular seperti stroke, jantung koroner dan lainnya," ujarnya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Sabtu, 17 November 2018 - 10:25 WIB

Pemerintah fokus bangun SPBU BBM satu harga

Sabtu, 17 November 2018 - 10:12 WIB

Jadi target hoaks, Ridwan Kamil angkat bicara

Sabtu, 17 November 2018 - 09:15 WIB

Taspen berikan perlindungan lengkap bagi ASN

Sabtu, 17 November 2018 - 08:39 WIB

Presiden menuju Papua Nugini untuk hadiri KTT APEC

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com