Kamis, 15 November 2018 | 12:12 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Penderita HIV/AIDS di Ternate capai 393 orang

Kamis, 08 November 2018 - 12:42 WIB    |    Penulis : Rizky Sandra    |    Editor : Dewi Rusiana
Dinkes kantongi 393 orang terindikasi HIV Aids di Kota Ternate - Indotimur. Sumber foto: https://bit.ly/2Qsa2ca
Dinkes kantongi 393 orang terindikasi HIV Aids di Kota Ternate - Indotimur. Sumber foto: https://bit.ly/2Qsa2ca

Elshinta.com - Dinas Kesehatan Kota Ternate, Maluku Utara (Malut) menyebutkan sampai saat ini terindikasi ada 393 orang warga Kota Ternate positif terkena HIV/AIDS.

"Terdata 393 orang yang sudah positif mengalami HIV dan populasi yang lebih besar itu terdapat di laki-laki dibandingkan perempuan, namun pepulasi terbesar itu ada di Ibu Rumah Tangga," kata Kadis Kesehatan Kota Ternate, Fathiah Summa di Ternate, Kamis (8/11).

Menurutnya, tingginya penderita HIV/AIDS ini dikarenakan terjadinya penukaran lewat cairan tubuh, darah, sperma, cairan vagina dan ASI.

Ia mengatakan, kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu rumah tangga yang hamil menjadi bukti bahwa ada laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan wanita pekerja malam.

Artinya sudah terjadi penyebaran HIV/AIDS di Kota Ternate melalui laki-laki yang menularkan HIV ke wanita pekerja malam dan laki-laki yang tertular HIV dari wanita pekerja malam.

"Penyebaran HIV dari laki-laki pengidap HIV/AIDS ke `wanita pekerja malam` dan dari wanita pekerja malam ke laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan wanita pekerja malam tidak bisa ditanggulangi karena transaksi seks terjadi sembarang waktu dan di sembarang tempat," katanya.

Dalam hal ini, kata Fathiah, wanita pekerja malam itu dikenal sebagai pekerja seks komersial (PSK) tidak langsung karena mereka tidak kasat mata dan ketika melakukan transaksi seks pun tidak bisa diketahui dengan pasti kapan dan dimana.

Menurut dia, memang ada yang dilakukan di tempat-tempat tertentu, seperti panti pijat plus-plus, tapi ini pun terselubung sehingga tidak bisa dilakukan intervensi.

"Apalagi, praktek wanita pekerja malam dalam melakukan transaksi seks tidak dilokalisir, maka langkah penanggulangan berupa memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan wanita pekerja malam tidak bisa dilakukan, maka, insiden infeksi HIV baru pun terus terjadi," katanya, demikian Antara.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Timnas Indonesia | 15 November 2018 - 11:55 WIB

Evan Dimas pastikan tak ada masalah laga di Thailand

Asia Pasific | 15 November 2018 - 11:42 WIB

Presiden: Kerja sama maritim kunci utama kemitraan ASEAN-India

Pemasaran | 15 November 2018 - 11:30 WIB

Beberapa strategi pemasaran startup dengan budget yang terbatas

Bencana Alam | 15 November 2018 - 11:19 WIB

Gempa berkekuatan M 5 guncang Mamasa, Sulawesi Barat

Asia Pasific | 15 November 2018 - 11:08 WIB

Presiden Korsel sambut baik usulan Indonesia terkait Korut

Ekonomi | 15 November 2018 - 10:59 WIB

Rupiah terapresiasi sentimen positif dalam negeri

Elshinta.com - Dinas Kesehatan Kota Ternate, Maluku Utara (Malut) menyebutkan sampai saat ini terindikasi ada 393 orang warga Kota Ternate positif terkena HIV/AIDS.

"Terdata 393 orang yang sudah positif mengalami HIV dan populasi yang lebih besar itu terdapat di laki-laki dibandingkan perempuan, namun pepulasi terbesar itu ada di Ibu Rumah Tangga," kata Kadis Kesehatan Kota Ternate, Fathiah Summa di Ternate, Kamis (8/11).

Menurutnya, tingginya penderita HIV/AIDS ini dikarenakan terjadinya penukaran lewat cairan tubuh, darah, sperma, cairan vagina dan ASI.

Ia mengatakan, kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu rumah tangga yang hamil menjadi bukti bahwa ada laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan wanita pekerja malam.

Artinya sudah terjadi penyebaran HIV/AIDS di Kota Ternate melalui laki-laki yang menularkan HIV ke wanita pekerja malam dan laki-laki yang tertular HIV dari wanita pekerja malam.

"Penyebaran HIV dari laki-laki pengidap HIV/AIDS ke `wanita pekerja malam` dan dari wanita pekerja malam ke laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan wanita pekerja malam tidak bisa ditanggulangi karena transaksi seks terjadi sembarang waktu dan di sembarang tempat," katanya.

Dalam hal ini, kata Fathiah, wanita pekerja malam itu dikenal sebagai pekerja seks komersial (PSK) tidak langsung karena mereka tidak kasat mata dan ketika melakukan transaksi seks pun tidak bisa diketahui dengan pasti kapan dan dimana.

Menurut dia, memang ada yang dilakukan di tempat-tempat tertentu, seperti panti pijat plus-plus, tapi ini pun terselubung sehingga tidak bisa dilakukan intervensi.

"Apalagi, praktek wanita pekerja malam dalam melakukan transaksi seks tidak dilokalisir, maka langkah penanggulangan berupa memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan wanita pekerja malam tidak bisa dilakukan, maka, insiden infeksi HIV baru pun terus terjadi," katanya, demikian Antara.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 15 November 2018 - 10:59 WIB

Rupiah terapresiasi sentimen positif dalam negeri

Kamis, 15 November 2018 - 10:48 WIB

IHSG menguat seiring terjaganya fluktuasi rupiah

Kamis, 15 November 2018 - 09:35 WIB

JPU: Reza Bukan permasalahkan penangkapannya

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com