Rabu, 14 November 2018 | 19:17 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

BNNP Jabar matikan peredaran narkoba lewat program Desa Bersinar

Kamis, 08 November 2018 - 13:36 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Kepala BNNP Jabar Brigjen Pol. Drs.  Sufyan Syarif, MH. Foto: Dudy Supriyadi/Radio Elshinta
Kepala BNNP Jabar Brigjen Pol. Drs. Sufyan Syarif, MH. Foto: Dudy Supriyadi/Radio Elshinta

Elshinta.com - Untuk mematikan peredaran narkoba, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat, terapkan program Desa Bersinar (bersih dari narkoba). 

Demikian disampaikan Kepala BNNP Jabar Brigjen Pol. Drs. Sufyan Syarif, MH pada acara Peran Media dalam Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4 GN), di Jalan Malabar Bandung, Kamis (8/11).

Desa Bersinar menurut Sufyan akan melibatkan para Kades, Babinsa, Babinkamtibmas dan Puskesmas, sampai melibatkan para ketua RT dan RW, masuk ke rumah-rumah, tempat kos, bahkan dilakukan di sekolah dan kampus-kampus oleh satgas anti narkoba.

"Saat ini peredaran sudah banyak di desa-desa sehingga kita kejar ke desa dan kelurahan yang sampai dua bulan terakhir sudah ada tujuh kota Kabupaten yang sudah kita lakukan," ujarnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Dudy Supryadi.

Desa dan daerah tersebut diantaranya Bogor, Karawang, Sumedang, Cianjur, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung melalui Inpres No. 6/2014.

Upaya-upaya tersebut dilakukan untuk menyelamatkan 57 persen remaja Indonesia yang 0dikhawatirkan masih coba-coba menggunakan narkoba.

Lanjut Sufyan, barang haram ini sangat berbahaya bagi generasi dan masa depan bangsa Indonesia. "Kerugian belanja narkotika setiap tahunnya di Indonesia mencapai Rp84 triliun, bukan hanya masalah materil tapi jumlah korban jiwa meninggal sampai 30 orang perhari dan saat ini menyasar para remaja, " jelasnya.

Di Indonesia ada 68 jenis narkoba yang beredar,sehingga perlawanannya harus dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia secara masif. "Antara pencegahan, pemberantasan dan rehabilitasi harus dilakukan secara komprehensif, karena penghuni lapas itu 70-80 persen adalah bandar dan pengedar narkoba, " tegas Sufyan. 

Terkait rehabilitasi, BNNP Jabar membentuk agen pemulihan terdiri dari Babinsa, Babinkamtibmas, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Bidan Desa dan Karang Taruna dengan menggelar pemantauan pemulihan klien, mengajak klien dalam kegiatan positif, destigmatisasi pecandu dan memberikan sistem informasi rehabilitasi, pasca rehabilitasi berkelanjutan. 

"Operasi narkoba dilakukan bisa secara shock terapi, operasi khusus atau juga operasi simpati sebagai upaya sosialisasi pencegahan," kata Sufyan. 

Sufyan juga mengajak awak media melakukan sosialisasi bahaya narkoba secara masif, sehingga mampu menyelamatkan generasi depan bangsa Indonesia. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Bencana Alam | 14 November 2018 - 18:49 WIB

Masuk musim hujan, BPBD Lumajang siaga bencana

Ekonomi | 14 November 2018 - 18:35 WIB

Rupiah terapresiasi seiring tensi perang dagang mereda

Arestasi | 14 November 2018 - 18:25 WIB

Merasa malu, janda buang bayinya yang dianggap cacat

Megapolitan | 14 November 2018 - 18:16 WIB

15 bangunan liar di bantaran Kali Item ditertibkan

Elshinta.com - Untuk mematikan peredaran narkoba, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat, terapkan program Desa Bersinar (bersih dari narkoba). 

Demikian disampaikan Kepala BNNP Jabar Brigjen Pol. Drs. Sufyan Syarif, MH pada acara Peran Media dalam Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4 GN), di Jalan Malabar Bandung, Kamis (8/11).

Desa Bersinar menurut Sufyan akan melibatkan para Kades, Babinsa, Babinkamtibmas dan Puskesmas, sampai melibatkan para ketua RT dan RW, masuk ke rumah-rumah, tempat kos, bahkan dilakukan di sekolah dan kampus-kampus oleh satgas anti narkoba.

"Saat ini peredaran sudah banyak di desa-desa sehingga kita kejar ke desa dan kelurahan yang sampai dua bulan terakhir sudah ada tujuh kota Kabupaten yang sudah kita lakukan," ujarnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Dudy Supryadi.

Desa dan daerah tersebut diantaranya Bogor, Karawang, Sumedang, Cianjur, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung melalui Inpres No. 6/2014.

Upaya-upaya tersebut dilakukan untuk menyelamatkan 57 persen remaja Indonesia yang 0dikhawatirkan masih coba-coba menggunakan narkoba.

Lanjut Sufyan, barang haram ini sangat berbahaya bagi generasi dan masa depan bangsa Indonesia. "Kerugian belanja narkotika setiap tahunnya di Indonesia mencapai Rp84 triliun, bukan hanya masalah materil tapi jumlah korban jiwa meninggal sampai 30 orang perhari dan saat ini menyasar para remaja, " jelasnya.

Di Indonesia ada 68 jenis narkoba yang beredar,sehingga perlawanannya harus dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia secara masif. "Antara pencegahan, pemberantasan dan rehabilitasi harus dilakukan secara komprehensif, karena penghuni lapas itu 70-80 persen adalah bandar dan pengedar narkoba, " tegas Sufyan. 

Terkait rehabilitasi, BNNP Jabar membentuk agen pemulihan terdiri dari Babinsa, Babinkamtibmas, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Bidan Desa dan Karang Taruna dengan menggelar pemantauan pemulihan klien, mengajak klien dalam kegiatan positif, destigmatisasi pecandu dan memberikan sistem informasi rehabilitasi, pasca rehabilitasi berkelanjutan. 

"Operasi narkoba dilakukan bisa secara shock terapi, operasi khusus atau juga operasi simpati sebagai upaya sosialisasi pencegahan," kata Sufyan. 

Sufyan juga mengajak awak media melakukan sosialisasi bahaya narkoba secara masif, sehingga mampu menyelamatkan generasi depan bangsa Indonesia. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com