Jumat, 16 November 2018 | 17:41 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Megapolitan

Bulog curigai indikasi pedagang oplos beras medium

Kamis, 08 November 2018 - 16:37 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Sigit Kurniawan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso meninjau Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta, Kamis (8/11). Sumber foto: https://bit.ly/2RGAtei
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso meninjau Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta, Kamis (8/11). Sumber foto: https://bit.ly/2RGAtei

Elshinta.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mencurigai ada indikasi oknum pedagang yang mengubah atau mengoplos beras medium menjadi premium untuk meraup lebih banyak keuntungan.

Usai melakukan tinjauan bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, Kamis (8/11), Buwas mengungkapkan bahwa distribusi atau operasi pasar dengan menggelontorkan beras medium sudah dilakukan, namun harga beras medium mengalami tren kenaikan menjadi Rp9.900 sampai Rp10.500 per kilogram.

"Kalau saya dari penyuplai, justru ada kecurigaan ini ada perubahan beras medium menjadi premium. Bisa dilihat hari ini stok terbanyak mungkin 80 persen medium," kata Buwas, seperti dikutip Antara.

Baca juga: Tinjau dua pasar, Mentan-Bulog pastikan pasokan beras aman

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi menyebutkan saat ini stok beras di PIBC sebanyak 50 ribu ton, atau melebihi batas stok normal sebesar 20-30 ribu ton untuk memenuhi konsumsi di Jakarta. Namun, porsi jumlah beras di PIBC didominasi 80 persen oleh beras premium. 

"Hanya saja, beras medium ini lebih cenderung ditingkatkan ke premium karena marginnya tinggi. Ini semacam fenomena baru, bukan masalah produksi," kata Arief.

Ia menambahkan bahwa saat ini beras premium memiliki kadar broken atau butir patah sebesar 15 persen, berbeda dengan sebelumnya yang hanya 5 persen.

Oleh karena itu, Bulog pun meminta Satgas Pangan kembali meninjau ke lapangan untuk mengetahui indikasi perubahan beras medium ke premium yang berdampak pada sulitnya masyarakat mendapatkan beras dengan harga murah.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual IPTEK | 16 November 2018 - 17:38 WIB

Facebook segera bentuk badan independen konten

Megapolitan | 16 November 2018 - 17:25 WIB

Kapolda: Tujuh ribu personel gabungan siaga banjir di Jakarta

Hukum | 16 November 2018 - 17:13 WIB

Polda Jabar sita Rp1,9 miliar korupsi dana hibah

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 16:57 WIB

Idrus Marham pamer buku sebelum diperiksa sebagai tersangka

Ekonomi | 16 November 2018 - 16:47 WIB

Kemenkeu segera laksanakan Paket Kebijakan Ekonomi XVI

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 16:37 WIB

Presiden ajak masyarakat Merauke jaga persatuan

Elshinta.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mencurigai ada indikasi oknum pedagang yang mengubah atau mengoplos beras medium menjadi premium untuk meraup lebih banyak keuntungan.

Usai melakukan tinjauan bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, Kamis (8/11), Buwas mengungkapkan bahwa distribusi atau operasi pasar dengan menggelontorkan beras medium sudah dilakukan, namun harga beras medium mengalami tren kenaikan menjadi Rp9.900 sampai Rp10.500 per kilogram.

"Kalau saya dari penyuplai, justru ada kecurigaan ini ada perubahan beras medium menjadi premium. Bisa dilihat hari ini stok terbanyak mungkin 80 persen medium," kata Buwas, seperti dikutip Antara.

Baca juga: Tinjau dua pasar, Mentan-Bulog pastikan pasokan beras aman

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi menyebutkan saat ini stok beras di PIBC sebanyak 50 ribu ton, atau melebihi batas stok normal sebesar 20-30 ribu ton untuk memenuhi konsumsi di Jakarta. Namun, porsi jumlah beras di PIBC didominasi 80 persen oleh beras premium. 

"Hanya saja, beras medium ini lebih cenderung ditingkatkan ke premium karena marginnya tinggi. Ini semacam fenomena baru, bukan masalah produksi," kata Arief.

Ia menambahkan bahwa saat ini beras premium memiliki kadar broken atau butir patah sebesar 15 persen, berbeda dengan sebelumnya yang hanya 5 persen.

Oleh karena itu, Bulog pun meminta Satgas Pangan kembali meninjau ke lapangan untuk mengetahui indikasi perubahan beras medium ke premium yang berdampak pada sulitnya masyarakat mendapatkan beras dengan harga murah.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com