Sabtu, 17 November 2018 | 10:34 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Ratusan petani lereng kaki Gunung Wilis buat pupuk organik dari limbah kotoran sapi

Kamis, 08 November 2018 - 17:59 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Istimewa, Foto: Fendi Lesmana/Radio Elshinta
Istimewa, Foto: Fendi Lesmana/Radio Elshinta

Elshinta.com - Ratusan petani yang tinggal di lereng kaki Gunung Wilis Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur memiliki kealihan dalam membuat pupuk organik dari limbah ternak yang difermentasi. Keahlihan membuat pupuk organik ini didapat oleh para petani setelah mendapat edukasi pelatihan dari Bank Indonesia Kediri Jawa Timur. 

Menurut Joko Raharto selaku kepala Bank Indonesia cabang  Kediri, selama ini ia melihat potensi untuk membuat pupuk organik dari limbah ternak cukup besar, karena di wilayah Kecamatan Sendang Tulunganggung banyak warga yang memiliki hewan ternak sapi.

Ia mengetahui selama ini kotoran hewan ternak tersebut selalu  dibuang oleh warga ke sungai sehingga berdampak pada penurunan  kualitas kejernihan air. "Kami melihat disini ada potensi sapi, selama ini kotoranya dibuang ke sungai. Padahal itu mas hitam yang bisa difermentasi menjadi pupuk. Sehingga kami Edukasi," terang Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pengendali Inflansi Daerah Kota Kediri ini Kamis (8/11), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana.

Sebelum memiliki keterampilan mengelolah pupuk organik, selama ini para petani selalu mengandalkan pembelian pupuk kimia. Bagi para petani yang tempat tinggalnya berada di atas terpaksa harus turun ke bawah yang lokasinya cukup jauh untuk membeli pupuk. "Selama ini petani justru mengambil pupuk dari bawah, sekarang dengan kita latih bisa mengolah pupuk itu untuk budidaya pertanian mereka," ujarnya. 

Terpisah, Kristian Yuwono selaku ketua KUB Omah Kopi mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan yang diberikan Bank Indonesia Kediri. Melalui keterampilan yang telah dimiliki, petani bisa menekan biaya operasional selama kegiatan proses tanam, dan tidak lagi mengandalkan pembelian pupuk kimia. 

Kotoran sapi itu didapat secara cuma cuma  dari para peternak. Petani cuman hanya membeli obat pengurai bakteri seharga Rp40 ribu. " itu kan limbahnya Gratis to, cuman membeli obat pengurai mematikan bakteri harganya 1 botol 40 ribu," ujarnya. 

Kristian Yuwono menilai, pembuatan pupuk organik dari kotoran hewan melalui proses fermentasi sangat mudah dan bisa  dilakukan oleh siapa pun. "Pertama dari kotoran limbah sapi itu dikeringkan, kadar airnya sekitar 12 persen nanti dikasih Mikrobakteri yang mempercepat penguraian. Untuk tanaman kopi sangat bagus, prosesnya hanya satu malam," urainya. 

Selain pelatihan pembuatan pupuk, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri bersama KUB Omah Kopi, Petani, Pokdarwis dan Perum Perhutani juga melaksanakan tanam kopi Arabika jenis Komasti sebanyak 25 ribu batang. 25 ribu tanaman kopi ini ditanam diatas lahan seluas 10 hektar dengan melibatkan 100 petani. Kegiatan ini sekaligus mengkampanyekan gerakan peduli lingkungan dan pengembangan pariwisata. Penanaman 25 ribu bibit kopi Arabika dilakukan di lereng kaki Gunung Wilis di Desa Sendang dan Pager Wojo Tulunganggung.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 10:25 WIB

Pemerintah fokus bangun SPBU BBM satu harga

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 10:12 WIB

Jadi target hoaks, Ridwan Kamil angkat bicara

Kriminalitas | 17 November 2018 - 09:45 WIB

Komplotan penipuan `Hijacking` dibekuk Siber Bareskrim Polri

Kriminalitas | 17 November 2018 - 09:35 WIB

Seorang kakek keji perkosa siswi SMP hingga hamil

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 09:25 WIB

Harimau yang terjebak di pasar Riau terluka akibat terjerat

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 09:15 WIB

Taspen berikan perlindungan lengkap bagi ASN

Elshinta.com - Ratusan petani yang tinggal di lereng kaki Gunung Wilis Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur memiliki kealihan dalam membuat pupuk organik dari limbah ternak yang difermentasi. Keahlihan membuat pupuk organik ini didapat oleh para petani setelah mendapat edukasi pelatihan dari Bank Indonesia Kediri Jawa Timur. 

Menurut Joko Raharto selaku kepala Bank Indonesia cabang  Kediri, selama ini ia melihat potensi untuk membuat pupuk organik dari limbah ternak cukup besar, karena di wilayah Kecamatan Sendang Tulunganggung banyak warga yang memiliki hewan ternak sapi.

Ia mengetahui selama ini kotoran hewan ternak tersebut selalu  dibuang oleh warga ke sungai sehingga berdampak pada penurunan  kualitas kejernihan air. "Kami melihat disini ada potensi sapi, selama ini kotoranya dibuang ke sungai. Padahal itu mas hitam yang bisa difermentasi menjadi pupuk. Sehingga kami Edukasi," terang Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pengendali Inflansi Daerah Kota Kediri ini Kamis (8/11), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Fendi Lesmana.

Sebelum memiliki keterampilan mengelolah pupuk organik, selama ini para petani selalu mengandalkan pembelian pupuk kimia. Bagi para petani yang tempat tinggalnya berada di atas terpaksa harus turun ke bawah yang lokasinya cukup jauh untuk membeli pupuk. "Selama ini petani justru mengambil pupuk dari bawah, sekarang dengan kita latih bisa mengolah pupuk itu untuk budidaya pertanian mereka," ujarnya. 

Terpisah, Kristian Yuwono selaku ketua KUB Omah Kopi mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan yang diberikan Bank Indonesia Kediri. Melalui keterampilan yang telah dimiliki, petani bisa menekan biaya operasional selama kegiatan proses tanam, dan tidak lagi mengandalkan pembelian pupuk kimia. 

Kotoran sapi itu didapat secara cuma cuma  dari para peternak. Petani cuman hanya membeli obat pengurai bakteri seharga Rp40 ribu. " itu kan limbahnya Gratis to, cuman membeli obat pengurai mematikan bakteri harganya 1 botol 40 ribu," ujarnya. 

Kristian Yuwono menilai, pembuatan pupuk organik dari kotoran hewan melalui proses fermentasi sangat mudah dan bisa  dilakukan oleh siapa pun. "Pertama dari kotoran limbah sapi itu dikeringkan, kadar airnya sekitar 12 persen nanti dikasih Mikrobakteri yang mempercepat penguraian. Untuk tanaman kopi sangat bagus, prosesnya hanya satu malam," urainya. 

Selain pelatihan pembuatan pupuk, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri bersama KUB Omah Kopi, Petani, Pokdarwis dan Perum Perhutani juga melaksanakan tanam kopi Arabika jenis Komasti sebanyak 25 ribu batang. 25 ribu tanaman kopi ini ditanam diatas lahan seluas 10 hektar dengan melibatkan 100 petani. Kegiatan ini sekaligus mengkampanyekan gerakan peduli lingkungan dan pengembangan pariwisata. Penanaman 25 ribu bibit kopi Arabika dilakukan di lereng kaki Gunung Wilis di Desa Sendang dan Pager Wojo Tulunganggung.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Sabtu, 17 November 2018 - 10:25 WIB

Pemerintah fokus bangun SPBU BBM satu harga

Sabtu, 17 November 2018 - 10:12 WIB

Jadi target hoaks, Ridwan Kamil angkat bicara

Sabtu, 17 November 2018 - 09:15 WIB

Taspen berikan perlindungan lengkap bagi ASN

Sabtu, 17 November 2018 - 08:39 WIB

Presiden menuju Papua Nugini untuk hadiri KTT APEC

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com