Jumat, 16 November 2018 | 17:36 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Menaker: tingkat pengangguran terus turun

Kamis, 08 November 2018 - 21:33 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Dokumen - Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri. Foto: Radio Elshinta
Dokumen - Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri. Foto: Radio Elshinta

Elshinta.com - Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri mengatakan tingkat pengangguran terbuka semakin turun dari tahun ke tahun, bahkan pada 2018, tingkat pengangguran terendah selama masa reformasi.

"Jumlah pengangguran terbuka pada 2015 sebanyak 6,18 persen, kemudian 2016 sebesar 5,61 persen. Selanjutnya pada 2017, sebanyak 5,5 persen dan ada 2018 sebanyak 5,34 persen," ujar Menteri Hanif dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/11).

Begitu juga untuk pengangguran lulusan SMK, memang paling tinggi yakni 11,24 persen pada 2018. Namun dari tahun ke tahun, persentase itu mengalami penurunan. "Lulusan SMK yang menganggur pada 2015 sebanyak 12,65 persen, dan pada 2018 turun menjadi 11,24 persen," tambah dia.

Menurut Menaker, penyebab banyaknya lulusan SMK yang menganggur disebabkan tidak semua SMK memiliki kualitas yang sama dan mampu menghasilkan lulusan kompetensi yang memadai dan keahlian lulusan SMK tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

Sebanyak lima lulusan SMK yang memiliki pengangguran tertinggi yakni teknik komputer dan informatika (24,53 persen), teknik otomatif (17,94 persen), teknik perminyakan (14,67 persen), tekknik elektronika (13,27 persen), dan teknik furnitur (12,88 persen).

Hanif mengatakan penurunan pengangguran harus dilakukan dari hulu ke hilir, yakni dari sisi pasokan harus dilaksanakan pelatihan keahlian, memperkuat mekanisme penempatan, pembinaan hubungan industrial dan pengawas ketenagakerjaan, dan penyederhanaan perizinan ketenagakerjaan.

"Upaya lainnya yang kami lakukan adalah memperkuat pendidikan vokasi. Jika dulu, yang bisa mengakses Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) hanya lulusan SMA sederajat, maka sekarang semua bisa mendapatkan pelatihan di BLKI," jelas dia lagi, seperti dikutip Antara.

Selain itu pihaknya berupaya meningkatkan jumlah tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja melalui program pemagangan. "Pada tahun ini, kami melakukan pemagangan pada 144.000 orang. Tahun depan, kami targetkan bisa 400.000 orang," cetus Hanif.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Megapolitan | 16 November 2018 - 17:25 WIB

Kapolda: Tujuh ribu personel gabungan siaga banjir di Jakarta

Hukum | 16 November 2018 - 17:13 WIB

Polda Jabar sita Rp1,9 miliar korupsi dana hibah

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 16:57 WIB

Idrus Marham pamer buku sebelum diperiksa sebagai tersangka

Ekonomi | 16 November 2018 - 16:47 WIB

Kemenkeu segera laksanakan Paket Kebijakan Ekonomi XVI

Aktual Dalam Negeri | 16 November 2018 - 16:37 WIB

Presiden ajak masyarakat Merauke jaga persatuan

Megapolitan | 16 November 2018 - 16:27 WIB

Sudinhub Jakpus tuntaskan titik macet pada 2019

Elshinta.com - Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri mengatakan tingkat pengangguran terbuka semakin turun dari tahun ke tahun, bahkan pada 2018, tingkat pengangguran terendah selama masa reformasi.

"Jumlah pengangguran terbuka pada 2015 sebanyak 6,18 persen, kemudian 2016 sebesar 5,61 persen. Selanjutnya pada 2017, sebanyak 5,5 persen dan ada 2018 sebanyak 5,34 persen," ujar Menteri Hanif dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/11).

Begitu juga untuk pengangguran lulusan SMK, memang paling tinggi yakni 11,24 persen pada 2018. Namun dari tahun ke tahun, persentase itu mengalami penurunan. "Lulusan SMK yang menganggur pada 2015 sebanyak 12,65 persen, dan pada 2018 turun menjadi 11,24 persen," tambah dia.

Menurut Menaker, penyebab banyaknya lulusan SMK yang menganggur disebabkan tidak semua SMK memiliki kualitas yang sama dan mampu menghasilkan lulusan kompetensi yang memadai dan keahlian lulusan SMK tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

Sebanyak lima lulusan SMK yang memiliki pengangguran tertinggi yakni teknik komputer dan informatika (24,53 persen), teknik otomatif (17,94 persen), teknik perminyakan (14,67 persen), tekknik elektronika (13,27 persen), dan teknik furnitur (12,88 persen).

Hanif mengatakan penurunan pengangguran harus dilakukan dari hulu ke hilir, yakni dari sisi pasokan harus dilaksanakan pelatihan keahlian, memperkuat mekanisme penempatan, pembinaan hubungan industrial dan pengawas ketenagakerjaan, dan penyederhanaan perizinan ketenagakerjaan.

"Upaya lainnya yang kami lakukan adalah memperkuat pendidikan vokasi. Jika dulu, yang bisa mengakses Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) hanya lulusan SMA sederajat, maka sekarang semua bisa mendapatkan pelatihan di BLKI," jelas dia lagi, seperti dikutip Antara.

Selain itu pihaknya berupaya meningkatkan jumlah tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja melalui program pemagangan. "Pada tahun ini, kami melakukan pemagangan pada 144.000 orang. Tahun depan, kami targetkan bisa 400.000 orang," cetus Hanif.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com