Jumat, 16 November 2018 | 11:23 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Gaya Hidup / Kesehatan

IRT diimbau hindari penggunaan zat berbahaya pada makanan

Jumat, 09 November 2018 - 08:47 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Sumber foto: https://bit.ly/2JPJ3EX
Sumber foto: https://bit.ly/2JPJ3EX

Elshinta.com - Para pemilik industri rumah tangga (IRT) diimbau untuk menghindari penggunaan zat berbahaya pada adonan makanan, karena akan berdampak buruk bagi kesehatan konsumen.

Hal itu seperti disampaikan Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Sumatera Barat, Martin Suhendri di Lubukbasung, Kabupaten Agam, Sumbar, Kamis (8/11).

"Konsumen yang mengonsumsi makanan mengandung zat berbahaya seperti boraks, formalin, pewarna, beberapa tahun setelahnya akan mengidap penyakit kanker yang bisa berujung pada kematian," kata dia, dikutip Antara, pada sosialisasi pemberdayaan masyarakat melalui komunikasi, informasi dan edukasi yang digelar di Nagari Duo Koto, Kabupaten Agam yang diikuti 200 orang warga.

Ia meyebutkan, dari hasil pengawasan pada sejumlah kabupaten dan kota di Sumbar, BBPOM masih saja menemukan makanan siap saji produksi industri rumah tangga yang mengandung zat berbahaya tersebut.

Baca juga: BPOM sosialisasi pencegahan kejahatan obat dan makanan

Meskipun sudah sering disosialisasikan, dan pengawasan kepada pedagang makanan juga ditingkatkan, tetap saja masih ditemukan pelanggaran. Dalam hal ini, kata dia, sangat dituntut kesadaran pemilik IRT, termasuk masyarakat agar cerdas dalam berbelanja dengan mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung zat berbahaya.

Martin Suhendri mengatakan, ciri-ciri makanan yang mengandung zat berbahaya seperti kenyal, tidak dihinggapi lalat, dan lainnya.
  
Sementara itu Kepala Badan Sub Direktorat Ekspor Impor dan Iklan Pangan Badan POM, Neni Yuliza menambahkan, masyarakat harus mengenal makanan dan obat-obatan yang mengandung zat berbahaya. Masyarakat harus pintar memilih makanan yang akan dibeli, jika masyarakat sudah cerdas tidak akan mau membeli olahan makanan yang mengandung zat berbahaya itu.

"Jika tidak ada konsumen yang beli, maka pemilik industri rumah tangga tidak akan memproduksinya lagi," katanya. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Hukum | 16 November 2018 - 11:20 WIB

KPK panggil kepala dinas Pemprov Kalteng

Amerika | 16 November 2018 - 11:11 WIB

AS hukum 17 warga Saudi terkait pembunuhan Khashoggi

Kecantikan | 16 November 2018 - 10:44 WIB

Vanesha Prescilla senang eksperimen makeup

Aktual Sepakbola | 16 November 2018 - 10:35 WIB

Bosnia promosi ke strata tertinggi Nations League

Elshinta.com - Para pemilik industri rumah tangga (IRT) diimbau untuk menghindari penggunaan zat berbahaya pada adonan makanan, karena akan berdampak buruk bagi kesehatan konsumen.

Hal itu seperti disampaikan Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Sumatera Barat, Martin Suhendri di Lubukbasung, Kabupaten Agam, Sumbar, Kamis (8/11).

"Konsumen yang mengonsumsi makanan mengandung zat berbahaya seperti boraks, formalin, pewarna, beberapa tahun setelahnya akan mengidap penyakit kanker yang bisa berujung pada kematian," kata dia, dikutip Antara, pada sosialisasi pemberdayaan masyarakat melalui komunikasi, informasi dan edukasi yang digelar di Nagari Duo Koto, Kabupaten Agam yang diikuti 200 orang warga.

Ia meyebutkan, dari hasil pengawasan pada sejumlah kabupaten dan kota di Sumbar, BBPOM masih saja menemukan makanan siap saji produksi industri rumah tangga yang mengandung zat berbahaya tersebut.

Baca juga: BPOM sosialisasi pencegahan kejahatan obat dan makanan

Meskipun sudah sering disosialisasikan, dan pengawasan kepada pedagang makanan juga ditingkatkan, tetap saja masih ditemukan pelanggaran. Dalam hal ini, kata dia, sangat dituntut kesadaran pemilik IRT, termasuk masyarakat agar cerdas dalam berbelanja dengan mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung zat berbahaya.

Martin Suhendri mengatakan, ciri-ciri makanan yang mengandung zat berbahaya seperti kenyal, tidak dihinggapi lalat, dan lainnya.
  
Sementara itu Kepala Badan Sub Direktorat Ekspor Impor dan Iklan Pangan Badan POM, Neni Yuliza menambahkan, masyarakat harus mengenal makanan dan obat-obatan yang mengandung zat berbahaya. Masyarakat harus pintar memilih makanan yang akan dibeli, jika masyarakat sudah cerdas tidak akan mau membeli olahan makanan yang mengandung zat berbahaya itu.

"Jika tidak ada konsumen yang beli, maka pemilik industri rumah tangga tidak akan memproduksinya lagi," katanya. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Kamis, 15 November 2018 - 09:59 WIB

Ini cara atasi kecanduan gadget pada anak

Rabu, 14 November 2018 - 12:12 WIB

Benarkah talenan kayu lebih baik daripada plastik?

Selasa, 13 November 2018 - 09:15 WIB

Cara memilih kacamata hitam untuk melindungi mata Anda

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com