Menko Polhukam ingatkan tokoh agama cegah kegaduhan
Jumat, 09 November 2018 - 14:24 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Dewi Rusiana
Menko Polhukam, Wiranto. Foto: Dody Handoko/Elshinta.

Elshinta.com - Menko Polhukam  mengatakan kasus pembakaran bendera di Garut, Jawa Barat hanya terjadi pada lingkup kecil saja, kemudian menuai reaksi yang cukup luas dari masyarakat.

"Enggak besar , cuma satu kecamatan kecil, Limbangan Garut, pelaku 3 orang, 1 pembawa dan 2 pembakar bendera. Tapi kok berkembangnya sampai ke negara, ke Indonesia begitu luas. Tiga orang bisa sebabkan 120 juta orang bisa kena akibatnya, ini tidak adil," ujarnya di Kemenko Polhukam, Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (9/11).

Dijelaskannya, ada dua pandangan berbeda soal pembakaran bendera di Garut. Salah satu pihak ada yang menganggapnya bendera ormas HTI. Ada pihak lain merasa bendera itu ialah bendera tauhid yang digunakan Rasul.

"Ada (perdebatan) sengit tentang gimana pembakaran bendera dianggap HTI, ada yang anggap bendera tauhid. Sehingga ada perbedaan tajam soal ini," tuturnya seperti dilaporkan Reporter Dody Handoko.

Baca juga: Ketum PB NU ingatkan umat Islam agar toleran

Ia mengingatkan pentingnya peran semua pihak terutama tokoh agama dalam mencegah kegaduhan , dampak yang ditimbulkan dari polarisasi ini. Menurutnya kontroversi semacam itu rentan ditunggangi oleh kepentingan tertentu.

"Terus terang, banyak yang kemudian menunggangi. Masalah enggak terlalu besar dalam konteks nasional, tapi tiba-tiba. Indikasi-indikasi ini yang harus kita cegah," ungkapnya.

Dikatakannya, jika ada masalah hukum maka semua pihak diminta menghormati proses yang telah dilakukan oleh aparat kepolisian. “Buat damai masyarakat kita. Dan tidak lagi dipolitisasi oleh siapapun yang saat ini sedang melakukan kompetisi pemilu," paparnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Selasa, 22 Januari 2019 - 17:28 WIB
Elshinta.com - Jubir Tim Kampanye Nasional (TKN)  Jokowi-Maruf Amin, Ace Hasan Syadzily &n...
Senin, 21 Januari 2019 - 17:42 WIB
Elshinta.com - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan mengajak tiga kandidat Wakil Gubernur ...
Senin, 21 Januari 2019 - 12:01 WIB
Elshinta.com - Pencantuman gambar tokoh utama NU yaitu KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan ul...
Jumat, 18 Januari 2019 - 14:16 WIB
Elshinta.com - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muktamar Jakarta, Humphrey Dj...
Kamis, 17 Januari 2019 - 21:08 WIB
Elshinta.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diberi pesan oleh Ketua MUI Kota Bogor, ...
Kamis, 17 Januari 2019 - 15:15 WIB
Elshinta.com - Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengharapkan partai politik bi...
Kamis, 17 Januari 2019 - 12:25 WIB
Elshinta.com -  Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengalami peningkatan elektabilitas dal...
Selasa, 15 Januari 2019 - 17:07 WIB
Elshinta.com - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa part...
Selasa, 15 Januari 2019 - 14:00 WIB
Elshinta.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menilai pidato ya...
Selasa, 15 Januari 2019 - 13:25 WIB
Elshinta.com - Calon presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa utang pemerintah  digunaka...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/usr/lib/php/20151012/apc.so' - /usr/lib/php/20151012/apc.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: