Sabtu, 17 November 2018 | 10:36 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Bencana Alam

BPPT gunakan alat baru pencari sinyal CVR Lion

Jumat, 09 November 2018 - 20:47 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Sumber Foto: https://bit.ly/2RIEDT6
Sumber Foto: https://bit.ly/2RIEDT6

Elshinta.com - Tim Kapal Riset Baruna Jaya I (BJ1) menurunkan alat pendeteksi sinyal baru bernama  Acoustic Release Transponder Benthos dari Amerika Serikat (AS) untuk mencari  cockpit voice recorder (CVR) pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Hammam Riza di Jakarta, Jumat (9/11), mengatakan alat bernama  Acoustic Release Transponder Benthos yang merupakan bantuan AS ini adalah perangkat oseanografi untuk pencarian dan evakuasi instrumentasi dari dasar laut, di mana evakuasi dapat dipicu dari jarak jauh oleh sinyal perintah akustik. 

"Rilis khusus terdiri dari hidrofon atau radio dalam air, baterai dan lengan evakuasi untuk melepaskan jangkar menggunakan motor listrik torsi tinggi. Proses pencarian sinyal CVR juga sudah dilakukan dengan menurunkan `rubberboat Kapal Riset Baruna Jaya I. Semoga hari ini TIM SAR Baruna Jaya I mendapatkan hasil yang optimal," lanjutnya.

Bagian kotak hitam pesawat Lion Air PK-LQP, yakni CVR hingga hari ke-12 pencarian masih belum ditemukan seiring terhambatnya pencarian akibat melemahnya sinyal ping dari CVR. "Hingga kini bagian kotak hitam, yang CVR bunyi ping, ping nya semakin lemah," katanya, seperti dikutip Antara.

Jumat siang ini Tim SAR Lion Air KR Baruna Jaya 1, masih melakukan konfirmasi (pencarian) sinyal CVR yang tertangkap oleh Remotely Operated Vehicle  (ROV) BJ1," katanya.

Hammam mengatakan pencarian CVR juga dibantu oleh penyelam yang dilengkapi dengan ping locator dari Basarnas dan bergerak di kedalaman 25 meter di bawah permukaan laut.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 10:25 WIB

Pemerintah fokus bangun SPBU BBM satu harga

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 10:12 WIB

Jadi target hoaks, Ridwan Kamil angkat bicara

Kriminalitas | 17 November 2018 - 09:45 WIB

Komplotan penipuan `Hijacking` dibekuk Siber Bareskrim Polri

Kriminalitas | 17 November 2018 - 09:35 WIB

Seorang kakek keji perkosa siswi SMP hingga hamil

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 09:25 WIB

Harimau yang terjebak di pasar Riau terluka akibat terjerat

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 09:15 WIB

Taspen berikan perlindungan lengkap bagi ASN

Elshinta.com - Tim Kapal Riset Baruna Jaya I (BJ1) menurunkan alat pendeteksi sinyal baru bernama  Acoustic Release Transponder Benthos dari Amerika Serikat (AS) untuk mencari  cockpit voice recorder (CVR) pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Hammam Riza di Jakarta, Jumat (9/11), mengatakan alat bernama  Acoustic Release Transponder Benthos yang merupakan bantuan AS ini adalah perangkat oseanografi untuk pencarian dan evakuasi instrumentasi dari dasar laut, di mana evakuasi dapat dipicu dari jarak jauh oleh sinyal perintah akustik. 

"Rilis khusus terdiri dari hidrofon atau radio dalam air, baterai dan lengan evakuasi untuk melepaskan jangkar menggunakan motor listrik torsi tinggi. Proses pencarian sinyal CVR juga sudah dilakukan dengan menurunkan `rubberboat Kapal Riset Baruna Jaya I. Semoga hari ini TIM SAR Baruna Jaya I mendapatkan hasil yang optimal," lanjutnya.

Bagian kotak hitam pesawat Lion Air PK-LQP, yakni CVR hingga hari ke-12 pencarian masih belum ditemukan seiring terhambatnya pencarian akibat melemahnya sinyal ping dari CVR. "Hingga kini bagian kotak hitam, yang CVR bunyi ping, ping nya semakin lemah," katanya, seperti dikutip Antara.

Jumat siang ini Tim SAR Lion Air KR Baruna Jaya 1, masih melakukan konfirmasi (pencarian) sinyal CVR yang tertangkap oleh Remotely Operated Vehicle  (ROV) BJ1," katanya.

Hammam mengatakan pencarian CVR juga dibantu oleh penyelam yang dilengkapi dengan ping locator dari Basarnas dan bergerak di kedalaman 25 meter di bawah permukaan laut.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com