Sabtu, 17 November 2018 | 10:30 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Luar Negeri / Asia Pasific

16 nelayan Aceh Timur ditahan di Myanmar

Jumat, 09 November 2018 - 21:14 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi nelayan. Sumber Foto: https://bit.ly/2z0zZZF
Ilustrasi nelayan. Sumber Foto: https://bit.ly/2z0zZZF

Elshinta.com - Sebanyak 16 nelayan asal Idi, Aceh Timur, yang sebelumnya dilaporkan ditangkap di perairan Thailand, kini ditahan di Kantor Polisi Kawthaung, Provinsi Tanintharyi, Myanmar.

Wakil Sekretaris Jenderal Panglima Laot Provinsi Aceh Miftach Cut Adek di Banda Aceh, Jumat (9/11), mengatakan informasi ditahannya belasan nelayan Aceh diterima dari Kedutaan Besar RI (KBRI) Yangon, Myamnar.

"Informasi yang kami terima, 16 nelayan Aceh tersebut ditahan di Kantor Polisi Kawthaung, Provinsi Tanintharyi. Provinsi tersebut berada di selatan Myanmar atau 850 kilometer dari Yangon, ibu kota Myanmar," kata Miftach, seperti dikutip dari Antara.

Sebelumnya, kata dia, KBRI Yangon menerima informasi penahanan kapal nelayan berbendera Indonesia oleh Angkatan Laut Myanmar. Kapal nelayan tersebut diawaki 16 anak buah kapal diduga berasal dari Aceh.

Ke-16 nelayan yang dilaporkan ditangkap tersebut, yakni Jamaluddin, Nurdin, Samidan, Efendi, Rahmat, Saifuddin, Nazaruddin, Syukri, Darman, Safrizal, Umar, M Aris, Jamaluddin, Sulaiman, M Akbar, dan Paiturahman.

Informasi tersebut, lanjut Miftach, sesuai kabar yang diterima dari Panglima Idi Rayeuk, yang melaporkan adanya 16 nelayan yang melaut dengan Kapal Motor (KM) Bintang Jasa yang berangkat dari Kuala Idi, Aceh Timur, pada 31 Oktober 2018. "Mereka ditahan karena masalah imigrasi, masuk perairan Myanmar tanpa izin. KBRI Yangon telah berkomunikasi dengan kepolisian Kawthaung dan membenarkan penahanan tersebut," kata dia.

Terkait adanya informasi seorang nelayan meninggal dunia, Miftach Cut Adek mengatakan informasi tersebut masih simpang siur dan belum dapat dikonfirmasi oleh otoritas Myanmar.

Tim dari KBRI Yangon telah berkoordinasi dengan pihak Myanmar guna mendapat akses bertemu dengan nelayan Aceh. Rencananya, tim KBRI akan bertemu dengan mereka Sabtu (10/11) sore. "Tim KBRI menuju Kota Kawthaung melalui jalan darat yang memakan waktu 21 jam, sebab penerbangan komersial ke tempat itu sudah penuh karena saat ini musim puncak kunjungan turis," kata Miftach.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 10:25 WIB

Pemerintah fokus bangun SPBU BBM satu harga

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 10:12 WIB

Jadi target hoaks, Ridwan Kamil angkat bicara

Kriminalitas | 17 November 2018 - 09:45 WIB

Komplotan penipuan `Hijacking` dibekuk Siber Bareskrim Polri

Kriminalitas | 17 November 2018 - 09:35 WIB

Seorang kakek keji perkosa siswi SMP hingga hamil

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 09:25 WIB

Harimau yang terjebak di pasar Riau terluka akibat terjerat

Aktual Dalam Negeri | 17 November 2018 - 09:15 WIB

Taspen berikan perlindungan lengkap bagi ASN

Elshinta.com - Sebanyak 16 nelayan asal Idi, Aceh Timur, yang sebelumnya dilaporkan ditangkap di perairan Thailand, kini ditahan di Kantor Polisi Kawthaung, Provinsi Tanintharyi, Myanmar.

Wakil Sekretaris Jenderal Panglima Laot Provinsi Aceh Miftach Cut Adek di Banda Aceh, Jumat (9/11), mengatakan informasi ditahannya belasan nelayan Aceh diterima dari Kedutaan Besar RI (KBRI) Yangon, Myamnar.

"Informasi yang kami terima, 16 nelayan Aceh tersebut ditahan di Kantor Polisi Kawthaung, Provinsi Tanintharyi. Provinsi tersebut berada di selatan Myanmar atau 850 kilometer dari Yangon, ibu kota Myanmar," kata Miftach, seperti dikutip dari Antara.

Sebelumnya, kata dia, KBRI Yangon menerima informasi penahanan kapal nelayan berbendera Indonesia oleh Angkatan Laut Myanmar. Kapal nelayan tersebut diawaki 16 anak buah kapal diduga berasal dari Aceh.

Ke-16 nelayan yang dilaporkan ditangkap tersebut, yakni Jamaluddin, Nurdin, Samidan, Efendi, Rahmat, Saifuddin, Nazaruddin, Syukri, Darman, Safrizal, Umar, M Aris, Jamaluddin, Sulaiman, M Akbar, dan Paiturahman.

Informasi tersebut, lanjut Miftach, sesuai kabar yang diterima dari Panglima Idi Rayeuk, yang melaporkan adanya 16 nelayan yang melaut dengan Kapal Motor (KM) Bintang Jasa yang berangkat dari Kuala Idi, Aceh Timur, pada 31 Oktober 2018. "Mereka ditahan karena masalah imigrasi, masuk perairan Myanmar tanpa izin. KBRI Yangon telah berkomunikasi dengan kepolisian Kawthaung dan membenarkan penahanan tersebut," kata dia.

Terkait adanya informasi seorang nelayan meninggal dunia, Miftach Cut Adek mengatakan informasi tersebut masih simpang siur dan belum dapat dikonfirmasi oleh otoritas Myanmar.

Tim dari KBRI Yangon telah berkoordinasi dengan pihak Myanmar guna mendapat akses bertemu dengan nelayan Aceh. Rencananya, tim KBRI akan bertemu dengan mereka Sabtu (10/11) sore. "Tim KBRI menuju Kota Kawthaung melalui jalan darat yang memakan waktu 21 jam, sebab penerbangan komersial ke tempat itu sudah penuh karena saat ini musim puncak kunjungan turis," kata Miftach.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Jumat, 16 November 2018 - 20:36 WIB

Kemenpan-RB inspeksi KJRI Hong Kong

Jumat, 16 November 2018 - 18:26 WIB

KJRI Jeddah minta perusahaan bayarkan gaji TKI

Jumat, 16 November 2018 - 11:11 WIB

AS hukum 17 warga Saudi terkait pembunuhan Khashoggi

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com