Indopro Syariah, optimis properti syariah akan semakin berkembang
Elshinta
Kamis, 22 November 2018 - 11:45 WIB | Penulis : Syahid | Editor : Administrator
Indopro Syariah, optimis properti syariah akan semakin berkembang
Wawan Syahroni, founder Indopro Syariah. Foto: Reza/elshinta.com

Elshinta.com - Terpacu untuk untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik, Wawan Syahroni yang merupakan guru madrasah ini banting setir menjadi seorang pengusaha. Ia sempat menjalani bisnis service handphone selama beberapa tahun. Karena keahliannya itu pula ia menjadi trainer yang mengajari orang-orang  untuk belajar service handphone. Setelahnya,ia kepincut dengan bisnis properti yang menurutnya sangat menggiurkan.

Kariernya dalam bisnis properti dimulai dengan menjadi broker penjualan rumah pada akhir tahun 2016. Ia belajar sendiri bagaimana caranya membuat iklan, bertemu dan menyakinkan orang untuk membeli properti. Kemudian pada awal tahun 2017, ia mendirikan agensi penjualan rumah sendiri bernama Indopro Syariah. Tak butuh waktu lama, agensinya tersebut tumbuh menjadi pengembang atau developer perumahan. Pada bisnis propertinya ini, Wawan konsisten mengembangkan produk-produk properti syariah. 

Beberapa proyek perumahan yang dikerjakan oleh Indopro Syariah tersebar di kota/kabupaten seperti Bogor, Banten Cirebon dan Cianjur. Sementara agensi properti yang ia dirikan terus berupaya untuk semakin menggaungkan properti syariah di masyarakat dengan menggandeng pengembang-pengembang syariah yang ada di Indonesia. 

Meningkatnya minat masyarakat, khususnya umat Islam terhadap produk-produk syariah merembet juga ke dunia properti. Fenomena tersebut muncul karena proses-proses transaksi dalam pembelian rumah saat ini dianggap masih tidak sesuai dengan syariat Islam. Terutama pelibatan bank di dalam pembelian properti dikhawatirkan mengandung riba yang dilarang oleh ajaran agama Islam.

Baca juga: Fithor Muhammad, lulus kuliah sukses bangun perusahaan developer properti

Secara bahasa, riba berarti tumbuh dan membesar. Dalam transaksi jual beli, riba dilarang karena adanya tambahan (ziyadah) yang ditetapkan sebelum berlakunya utang dan dapat bertambah ketika seseorang terlambat membayar. Menurut Wawan Syahroni, dalam bisnis properti syariah ada beberapa hal yang wajib diperhatikan seperti tidak boleh ada riba, tidak boleh ada denda, serta perjanjian akadnya yang jelas. 

Tanpa Riba

Demi menghindari riba, developer syariah tidak menggunakan pihak perbankan seperti pengembang properti pada umumnya yang memberikan pinjaman kepada konsumen untuk memiliki rumah. Dana yang digunakan untuk membangun unit-unit properti murni berasal dari setoran konsumen dan pihak pengembang sendiri. 

Diakui oleh Wawan, hal ini memberikan konsekuensi pada pembayaran DP yang memang rata-rata lebih tinggi. “Makanya kita kalau dibandingkan dengan konvensional, DP kita masih dianggap tinggi. Rata-rata 30%. Kenapa? Karena kita memang nggak pakai pendanaan dari bank.” ujarnya. 

Karena keterbatasan dari aspek pendanaan, pengembang syariah menurut Wawan banyak melakukan kerja sama dengan pemilik tanah maupun material. Kerjasama yang dimaksud bisa berupa bagi hasil dengan pemilik tanah atau menentukan harga di awal namun dibayar oleh pihak pengembang dengan cara mencicil. “Nggak semuanya kita bayar cash, artinya win-win solution aja.” ujar pria yang pernah menjadi seorang guru madrasah tersebut. 

Pada prinsipnya, syariat Islam menekankan adanya kejelasan dalam akad pembelian dan perjanjian serta kejelasan barang sebagai objek jual belinya. “Syariah bukan semata-mata akadnya saja, tetapi perjanjiannya pun harus syariah, barangnya yang dijual pun harus ada.” ujarnya. Ia menyontohkan, banyak pengembang yang menjual properti tapi surat-surat perizinannya belum selesai diurus. Dalam Islam, akad seperti ini merupakan akad yang batil dan tidak boleh dilakukan. “Kita harus jual barang yang memang sudah kita beli. Minimal sudah DP.” ujarnya. 

***

Anda bisa membaca artikel ini selengkapnya di eMajels edisi November 2018. Klik di sini untuk membaca atau kunjungi elshinta.com/majalah-elshinta untuk edisi lainnya. 
 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Ramadan brand berbagi tebarkan virus kebaikan di tengah pandemi
Rabu, 20 Mei 2020 - 08:02 WIB
Meski Ramadan tahun ini diwarnai dengan wabah pandemi, tapi semangat berbagi kebaikan kepada mereka ...
Angkat produk lokal, Kemenkop UKM gandeng artis Raffi Ahmad
Rabu, 04 Maret 2020 - 11:24 WIB
Raffi ingin mengajak pelaku UMKM khususnya yang muda-muda ini mengikuti dan menggunakan digital seb...
Dear UKM! Ini pentingnya mendefinisikan bisnis Anda
Rabu, 12 Februari 2020 - 14:15 WIB
Mendefinisikan bisnis Anda itu penting karena hal itu mencakup gerak langkah yang akan Anda lakukan ...
Cari nama brand yang jitu untuk memikat pasar, bagaimana caranya?
Jumat, 07 Februari 2020 - 10:32 WIB
Brand adalah sebuah identitas penting bagi sebuah produk. Namun tak jarang para pelaku usaha seringk...
Trik bisnis kuliner, kedepankan variasi hidangan atau suasana?
Kamis, 06 Februari 2020 - 15:15 WIB
Bisnis kuliner adalah bisnis selera. Atas dasar itu, sangat disarankan, sekalipun menu kuliner Anda ...
Soal modal dan SDM yang sering jadi masalah dalam bisnis
Selasa, 28 Januari 2020 - 12:33 WIB
Dalam bisnis, peranan SDM cukup berpengaruh karena pemahaman SDM-lah yang menjadi scrub dan gigi unt...
Pengusaha Asep Sulaeman: Doa bersama di lokasi tambang akan jadi agenda rutin
Minggu, 26 Januari 2020 - 09:51 WIB
SEAM Group menggelar sebuah acara di salah satu site milik mereka yaitu site MP (Marwan Putra). Mena...
Santripreneur, program Kemenperin cetak wirausaha muda baru di lingkungan pesantren
Kamis, 23 Januari 2020 - 10:06 WIB
Kementerian Perindustrian berhasil mencetak wirausaha industri baru dari lingkungan pondok pesantre...
Ikuti tren bisnis, jangan sekadar meniru tapi lakukan juga…
Selasa, 21 Januari 2020 - 17:07 WIB
Tren dalam bisnis itu penting, karena hal itu menunjukkan arah orientasi kegandrungan konsumen kalau...
Wahai UKM! Jika bisnis Anda maju, jangan terlalu bernafsu buka outlet baru. Ini alasannya
Selasa, 21 Januari 2020 - 08:43 WIB
Permodalan itu urusan klasik dan nafsu sebagai pebisnis akan selalu ingin cepat berkembang oleh kare...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV