Jumat, 14 Desember 2018 | 16:04 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Sanggar inklusi, posyandu bagi anak penyandang disabilitas di Sukoharjo

Senin, 03 Desember 2018 - 17:35 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Sigit Kurniawan
Istimewa. Foto: Deni Suryanti/Radio Elshinta
Istimewa. Foto: Deni Suryanti/Radio Elshinta

Elshinta.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah membentuk 11  sanggar inklusi untuk Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) warga penyandang disabilitas. Sanggar insklusi muncul dari keprihatinan petugas kesehatan terhadap anak anak penyandang disabilitas sering kali tidak mendapatkan hak kesehatan. Dimulai sejak tahun 2017, kini telah terbentuk 11 titik sanggar yang tersebar di 11 kecamatan.

Plt Kepala DKK Sukoharjo, Yunia Wahdiyati mengatakan, gagasan membentuk sanggar inklusi dimulai dari Kecamatan Nguter. Saat petugas Puskesmas Nguter memantau langsung ke Posyandu, tidak didapati satupun usia bawah lima tahun (Balita) penyandang disabilitas mengakses pelayanan kesehatan dasar tersebut. 

Padahal, dalam catatan petugas kesehatan, ada balita lahir menyadang cacat bawaan. “Kami sempat bertanya ke petugas Posyandu soal tidak adanya anak penyandang disabilitas yang ikut kegiatan,” kata Yunia kepada Kontributor Elshinta, Deni Suryanti.

Setelah melacak keseluruh desa, lanjut dia, petugas jemput bola mendatangi anak-anak yang mengalami kasus yang sama kemudian dikumpulkan dalam sanggar inklusi. Melalui program yang rutin digelar sebulan sekali, kebutuhan kesehatan balita penyandang disabilitas dipenuhi sebagaimana fungsi Posyandu. “Petugas yang mendatangi dan menjemput anak anak ke sanggar. Apabila sudah selesai diantarkan pulang lagi,” imbuh Yunia.

Menurutnya, pelayanan kesehatan sanggar inklusi juga menyesuaikan dengan kebutuhan tiap tiap anak. Asupan gizi yang dibutuhkan, terapi dengan dokter spesialis dan juga penyuluhan kesehatan bagi kekuarga yang mememiliki anak penyandang disabilitas. Untuk sanggar inklusi tidak dibatasi usia balita, tetapi lebih menyasar pada warga usia muda penyandang disabilitas. 

Dinas memfasilitasi dokter spesialis, terapis, kebutuhan obat dan gizi hingga penjemputan ke tempat tinggal peserta program. “Ada yang butuh terapi wicara, terapi tulang, syaraf dan alat bantu. Semua disediakan sanggar secara gratis,” katanya.    

Ditambahkan Yunia, kendala menjangkau balita dan penyandang disabilitas secara umum dalam mengakses pelayanan kesehatan lebih pada factor lingkungan. Banyak keluarga yang merasa malu memiliki anggota keluarga mengalami kecatatan. Melalui sanggar inklusi, orang tua diberikan pemahaman memenuhi hak kesehatan anak anak yang terlahir cacat. Kebanyakan anak anak penyandang disabilitas ini diakibatkan penyakit bawan seperti hydrosephalus dan kelainan jantung.

Yunia menuturkan, program sanggar inklusi ini diharapkan menambah harapan hidup penyandang disabilitas, dengan pemerataan pelayanan kesehatan yang terjangkau. Mampu menghilangkan stigma masyarakat yang merasa malu memiliki anak cacat. “Sukoharjo menjadi daerah pertama di Indonesia yang mengembangkan sanggar inklusi,” tandasnya.

Ketua Paguyuban Disabilitas Sehati Sukoharjo Edy Supriyanto mengatakan, pemerintah daerah sudah sangat berpihak pada  penyandang disabilitas. Sebab Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki komitmen kuat untuk perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Terbukti dengan adanya Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2009 tentang Pemberdayaan Penyandang Cacat dan telah diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2017 tentang Penyandang Disabilitas, Peraturan Bupati tentang Aksesbilitas.

Bahkan, menurut Edy, saat ini Peraturan Bupati tentang Pelaksanaan Perda Nomor 18 tahun 2016 sudah tinggal disahkan. Terhitung sejak tahun 2014 semua penyandang disabilitas mendapatkan jaminan kesehatan yang terintegrasi kedalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Pemkab Sukoharjo juga telah memberikan fasilitas pelayanan kesehatan gratis melalui program Kartu Difabel,” jelasnya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kesehatan | 14 Desember 2018 - 15:45 WIB

Hindari kanker dengan menghindari barang ini di ruangan Anda

Aktual Dalam Negeri | 14 Desember 2018 - 15:27 WIB

Perbaikan Polsek Ciracas ditargetkan selesai pekan ini

Aktual Dalam Negeri | 14 Desember 2018 - 15:19 WIB

Kemhan gelar Bela Negara Run 2018

Kriminalitas | 14 Desember 2018 - 15:09 WIB

Bareskrim tangkap enam tersangka pembawa 22 kg sabu asal Malaysia

Elshinta.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah membentuk 11  sanggar inklusi untuk Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) warga penyandang disabilitas. Sanggar insklusi muncul dari keprihatinan petugas kesehatan terhadap anak anak penyandang disabilitas sering kali tidak mendapatkan hak kesehatan. Dimulai sejak tahun 2017, kini telah terbentuk 11 titik sanggar yang tersebar di 11 kecamatan.

Plt Kepala DKK Sukoharjo, Yunia Wahdiyati mengatakan, gagasan membentuk sanggar inklusi dimulai dari Kecamatan Nguter. Saat petugas Puskesmas Nguter memantau langsung ke Posyandu, tidak didapati satupun usia bawah lima tahun (Balita) penyandang disabilitas mengakses pelayanan kesehatan dasar tersebut. 

Padahal, dalam catatan petugas kesehatan, ada balita lahir menyadang cacat bawaan. “Kami sempat bertanya ke petugas Posyandu soal tidak adanya anak penyandang disabilitas yang ikut kegiatan,” kata Yunia kepada Kontributor Elshinta, Deni Suryanti.

Setelah melacak keseluruh desa, lanjut dia, petugas jemput bola mendatangi anak-anak yang mengalami kasus yang sama kemudian dikumpulkan dalam sanggar inklusi. Melalui program yang rutin digelar sebulan sekali, kebutuhan kesehatan balita penyandang disabilitas dipenuhi sebagaimana fungsi Posyandu. “Petugas yang mendatangi dan menjemput anak anak ke sanggar. Apabila sudah selesai diantarkan pulang lagi,” imbuh Yunia.

Menurutnya, pelayanan kesehatan sanggar inklusi juga menyesuaikan dengan kebutuhan tiap tiap anak. Asupan gizi yang dibutuhkan, terapi dengan dokter spesialis dan juga penyuluhan kesehatan bagi kekuarga yang mememiliki anak penyandang disabilitas. Untuk sanggar inklusi tidak dibatasi usia balita, tetapi lebih menyasar pada warga usia muda penyandang disabilitas. 

Dinas memfasilitasi dokter spesialis, terapis, kebutuhan obat dan gizi hingga penjemputan ke tempat tinggal peserta program. “Ada yang butuh terapi wicara, terapi tulang, syaraf dan alat bantu. Semua disediakan sanggar secara gratis,” katanya.    

Ditambahkan Yunia, kendala menjangkau balita dan penyandang disabilitas secara umum dalam mengakses pelayanan kesehatan lebih pada factor lingkungan. Banyak keluarga yang merasa malu memiliki anggota keluarga mengalami kecatatan. Melalui sanggar inklusi, orang tua diberikan pemahaman memenuhi hak kesehatan anak anak yang terlahir cacat. Kebanyakan anak anak penyandang disabilitas ini diakibatkan penyakit bawan seperti hydrosephalus dan kelainan jantung.

Yunia menuturkan, program sanggar inklusi ini diharapkan menambah harapan hidup penyandang disabilitas, dengan pemerataan pelayanan kesehatan yang terjangkau. Mampu menghilangkan stigma masyarakat yang merasa malu memiliki anak cacat. “Sukoharjo menjadi daerah pertama di Indonesia yang mengembangkan sanggar inklusi,” tandasnya.

Ketua Paguyuban Disabilitas Sehati Sukoharjo Edy Supriyanto mengatakan, pemerintah daerah sudah sangat berpihak pada  penyandang disabilitas. Sebab Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki komitmen kuat untuk perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Terbukti dengan adanya Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2009 tentang Pemberdayaan Penyandang Cacat dan telah diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 18 tahun 2017 tentang Penyandang Disabilitas, Peraturan Bupati tentang Aksesbilitas.

Bahkan, menurut Edy, saat ini Peraturan Bupati tentang Pelaksanaan Perda Nomor 18 tahun 2016 sudah tinggal disahkan. Terhitung sejak tahun 2014 semua penyandang disabilitas mendapatkan jaminan kesehatan yang terintegrasi kedalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Pemkab Sukoharjo juga telah memberikan fasilitas pelayanan kesehatan gratis melalui program Kartu Difabel,” jelasnya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:27 WIB

Perbaikan Polsek Ciracas ditargetkan selesai pekan ini

Jumat, 14 Desember 2018 - 15:19 WIB

Kemhan gelar Bela Negara Run 2018

Jumat, 14 Desember 2018 - 14:58 WIB

KPK periksa dua hakim PN Jaksel

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com