Minggu, 16 Desember 2018 | 00:29 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Peristiwa / Arestasi

Prajurit penjaga perbatasan RI-PNG amankan Vanili illegal

Selasa, 04 Desember 2018 - 12:58 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Sumber foto: Dody Handoko/Elshinta.com
Sumber foto: Dody Handoko/Elshinta.com

Elshinta.com - Prajurit TNI dari Batalyon Infanteri Para Raider 328/Dirgahayu (Yonif PR 328/Dgh Kostrad) yang tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG, berhasil mengamankan 143 kg Vanili illegal di perbatasan RI-PNG, Skouw, Papua, Senin (3/12) kemarin.
 
Penangkapan terhadap pelaku berawal dari informasi yang didapatkan dari masyarakat sekitar. Selanjutnya Satuan Intelijen Satgas Pamtas Yonif Para Raider 328/Dirgahayu dipimpin oleh Pasi Intel Satgas Kapten Inf Bagus Wahyu langsung mendalami info tersebut untuk diselidiki, dan berhasil mengamankan 143 kg Vanili illegal berikut pelaku dan empat kendaraan yang digunakan.
 
Menurut Kapten Inf Bagus Wahyu didampingi Perwira Hukum (Pakum) Kapten Chk Ghesa Khiastra, S.H., setelah mendalami informasi yang diterima dari masyarakat, personel Satgas dibawah pimpinan Serda Bakti langsung melakukan sweeping. “Sekitar pukul 12.20 WITA, muncul empat kendaraan yang mengarah dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Indonesia-Papua Nugini menuju Abepura,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Reporter Elshinta.com, Dody Handoko, Selasa (4/12).
 
“Kendaraan yang dibawa oleh S (35) warga Koya Timur, A (32), H (30) dan I (30) warga Poros Kota Timur, langsung dihentikan Provost Satgas. Setelah dilakukan pengecekan ditemukan 143 kg Vanili tidak dilengkapi dengan dokumen,” ujarnya.
 
Selanjutnya Provost Satgas mengamankan empat orang dengan barang bukti 143 kg Vanili yang tidak ada dokumennya termasuk empat kendaraan jenis sedan dan minibus. “Di salah satu kendaraan kami temukan Vanili disembunyikan dibawah bagasi,” ucapnya.
 
Ditambahkan oleh Kapten Inf Bagus Wahyu, kondisi penyelundupan Vanili illegal memang sering terjadi di kawasan tapal batas Indonesia, dimana Skouw menjadi gerbang utama ekspor-impor antara Indonesia dengan Papua Nugini. “Harga per kilo mencapai Rp4 juta dan kalau 143 kg yang diselundupkan, maka nilainya sekitar Rp500-600 juta,” ungkapnya.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Peristiwa Hari Ini | 15 Desember 2018 - 23:56 WIB

Kabar duka, Rois Syuriah PCNU Malang, KH Buchori Amin meninggal dunia

Kriminalitas | 15 Desember 2018 - 21:59 WIB

Petani mengeluh sayurannya banyak dicuri

Politik | 15 Desember 2018 - 21:39 WIB

PDI Perjuangan sanggah tuduhan pengrusakan bendera Demokrat

Aktual Pemilu | 15 Desember 2018 - 21:07 WIB

KPU soal kotak suara berbahan karton

Elshinta.com - Prajurit TNI dari Batalyon Infanteri Para Raider 328/Dirgahayu (Yonif PR 328/Dgh Kostrad) yang tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG, berhasil mengamankan 143 kg Vanili illegal di perbatasan RI-PNG, Skouw, Papua, Senin (3/12) kemarin.
 
Penangkapan terhadap pelaku berawal dari informasi yang didapatkan dari masyarakat sekitar. Selanjutnya Satuan Intelijen Satgas Pamtas Yonif Para Raider 328/Dirgahayu dipimpin oleh Pasi Intel Satgas Kapten Inf Bagus Wahyu langsung mendalami info tersebut untuk diselidiki, dan berhasil mengamankan 143 kg Vanili illegal berikut pelaku dan empat kendaraan yang digunakan.
 
Menurut Kapten Inf Bagus Wahyu didampingi Perwira Hukum (Pakum) Kapten Chk Ghesa Khiastra, S.H., setelah mendalami informasi yang diterima dari masyarakat, personel Satgas dibawah pimpinan Serda Bakti langsung melakukan sweeping. “Sekitar pukul 12.20 WITA, muncul empat kendaraan yang mengarah dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Indonesia-Papua Nugini menuju Abepura,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Reporter Elshinta.com, Dody Handoko, Selasa (4/12).
 
“Kendaraan yang dibawa oleh S (35) warga Koya Timur, A (32), H (30) dan I (30) warga Poros Kota Timur, langsung dihentikan Provost Satgas. Setelah dilakukan pengecekan ditemukan 143 kg Vanili tidak dilengkapi dengan dokumen,” ujarnya.
 
Selanjutnya Provost Satgas mengamankan empat orang dengan barang bukti 143 kg Vanili yang tidak ada dokumennya termasuk empat kendaraan jenis sedan dan minibus. “Di salah satu kendaraan kami temukan Vanili disembunyikan dibawah bagasi,” ucapnya.
 
Ditambahkan oleh Kapten Inf Bagus Wahyu, kondisi penyelundupan Vanili illegal memang sering terjadi di kawasan tapal batas Indonesia, dimana Skouw menjadi gerbang utama ekspor-impor antara Indonesia dengan Papua Nugini. “Harga per kilo mencapai Rp4 juta dan kalau 143 kg yang diselundupkan, maka nilainya sekitar Rp500-600 juta,” ungkapnya.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com