Minggu, 16 Desember 2018 | 00:23 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Hukum

Kapolri yakin kekerasan bersenjata di Papua segera bisa dikendalikan

Kamis, 06 Desember 2018 - 15:35 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Dewi Rusiana
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Sumber foto: https://bit.ly/2Pjp5nn
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Sumber foto: https://bit.ly/2Pjp5nn

Elshinta.com - Terkait dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang melakukan aksi pembunuhan terhadap para pekerja proyek jembatan pada jalan Trans Papua di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, itu masalah eksistensi mereka, karena 1 Desember adalah hari penting bagi mereka yang berkaitan dengan masalah pandangan politis sebagai hari ketika Belanda memberikan kemerdekaan kepada kelompok itu di Papua.

"Sehingga 1 Desember ini biasanya mereka untuk menunjukkan eksistensi ada saja, mulai dari pengibaran bendera sampai kepada penyerangan oleh kelompok bersenjata. Itu 1 Desember semuanya, kan," kata Kapolri dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/12) siang.

Biasanya, lanjut Kapolri, jika menyerang, yang diserang biasanya aparat. Jika aparatnya sulit, mencari sasaran lemah dan sasaran lemahnya itu biasanya pendatang oleh kelompok-kelompok itu.

"Kelompok-kelompok ini seringkali mereka tidak sabar, menunjukkan eksistensi, bersenjata, mungkin juga mereka menikmati karena ditakuti, memberikan status sosial bersenjata," ujarnya.

Kapolri menyebutkan, kelompok bersenjata ini, Edianus Kogoya, pada saat Pilkada juga menekan, meminta, memeras kepada pemerintah daerah, kepada pendatang, dan masyarakat lainnya. Kemudian Kapolri mengirimkan pasukan Polri dan TNI kemudian ibu kota aman.

“Tapi kelompok ini Edianus Kogoya ini kemudian bergeser berpindah di sekitaran Nduga,” ujar Kapolri.

Saat ini, lanjut Kapolri, pemerintah mengirimkan tim gabungan Polri dan TNI yang dipimpin langsung oleh Kapolda dan Pangdam. Ia menilai, kekuatan mereka tidak banyak sebetulnya, lebih kurang 30 sampai 50 orang dengan 20 pucuk senjata. Karena itu, kekuatan yang dikirim jauh lebih besar.

“Sangat yakin kita sebentar lagi akan bisa kita kendalikan. Persoalannya adalah medan yang berat, hutan dan lain-lain yang luas. Sehingga mereka mungkin akan lari dari satu tempat ke tempat lainnya,” ungkap Kapolri.

Menurut Kapolri, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Menteri PUPR untuk meningkatkan pengamanan, sehingga pembangunan sesuai dari perintah Presiden Joko Widodo harus jalan terus.

“Kita akan jalankan terus, kita akan amankan. Dan kami melakukan koordinasi yang lebih intens kepada jajaran Kementerian PUPR,” tegas Kapolri. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Peristiwa Hari Ini | 15 Desember 2018 - 23:56 WIB

Kabar duka, Rois Syuriah PCNU Malang, KH Buchori Amin meninggal dunia

Kriminalitas | 15 Desember 2018 - 21:59 WIB

Petani mengeluh sayurannya banyak dicuri

Politik | 15 Desember 2018 - 21:39 WIB

PDI Perjuangan sanggah tuduhan pengrusakan bendera Demokrat

Aktual Pemilu | 15 Desember 2018 - 21:07 WIB

KPU soal kotak suara berbahan karton

Elshinta.com - Terkait dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang melakukan aksi pembunuhan terhadap para pekerja proyek jembatan pada jalan Trans Papua di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, itu masalah eksistensi mereka, karena 1 Desember adalah hari penting bagi mereka yang berkaitan dengan masalah pandangan politis sebagai hari ketika Belanda memberikan kemerdekaan kepada kelompok itu di Papua.

"Sehingga 1 Desember ini biasanya mereka untuk menunjukkan eksistensi ada saja, mulai dari pengibaran bendera sampai kepada penyerangan oleh kelompok bersenjata. Itu 1 Desember semuanya, kan," kata Kapolri dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/12) siang.

Biasanya, lanjut Kapolri, jika menyerang, yang diserang biasanya aparat. Jika aparatnya sulit, mencari sasaran lemah dan sasaran lemahnya itu biasanya pendatang oleh kelompok-kelompok itu.

"Kelompok-kelompok ini seringkali mereka tidak sabar, menunjukkan eksistensi, bersenjata, mungkin juga mereka menikmati karena ditakuti, memberikan status sosial bersenjata," ujarnya.

Kapolri menyebutkan, kelompok bersenjata ini, Edianus Kogoya, pada saat Pilkada juga menekan, meminta, memeras kepada pemerintah daerah, kepada pendatang, dan masyarakat lainnya. Kemudian Kapolri mengirimkan pasukan Polri dan TNI kemudian ibu kota aman.

“Tapi kelompok ini Edianus Kogoya ini kemudian bergeser berpindah di sekitaran Nduga,” ujar Kapolri.

Saat ini, lanjut Kapolri, pemerintah mengirimkan tim gabungan Polri dan TNI yang dipimpin langsung oleh Kapolda dan Pangdam. Ia menilai, kekuatan mereka tidak banyak sebetulnya, lebih kurang 30 sampai 50 orang dengan 20 pucuk senjata. Karena itu, kekuatan yang dikirim jauh lebih besar.

“Sangat yakin kita sebentar lagi akan bisa kita kendalikan. Persoalannya adalah medan yang berat, hutan dan lain-lain yang luas. Sehingga mereka mungkin akan lari dari satu tempat ke tempat lainnya,” ungkap Kapolri.

Menurut Kapolri, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Menteri PUPR untuk meningkatkan pengamanan, sehingga pembangunan sesuai dari perintah Presiden Joko Widodo harus jalan terus.

“Kita akan jalankan terus, kita akan amankan. Dan kami melakukan koordinasi yang lebih intens kepada jajaran Kementerian PUPR,” tegas Kapolri. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com