Senin, 17 Desember 2018 | 04:13 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

15 nelayan Aceh masih ditahan di Myanmar

Kamis, 06 Desember 2018 - 18:19 WIB    |    Penulis : Rizky Sandra    |    Editor : Sigit Kurniawan
Ilustrasi nelayan. Sumber foto: https://bit.ly/2zENVJl
Ilustrasi nelayan. Sumber foto: https://bit.ly/2zENVJl

Elshinta.com - Sebanyak 15 orang nelayan asal Aceh Timur hingga kini masih ditahan oleh otoritas Myanmar, setelah ditangkap kapal patroli Angkatan Laut negara tersebut pada Selasa (6/11).

Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri, di Banda Aceh, Kamis, mengatakan, pihaknya terus berkomunikasi dengan Duta Besar Luar Biasa Republik Indonesia untuk Myanmar, Iza Fadri menanyakan kesehatan para nelayan tersebut.

"Untuk 15 nelayan Aceh, kita terus koordinasi dengan duta besar. Insya Allah, mereka dalam kondisi baik, dan sehat wal afiat. Akan kita upayakan terus (pemulangannya)," ujarnya, dikutip Antara.

Namun, menurut dia, belum bisa memastikan kapan dipulangkan 15 nelayan ini, meski telah ditahan selama satu bulan penuh di penjara Kawthoung, Provinsi Tanintharyi.

Sebanyak 16 nelayan Aceh melaut menggunakan Kapal Motor (KM) Bintang Jasa dari Kuala Idi, Aceh Timur, mengalami kerusakan mesin. Lalu belasan nelayan ini ditangkap oleh kapal patroli Angkatan Laut Myanmar, karena memasuki wilayah perairan negara itu tanpa izin.

Ketika proses penangkapan, kapal patroli Myanmar mendekati KM Bintang Jasa. Lalu belasan nelayan Aceh ini nekat menceburkan diri ke laut, sehingga seorang di antaranya meninggal dunia akibat tenggelam atas nama Nurdin (41). "(Kapan mereka dipulangkan) itu, belum tentu bisa kita pastikan," ujar Alhudri.

Ke-15 orang nelayan Aceh Timur yang selamat dan masih menjalani penahan, yakni Jamaludin (36), kapten kapal, Samidan (41), Amat Dani (23), Rukni (43 tahun), dan Efendi alias Ek Amni Alias (28).

selanjutnya, Umar Saputra (23), Jamaludin Amno (37), Nazarudin (33), Safrizal (38), Darman (30), Muhammad Yais (20), Muhammad Akbar (15), Saipudin (33), Faturahman (15), dan Sulaiman (25).

"Mereka ditahan karena masalah imigrasi, masuk perairan Myanmar tanpa izin. KBRI Yangon telah berkomunikasi dengan kepolisian Kawthaung dan membenarkan penahanan tersebut," kata Wakil Sekretaris Jenderal Panglima Laot Provinsi Aceh, Miftah Cut Adek.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Liga Indonesia | 16 Desember 2018 - 21:50 WIB

Persewar Papua tahan imbang Persik Kediri 1-1

Afrika | 16 Desember 2018 - 21:39 WIB

Dubes: Pasar Afrika capai Rp7.900 triliun

Aktual Dalam Negeri | 16 Desember 2018 - 21:25 WIB

Presiden minta aparat kemanan serius tangani pembalakan liar

Aktual Pemilu | 16 Desember 2018 - 21:12 WIB

KPU Bantul peroleh 70 kotak suara rusak

Kecelakaan | 16 Desember 2018 - 20:50 WIB

Anggota Polres Mojokerto tewas akibat kecelakaan

Otomotif | 16 Desember 2018 - 20:37 WIB

Perhatikan hal ini jika berkendara saat hujan

Elshinta.com - Sebanyak 15 orang nelayan asal Aceh Timur hingga kini masih ditahan oleh otoritas Myanmar, setelah ditangkap kapal patroli Angkatan Laut negara tersebut pada Selasa (6/11).

Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri, di Banda Aceh, Kamis, mengatakan, pihaknya terus berkomunikasi dengan Duta Besar Luar Biasa Republik Indonesia untuk Myanmar, Iza Fadri menanyakan kesehatan para nelayan tersebut.

"Untuk 15 nelayan Aceh, kita terus koordinasi dengan duta besar. Insya Allah, mereka dalam kondisi baik, dan sehat wal afiat. Akan kita upayakan terus (pemulangannya)," ujarnya, dikutip Antara.

Namun, menurut dia, belum bisa memastikan kapan dipulangkan 15 nelayan ini, meski telah ditahan selama satu bulan penuh di penjara Kawthoung, Provinsi Tanintharyi.

Sebanyak 16 nelayan Aceh melaut menggunakan Kapal Motor (KM) Bintang Jasa dari Kuala Idi, Aceh Timur, mengalami kerusakan mesin. Lalu belasan nelayan ini ditangkap oleh kapal patroli Angkatan Laut Myanmar, karena memasuki wilayah perairan negara itu tanpa izin.

Ketika proses penangkapan, kapal patroli Myanmar mendekati KM Bintang Jasa. Lalu belasan nelayan Aceh ini nekat menceburkan diri ke laut, sehingga seorang di antaranya meninggal dunia akibat tenggelam atas nama Nurdin (41). "(Kapan mereka dipulangkan) itu, belum tentu bisa kita pastikan," ujar Alhudri.

Ke-15 orang nelayan Aceh Timur yang selamat dan masih menjalani penahan, yakni Jamaludin (36), kapten kapal, Samidan (41), Amat Dani (23), Rukni (43 tahun), dan Efendi alias Ek Amni Alias (28).

selanjutnya, Umar Saputra (23), Jamaludin Amno (37), Nazarudin (33), Safrizal (38), Darman (30), Muhammad Yais (20), Muhammad Akbar (15), Saipudin (33), Faturahman (15), dan Sulaiman (25).

"Mereka ditahan karena masalah imigrasi, masuk perairan Myanmar tanpa izin. KBRI Yangon telah berkomunikasi dengan kepolisian Kawthaung dan membenarkan penahanan tersebut," kata Wakil Sekretaris Jenderal Panglima Laot Provinsi Aceh, Miftah Cut Adek.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Minggu, 16 Desember 2018 - 20:12 WIB

Polisi akan periksa saksi ahli kasus blangko KTP-el

Minggu, 16 Desember 2018 - 19:38 WIB

Menteri PPPA: Belum ada daerah layak anak

Minggu, 16 Desember 2018 - 19:26 WIB

PDAM Tirtanadi launching SMS Gateway bagi pelanggan

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com