Minggu, 16 Desember 2018 | 00:30 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Polda NTB sita 1.000 liter solar

Kamis, 06 Desember 2018 - 18:45 WIB    |    Penulis : Rizky Sandra    |    Editor : Sigit Kurniawan
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2UowUvR
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2UowUvR

Elshinta.com - Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat menyita sekitar 1.000 liter bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang dibeli dari SPBU di wilayah Kabupaten Lombok Tengah dan diangkut menggunakan kendaraan roda empat jenis pick-up.

Kepala Subdit IV Bidang Industri Perdagangan Reskrimsus Polda NTB AKBP Darsono Setyo Adjie, di Mataram, Kamis (06/12), mengatakan BBM bersubsidi yang dikemas dalam 30 jeriken biru itu diamankan bersama kendaraan serta sopir dan kernetnya.

"Jadi sopirnya berinisial HB dan kernetnya berinisial MA, mereka ikut diamankan bersama barang bukti solar serta kendaraannya," kata Darsono, dikutip Antara.

Dia menjelaskan, keduanya diamankan bersama barang bukti solar pada Rabu (5/12) siang, karena diduga melanggar Undang Undang RI Nomor 22/2001 tentang Migas.

Seharusnya, kata Darsono, pembelian BBM bersubsidi dalam skala besar turut menyertakan surat legal yang dikeluarkan pemerintah.

"Jadi saat diamankan, keduanya tidak dapat menunjukkan surat yang legal, apakah sebagai pengecer atau distributor itu tidak ada, makanya kita amankan ke markas," ujarnya.

Kemudian dari hasil pemeriksaan, sopir dan kernetnya mengaku hanya orang suruhan. Keduanya disuruh oleh seseorang berinisial IM.

"Sore harinya langsung kita amankan IM," ujarnya pula.

Menurut keterangan IM, tujuan dari pembelian solar tanpa menggunakan surat legal tersebut, untuk dijual kembali kepada pengusaha tembakau.

"Dijual untuk orang-orang yang 'omprong' tembakau," ujar Darsono.

Karena itu, sopir, kernet, dan pesuruhnya kini telah ditetapkan sebagai tersangka dengan pelanggaran pasal pada Undang Undang RI Nomor 22/2001 tentang Migas.

"Untuk HB dan MA disangkakan dengan pasal 53 huruf b dan d. Untuk IM, pesuruhnya dikenakan pasal 55 dan atau pasal 53 huruf b dan d," katanya pula.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Peristiwa Hari Ini | 15 Desember 2018 - 23:56 WIB

Kabar duka, Rois Syuriah PCNU Malang, KH Buchori Amin meninggal dunia

Kriminalitas | 15 Desember 2018 - 21:59 WIB

Petani mengeluh sayurannya banyak dicuri

Politik | 15 Desember 2018 - 21:39 WIB

PDI Perjuangan sanggah tuduhan pengrusakan bendera Demokrat

Aktual Pemilu | 15 Desember 2018 - 21:07 WIB

KPU soal kotak suara berbahan karton

Elshinta.com - Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat menyita sekitar 1.000 liter bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang dibeli dari SPBU di wilayah Kabupaten Lombok Tengah dan diangkut menggunakan kendaraan roda empat jenis pick-up.

Kepala Subdit IV Bidang Industri Perdagangan Reskrimsus Polda NTB AKBP Darsono Setyo Adjie, di Mataram, Kamis (06/12), mengatakan BBM bersubsidi yang dikemas dalam 30 jeriken biru itu diamankan bersama kendaraan serta sopir dan kernetnya.

"Jadi sopirnya berinisial HB dan kernetnya berinisial MA, mereka ikut diamankan bersama barang bukti solar serta kendaraannya," kata Darsono, dikutip Antara.

Dia menjelaskan, keduanya diamankan bersama barang bukti solar pada Rabu (5/12) siang, karena diduga melanggar Undang Undang RI Nomor 22/2001 tentang Migas.

Seharusnya, kata Darsono, pembelian BBM bersubsidi dalam skala besar turut menyertakan surat legal yang dikeluarkan pemerintah.

"Jadi saat diamankan, keduanya tidak dapat menunjukkan surat yang legal, apakah sebagai pengecer atau distributor itu tidak ada, makanya kita amankan ke markas," ujarnya.

Kemudian dari hasil pemeriksaan, sopir dan kernetnya mengaku hanya orang suruhan. Keduanya disuruh oleh seseorang berinisial IM.

"Sore harinya langsung kita amankan IM," ujarnya pula.

Menurut keterangan IM, tujuan dari pembelian solar tanpa menggunakan surat legal tersebut, untuk dijual kembali kepada pengusaha tembakau.

"Dijual untuk orang-orang yang 'omprong' tembakau," ujar Darsono.

Karena itu, sopir, kernet, dan pesuruhnya kini telah ditetapkan sebagai tersangka dengan pelanggaran pasal pada Undang Undang RI Nomor 22/2001 tentang Migas.

"Untuk HB dan MA disangkakan dengan pasal 53 huruf b dan d. Untuk IM, pesuruhnya dikenakan pasal 55 dan atau pasal 53 huruf b dan d," katanya pula.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com