Senin, 17 Desember 2018 | 22:55 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Polda Kepulauan Riau gagalkan pengiriman 29 TKI ilegal

Kamis, 06 Desember 2018 - 20:08 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Sigit Kurniawan
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2SuAwKM
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2SuAwKM

Elshinta.com - Kepolisian Daerah Kepulauan Riau menggagalkan upaya pengiriman 29 orang Tenaga Kerja Indonesia secara ilegal ke Malaysia melalui jalur laut di sekitar Pantai Batu Besar, Nongsa, Batam, Senin (3/12).

Kepala Bidang Humas Polda Kepulauan Riau, Komisaris Besar Polisi S Erlangga, dalam keterangan pers, di Batam, Kamis (6/12) menyatakan, ke-29 orang calon pekerja migran itu hendak dikirim ke Malaysia untuk bekerja di sana. Berdasarkan keterangan, calon pekerja migran dimintai sejumlah dana, antara Rp1,7 juta hingga Rp2 juta untuk dapat bekerja di Malaysia.

Calon pekerja migran itu, berasal dari berbagai daerah di Indonesia, 15 orang di antaranya dari Flores (NTT), 6 orang dari Lombok (NTB), 4 orang dari Makassar (Sulawesi Selatan), dan masing-masing seorang dari Aceh, Bengkulu, Medan dan Sumba.

Semua pekerja migran itu datang ke Batam secara mandiri. Setelah tiba di kota industri, mereka baru dikumpulkan di penampungan sebagai persiapan pemberangkatan ke Malaysia. Polisi menahan empat orang yang diduga sebagai pelaku pengiriman pekerja migran ilegal ke Malaysia, yaitu Z bin R alias L yang bertindak sebagai penanggung jawab, RM alias I sebagai pemilik kapal pengangkut pekerja migran ilegal, M bin D sebagai penampung dan pengantar pekerja migral ilegal dan J yang diduga ikut mengarahkan pekerja migran untuk menaiki kapal.

Keempatnya diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang dan penempatan pekerja migran Indonesia secara ilegal, yang dijerat pasal 2, pasal 4, pasal 6 dan pasal 10 UU Nomor 21/2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan pasal 81 Jo pasal 83 UU Nomor 18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. "Ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara," kata dia, dikutip Antara.

Bersama empat tersangka, polisi juga menahan sejumlah barang bukti, yaitu satu buku kwitansi pembelian minyak kapal, uang tunai senilai Rp10.200.000, empat telepon seluler, dua unit kendaraan roda empat, lima buku paspor yang sudah ada tanda hitam, satu unit kapal pancung dengan dua mesin berdaya 200 pk dan 115 pk.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 22:06 WIB

Kapolsek Medan Timur gelar rakor penanganan pelanggaran Pemilu

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:47 WIB

Pengurus RT dan RW di Sukoharjo berseragam

Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 21:36 WIB

Gaet pemilih pemula, KPU Langkat `Goes to School`

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:24 WIB

Kepala DPMPTSP Kudus: Mapolres Kudus baru belum ber-IMB

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:13 WIB

Jelang libur Natal dan Tahun Baru, Kakorlantas pantau jalur mudik

Elshinta.com - Kepolisian Daerah Kepulauan Riau menggagalkan upaya pengiriman 29 orang Tenaga Kerja Indonesia secara ilegal ke Malaysia melalui jalur laut di sekitar Pantai Batu Besar, Nongsa, Batam, Senin (3/12).

Kepala Bidang Humas Polda Kepulauan Riau, Komisaris Besar Polisi S Erlangga, dalam keterangan pers, di Batam, Kamis (6/12) menyatakan, ke-29 orang calon pekerja migran itu hendak dikirim ke Malaysia untuk bekerja di sana. Berdasarkan keterangan, calon pekerja migran dimintai sejumlah dana, antara Rp1,7 juta hingga Rp2 juta untuk dapat bekerja di Malaysia.

Calon pekerja migran itu, berasal dari berbagai daerah di Indonesia, 15 orang di antaranya dari Flores (NTT), 6 orang dari Lombok (NTB), 4 orang dari Makassar (Sulawesi Selatan), dan masing-masing seorang dari Aceh, Bengkulu, Medan dan Sumba.

Semua pekerja migran itu datang ke Batam secara mandiri. Setelah tiba di kota industri, mereka baru dikumpulkan di penampungan sebagai persiapan pemberangkatan ke Malaysia. Polisi menahan empat orang yang diduga sebagai pelaku pengiriman pekerja migran ilegal ke Malaysia, yaitu Z bin R alias L yang bertindak sebagai penanggung jawab, RM alias I sebagai pemilik kapal pengangkut pekerja migran ilegal, M bin D sebagai penampung dan pengantar pekerja migral ilegal dan J yang diduga ikut mengarahkan pekerja migran untuk menaiki kapal.

Keempatnya diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang dan penempatan pekerja migran Indonesia secara ilegal, yang dijerat pasal 2, pasal 4, pasal 6 dan pasal 10 UU Nomor 21/2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan pasal 81 Jo pasal 83 UU Nomor 18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. "Ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara," kata dia, dikutip Antara.

Bersama empat tersangka, polisi juga menahan sejumlah barang bukti, yaitu satu buku kwitansi pembelian minyak kapal, uang tunai senilai Rp10.200.000, empat telepon seluler, dua unit kendaraan roda empat, lima buku paspor yang sudah ada tanda hitam, satu unit kapal pancung dengan dua mesin berdaya 200 pk dan 115 pk.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com