Senin, 17 Desember 2018 | 22:51 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Bamsoet: Indonesia hadapi ancaman perang idiologi

Jumat, 07 Desember 2018 - 17:29 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Dewi Rusiana
Ketua Badan Bela Negara FKPPI Bambang Soesatyo saat pembukaan Jambore Bela Negara FKPPI di Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta, Jumat (7/12). Sumber foto: https://bit.ly/2AZgGjF
Ketua Badan Bela Negara FKPPI Bambang Soesatyo saat pembukaan Jambore Bela Negara FKPPI di Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta, Jumat (7/12). Sumber foto: https://bit.ly/2AZgGjF

Elshinta.com - Ketua Badan Bela Negara Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan TNI/Polri Bambang Soesatyo menyatakan Indonesia menghadapali ancaman perang idiologi. 

"Yang kita hadapi sekarang adalah perang idiologi yang bertentangan dengan Pancasila," kata Bamsoet sapaan Bambang Soesatyo dalam acara pembukaan Jambore Bela Negara FKPPI di Perkemahan Ragunan Jakarta, Jumat (7/12). 

Bamsoet yang juga Ketua DPR menyebutkan Indonesia tidak sedang menghadapi ancaman fisik bersenjata dari negara lain. "Tetapi tidak berarti kita tidak menghadapi ancaman lain, kita sedang menghadapi ancaman kapitalisme. Kita juga tak boleh melupakan akan bangkitnya kembali komunisme dalam berbagai bentuk dan pemikiran," katanya. 

Ancaman yang menghadang bangsa Indonesia, katanya adalah perang modern yang dikelola dengan "proxy war". "Yang kita hadapi adalah kebebasan tanpa batas, ancaman radikalisme dan terorisme, tindakan intoleran serta merebaknya politik identitas dalam jagat perpolitikan kita," katanya. 

Menurut dia,  dalam rangka menghadapi ancaman itu semua maka bela negara menjadi kewajiban bagi seluruh warga negara. "Melalui kegiatan Jambore Bela Negara ini, FKPPI ingin meneguhkan kembali komitmen untuk membela negara, menyadarkan kembali seluruh kadernya jangan sampai lengah dari berbagai bentuk ancaman yang dapat menggangu kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya. 

Menurut dia,  FKPPI akan terus memantapkan wawasan kenegaraan dan wawasan perjuangan. Sosialisasi empat pilar kebangsaan tidak boleh terlupakan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, NKRI. "Itulah sebabnya kami menyelanggarakan Jambore Bela Negara," katanya, dikutip Antara.

Jambore nasional yang berlangsung 7-9 Desember 2018 itu diikuti oleh 1.350 kader dari seluruh Indonesia. Mereka akan mendapat wawasan tentang ideologi Pancasila serta ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, wawasan kebangsaan, masalah pertahanan dan masalah keamanan serta latihan fisik dan kebajikan. "Dengan materi yang demikian diharapkan para peserta dapat memiliki ketahanan mental serta ketrampilan bela negara," kata Bamsoet.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 22:06 WIB

Kapolsek Medan Timur gelar rakor penanganan pelanggaran Pemilu

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:47 WIB

Pengurus RT dan RW di Sukoharjo berseragam

Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 21:36 WIB

Gaet pemilih pemula, KPU Langkat `Goes to School`

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:24 WIB

Kepala DPMPTSP Kudus: Mapolres Kudus baru belum ber-IMB

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:13 WIB

Jelang libur Natal dan Tahun Baru, Kakorlantas pantau jalur mudik

Elshinta.com - Ketua Badan Bela Negara Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan TNI/Polri Bambang Soesatyo menyatakan Indonesia menghadapali ancaman perang idiologi. 

"Yang kita hadapi sekarang adalah perang idiologi yang bertentangan dengan Pancasila," kata Bamsoet sapaan Bambang Soesatyo dalam acara pembukaan Jambore Bela Negara FKPPI di Perkemahan Ragunan Jakarta, Jumat (7/12). 

Bamsoet yang juga Ketua DPR menyebutkan Indonesia tidak sedang menghadapi ancaman fisik bersenjata dari negara lain. "Tetapi tidak berarti kita tidak menghadapi ancaman lain, kita sedang menghadapi ancaman kapitalisme. Kita juga tak boleh melupakan akan bangkitnya kembali komunisme dalam berbagai bentuk dan pemikiran," katanya. 

Ancaman yang menghadang bangsa Indonesia, katanya adalah perang modern yang dikelola dengan "proxy war". "Yang kita hadapi adalah kebebasan tanpa batas, ancaman radikalisme dan terorisme, tindakan intoleran serta merebaknya politik identitas dalam jagat perpolitikan kita," katanya. 

Menurut dia,  dalam rangka menghadapi ancaman itu semua maka bela negara menjadi kewajiban bagi seluruh warga negara. "Melalui kegiatan Jambore Bela Negara ini, FKPPI ingin meneguhkan kembali komitmen untuk membela negara, menyadarkan kembali seluruh kadernya jangan sampai lengah dari berbagai bentuk ancaman yang dapat menggangu kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya. 

Menurut dia,  FKPPI akan terus memantapkan wawasan kenegaraan dan wawasan perjuangan. Sosialisasi empat pilar kebangsaan tidak boleh terlupakan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, NKRI. "Itulah sebabnya kami menyelanggarakan Jambore Bela Negara," katanya, dikutip Antara.

Jambore nasional yang berlangsung 7-9 Desember 2018 itu diikuti oleh 1.350 kader dari seluruh Indonesia. Mereka akan mendapat wawasan tentang ideologi Pancasila serta ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, wawasan kebangsaan, masalah pertahanan dan masalah keamanan serta latihan fisik dan kebajikan. "Dengan materi yang demikian diharapkan para peserta dapat memiliki ketahanan mental serta ketrampilan bela negara," kata Bamsoet.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com