Senin, 17 Desember 2018 | 22:54 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Ekonomi

Rupiah berbalik melemah, ini kata BI

Jumat, 07 Desember 2018 - 17:20 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Foto: Elshinta.com
Ilustrasi. Foto: Elshinta.com

Elshinta.com - Nilai tukar rupiah yang berbalik melemah dalam tiga hari terakhir diklaim Bank Indonesia karena berbagai sentimen ekonomi global dari mulai penangkapan pimpinan korporasi asal China, Huawei, hingga penjualan saham di bursa utama dunia.

Otoritas moneter Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat (7/12), menyebut, penangkapan Direktur Keuangan Huawei Meng Wanzhou di Kanada, telah direspons pelaku pasar sebagai indikasi bahwa perang dagang antara dua negara ekonomi raksasa, AS dan China, belum mereda pascapertemuan G-20.

Hal itu menimbulkan perkiraan bahwa Bank Sentral China juga akan melanjutkan respons dengan mendevaluasi mata uang Yuan.

"Perang dagang ini dikhawatirkan makin memperlambat ekonomi dunia. Respons dari Bank Sentral China yang melakukan depresiasi kurs yuan, sehingga hal ini yg membuat depresiasi kurs negara-negara berkembang," ujar Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, dikutip Antara

Pelaku pasar keuangan global juga sedang dibayangi oleh perkiraan melambatnya ekonomi AS berdasarkan ekspetasi pertumbuhan ekonomi dan pencapaian laba korporasi. Pasar saham di dunia bereaksi dengan fenomena ini dengan turunnya indeks saham dalam beberapa waktu terakhir. Imbal hasil obligasi AS sudah terbalik atau menurun (inverted yield) yang menggambarkan ekspetasi pasar akan terjadi perlambatan.

Atas dasar itu, penjualan saham mulai terjadi di bursa-bursa utama dunia yang merambah ke bursa saham di negara berkembang. Hal ini secara temporer berimbas kepada pergerakkan nilai mata uang.

"Kita lihat kenapa terjadi pelemahan kurs di emerging market (negara berkembang) temasuk Indonesia. Setelah terjadi penguatan, ada pelemahan kembali tentu adalah fenomena global," ujar Mirza.

Melihat pelemahan nilai rupiah yangagak lebih besar dari beberapa negara lain, menurut Mirza, hal itu karena Indonesia masih mengalami defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) domestik.

"Hantu" CAD itu yang membuat pelaku pasar memberikan respons lebih besar kepada Indonesia dibanding negara lain.

"Maka itu, kita jangan terlena dengan adanya penguatan kurs sebelumnya, karena kita harus selesaikan masalah CAD kita," ujar Mirza.

Jika melihat secara jangka panjang, penjualan saham di negara-negara maju justeru bisa berdampak positif bagi Indonesia karena akan terjadi arus modal masuk terhadap negara-negara berkembang. Imbasnya, pijakan bagi nilai tukar rupiah akan lebih kuat di 2019.

"Penjualan saham di negara maju dampak kepada negara berkembang temporer, nanti di 2019 ekonomi AS melambat arus modal masuk ke negara berkembang," ujar dia. 

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 22:06 WIB

Kapolsek Medan Timur gelar rakor penanganan pelanggaran Pemilu

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:47 WIB

Pengurus RT dan RW di Sukoharjo berseragam

Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 21:36 WIB

Gaet pemilih pemula, KPU Langkat `Goes to School`

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:24 WIB

Kepala DPMPTSP Kudus: Mapolres Kudus baru belum ber-IMB

Aktual Dalam Negeri | 17 Desember 2018 - 21:13 WIB

Jelang libur Natal dan Tahun Baru, Kakorlantas pantau jalur mudik

Elshinta.com - Nilai tukar rupiah yang berbalik melemah dalam tiga hari terakhir diklaim Bank Indonesia karena berbagai sentimen ekonomi global dari mulai penangkapan pimpinan korporasi asal China, Huawei, hingga penjualan saham di bursa utama dunia.

Otoritas moneter Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat (7/12), menyebut, penangkapan Direktur Keuangan Huawei Meng Wanzhou di Kanada, telah direspons pelaku pasar sebagai indikasi bahwa perang dagang antara dua negara ekonomi raksasa, AS dan China, belum mereda pascapertemuan G-20.

Hal itu menimbulkan perkiraan bahwa Bank Sentral China juga akan melanjutkan respons dengan mendevaluasi mata uang Yuan.

"Perang dagang ini dikhawatirkan makin memperlambat ekonomi dunia. Respons dari Bank Sentral China yang melakukan depresiasi kurs yuan, sehingga hal ini yg membuat depresiasi kurs negara-negara berkembang," ujar Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, dikutip Antara

Pelaku pasar keuangan global juga sedang dibayangi oleh perkiraan melambatnya ekonomi AS berdasarkan ekspetasi pertumbuhan ekonomi dan pencapaian laba korporasi. Pasar saham di dunia bereaksi dengan fenomena ini dengan turunnya indeks saham dalam beberapa waktu terakhir. Imbal hasil obligasi AS sudah terbalik atau menurun (inverted yield) yang menggambarkan ekspetasi pasar akan terjadi perlambatan.

Atas dasar itu, penjualan saham mulai terjadi di bursa-bursa utama dunia yang merambah ke bursa saham di negara berkembang. Hal ini secara temporer berimbas kepada pergerakkan nilai mata uang.

"Kita lihat kenapa terjadi pelemahan kurs di emerging market (negara berkembang) temasuk Indonesia. Setelah terjadi penguatan, ada pelemahan kembali tentu adalah fenomena global," ujar Mirza.

Melihat pelemahan nilai rupiah yangagak lebih besar dari beberapa negara lain, menurut Mirza, hal itu karena Indonesia masih mengalami defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) domestik.

"Hantu" CAD itu yang membuat pelaku pasar memberikan respons lebih besar kepada Indonesia dibanding negara lain.

"Maka itu, kita jangan terlena dengan adanya penguatan kurs sebelumnya, karena kita harus selesaikan masalah CAD kita," ujar Mirza.

Jika melihat secara jangka panjang, penjualan saham di negara-negara maju justeru bisa berdampak positif bagi Indonesia karena akan terjadi arus modal masuk terhadap negara-negara berkembang. Imbasnya, pijakan bagi nilai tukar rupiah akan lebih kuat di 2019.

"Penjualan saham di negara maju dampak kepada negara berkembang temporer, nanti di 2019 ekonomi AS melambat arus modal masuk ke negara berkembang," ujar dia. 

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com