Jumat, 14 Desember 2018 | 20:42 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Wapres: Indonesia belum sepenuhnya revolusi industri 4.0

Sabtu, 08 Desember 2018 - 21:32 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Wapres Jusuf Kalla, saat menghadiri penutupan Silaknas dan Milad ke-28 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Bandarlampung, Sabtu (8/12). Sumber Foto: https://bit.ly/2zNgJzk
Wapres Jusuf Kalla, saat menghadiri penutupan Silaknas dan Milad ke-28 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Bandarlampung, Sabtu (8/12). Sumber Foto: https://bit.ly/2zNgJzk

Elshinta.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Indonesia belum sepenuhnya menerapkan Revolusi Industri Keempat atau 4.0 karena masih ada industri yang menggunakan teknologi revolusi pertama, kedua, dan ketiga.

"Dalam praktiknya, kita ini masih ada bagian yang masih di Revolusi Industri Pertama, Kedua, dan Ketiga. Semua orang bermimpi untuk 4.0, padahal masih ada yang pertama, masih ada petani kita yang menggunakan cangkul," kata Wapres Jusuf Kalla, saat menghadiri penutupan Silaknas dan Milad ke-28 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Bandarlampung, Sabtu (8/12).

Menurut JK, memasuki era revolusi industri keempat bukan berarti Indonesia telah selesai dengan perkembangan industri sebelumnya.

Wapres menyatakan, pada beberapa bidang industri di Tanah Air masih menerapkan teknologi lama, seperti penggunaan mesin uap, pengerjaan manufaktur dengan listrik dan komputerisasi. "Kita ini seakan-akan dunia akan dikuasai 4.0, kita masih pertama ada, banyak industri yang serupa dengan bengkel. Revolusi ketiga dengan ditemukannya komputer, kita masih banyak orang tidak menguasai itu," ujar JK lagi, seperti dikutip dari Antara.

Revolusi industri yang terus meningkat seiring perkembangan zaman, lanjut JK, memang menjadi sebuah keniscayaan bagi sebuah negara untuk mengembangkan perekonomiannya di bidang industri.

Namun, perkembangan revolusi industri tersebut tidak semuanya cocok untuk diterapkan di sebuah negara.

JK mencontohkan, Revolusi Industri 4.0 cocok diterapkan di Jepang karena negara dengan penduduk yang semakin sedikit pasti memerlukan kerja robot dan otomasi dalam memajukan perindustriannya. "Memang di negara-negara yang penduduknya kurang, menurun, cenderung menjadi tua, kayak di Jepang, itu menjadi keharusan, karena tanpa robotisasi dia tidak bisa berfungsi lagi," kata JK.

Bahkan Negeri Sakura tersebut sedang mempersiapkan masyarakatnya untuk menyambut Revolusi Industri 5.0 pada tahun 2025 mendatang. "Saya tidak tahu nanti apa yang kelima, tentu di atasnya robotisasi dan otomatisasi. Mereka, Jepang, sudah mempersiapkan masyarakatnya menerima itu," kata JK pula.

Karena itu, untuk mengikuti perkembangan teknologi khususnya di bidang industri, Wapres berharap organisasi cendekiawan seperti ICMI dapat menciptakan generasi penerus agar siap menghadapi revolusi industri. "Kita belajar dari banyak organisasi, karena itulah maka bentuk organisasi ICMI ini harus memperkuat kelompok-kelompok keilmuan, baru bisa menjadi organisasi yang kuat," ujar Wapres JK menegaskan.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 14 Desember 2018 - 20:36 WIB

BPJS Kesehatan-Tangsel targetkan UHC 95 persen penduduk

Aktual Dalam Negeri | 14 Desember 2018 - 20:25 WIB

Bebani anggaran daerah, mobil dinas Pemkab Kudus dilelang

Aktual Dalam Negeri | 14 Desember 2018 - 20:18 WIB

FPRB amati titik gempa di Lumajang

Megapolitan | 14 Desember 2018 - 20:07 WIB

Pemprov DKI segera umumkan tarif MRT dan LRT

Aktual Dalam Negeri | 14 Desember 2018 - 19:55 WIB

Presiden Jokowi: Pembangunan jalan tol jangan hanya dilihat tolnya semata

Elshinta.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Indonesia belum sepenuhnya menerapkan Revolusi Industri Keempat atau 4.0 karena masih ada industri yang menggunakan teknologi revolusi pertama, kedua, dan ketiga.

"Dalam praktiknya, kita ini masih ada bagian yang masih di Revolusi Industri Pertama, Kedua, dan Ketiga. Semua orang bermimpi untuk 4.0, padahal masih ada yang pertama, masih ada petani kita yang menggunakan cangkul," kata Wapres Jusuf Kalla, saat menghadiri penutupan Silaknas dan Milad ke-28 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Bandarlampung, Sabtu (8/12).

Menurut JK, memasuki era revolusi industri keempat bukan berarti Indonesia telah selesai dengan perkembangan industri sebelumnya.

Wapres menyatakan, pada beberapa bidang industri di Tanah Air masih menerapkan teknologi lama, seperti penggunaan mesin uap, pengerjaan manufaktur dengan listrik dan komputerisasi. "Kita ini seakan-akan dunia akan dikuasai 4.0, kita masih pertama ada, banyak industri yang serupa dengan bengkel. Revolusi ketiga dengan ditemukannya komputer, kita masih banyak orang tidak menguasai itu," ujar JK lagi, seperti dikutip dari Antara.

Revolusi industri yang terus meningkat seiring perkembangan zaman, lanjut JK, memang menjadi sebuah keniscayaan bagi sebuah negara untuk mengembangkan perekonomiannya di bidang industri.

Namun, perkembangan revolusi industri tersebut tidak semuanya cocok untuk diterapkan di sebuah negara.

JK mencontohkan, Revolusi Industri 4.0 cocok diterapkan di Jepang karena negara dengan penduduk yang semakin sedikit pasti memerlukan kerja robot dan otomasi dalam memajukan perindustriannya. "Memang di negara-negara yang penduduknya kurang, menurun, cenderung menjadi tua, kayak di Jepang, itu menjadi keharusan, karena tanpa robotisasi dia tidak bisa berfungsi lagi," kata JK.

Bahkan Negeri Sakura tersebut sedang mempersiapkan masyarakatnya untuk menyambut Revolusi Industri 5.0 pada tahun 2025 mendatang. "Saya tidak tahu nanti apa yang kelima, tentu di atasnya robotisasi dan otomatisasi. Mereka, Jepang, sudah mempersiapkan masyarakatnya menerima itu," kata JK pula.

Karena itu, untuk mengikuti perkembangan teknologi khususnya di bidang industri, Wapres berharap organisasi cendekiawan seperti ICMI dapat menciptakan generasi penerus agar siap menghadapi revolusi industri. "Kita belajar dari banyak organisasi, karena itulah maka bentuk organisasi ICMI ini harus memperkuat kelompok-kelompok keilmuan, baru bisa menjadi organisasi yang kuat," ujar Wapres JK menegaskan.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 14 Desember 2018 - 20:18 WIB

FPRB amati titik gempa di Lumajang

Jumat, 14 Desember 2018 - 20:07 WIB

Pemprov DKI segera umumkan tarif MRT dan LRT

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com