Minggu, 16 Desember 2018 | 00:27 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Dalam Negeri / Aktual Dalam Negeri

Kemenko Kemaritiman cari solusi pemasaran garam tradisional

Minggu, 09 Desember 2018 - 08:39 WIB    |    Penulis : Fajar Nugraha    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2RLLWd2
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2RLLWd2

Elshinta.com - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menggandeng berbagai pihak dalam rangka mencari solusi terbaik untuk memasarkan garam tradisional yang dihasilkan sejumlah daerah penghasil garam di Nusantara.

Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral dan Energi Non Konvensional Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Amalyos Chan dalam rilis yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu (8/12), menyatakan, Indonesia memiliki tradisi pengolahan garam rakyat yang sangat istimewa.

"Indonesia memiliki ragam tradisi pengolahan garam dari laut hingga gunung. Di antaranya diketahui garam laut bali, yakni Amed, Kusamba, Tejakula, Pemuteran yang juga dikenal dengan istilah garam artisan, garam gunung yang diproduksi di Gunung Krayan, Kalimantan Utara, garam bledug kuwu sering disebut garam bleng yang berasal dari lumpur vulkanik di Grobogan, Jawa Tengah, hingga garam dari tanaman di Papua," ujar Amalyos.

Menurut dia, semua produk tersebut diolah secara tradisional, dengan kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya tradisi yang berlangsung turun temurun.

Ia mengemukakan bahwa garam yang tidak diproses fortifikasi yodium ini tidak dapat diedarkan secara luas karena kebijakan pemerintah hanya mengakui garam beryodium sebagai garam konsumsi.

Pada sisi yang lain, lanjutnya, keunikan cara produksi telah membuahkan sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia karena memiliki nilai dagang. Garam artisan dari Amed, Bali Utara telah memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (IG).

Diperlukan pengecualian untuk garam seperti ini, karena dapat menjadi sumber pendapatan yang layak bagi petambak garam sebab harganya lebih mahal dari garam dapur biasa.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Peristiwa Hari Ini | 15 Desember 2018 - 23:56 WIB

Kabar duka, Rois Syuriah PCNU Malang, KH Buchori Amin meninggal dunia

Kriminalitas | 15 Desember 2018 - 21:59 WIB

Petani mengeluh sayurannya banyak dicuri

Politik | 15 Desember 2018 - 21:39 WIB

PDI Perjuangan sanggah tuduhan pengrusakan bendera Demokrat

Aktual Pemilu | 15 Desember 2018 - 21:07 WIB

KPU soal kotak suara berbahan karton

Elshinta.com - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menggandeng berbagai pihak dalam rangka mencari solusi terbaik untuk memasarkan garam tradisional yang dihasilkan sejumlah daerah penghasil garam di Nusantara.

Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral dan Energi Non Konvensional Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Amalyos Chan dalam rilis yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu (8/12), menyatakan, Indonesia memiliki tradisi pengolahan garam rakyat yang sangat istimewa.

"Indonesia memiliki ragam tradisi pengolahan garam dari laut hingga gunung. Di antaranya diketahui garam laut bali, yakni Amed, Kusamba, Tejakula, Pemuteran yang juga dikenal dengan istilah garam artisan, garam gunung yang diproduksi di Gunung Krayan, Kalimantan Utara, garam bledug kuwu sering disebut garam bleng yang berasal dari lumpur vulkanik di Grobogan, Jawa Tengah, hingga garam dari tanaman di Papua," ujar Amalyos.

Menurut dia, semua produk tersebut diolah secara tradisional, dengan kearifan lokal yang merupakan bagian dari budaya tradisi yang berlangsung turun temurun.

Ia mengemukakan bahwa garam yang tidak diproses fortifikasi yodium ini tidak dapat diedarkan secara luas karena kebijakan pemerintah hanya mengakui garam beryodium sebagai garam konsumsi.

Pada sisi yang lain, lanjutnya, keunikan cara produksi telah membuahkan sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia karena memiliki nilai dagang. Garam artisan dari Amed, Bali Utara telah memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (IG).

Diperlukan pengecualian untuk garam seperti ini, karena dapat menjadi sumber pendapatan yang layak bagi petambak garam sebab harganya lebih mahal dari garam dapur biasa.

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com