KJRI Jeddah tuntaskan permasalahan 13 PMI ditampung di shelter, kisah mereka memilukan
Elshinta
Kamis, 10 Januari 2019 - 06:55 WIB | Penulis : Dewi Rusiana | Editor : Administrator
KJRI Jeddah tuntaskan permasalahan 13 PMI ditampung di shelter, kisah mereka memilukan
Dadi Muksin, staf naker KJRI Jeddah (kedua dari kiri), mengawal 9 PMI dengan berbagai kasusnya-. Foto: KJRI Jeddah

Elshinta.com - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah berhasil menuntaskan berbagai kasus yang dialami oleh sebanyak 13 Pekerja Migran Indonesia (PMI). Mereka sebelumnya ditempatkan sementara di shelter KJRI sambil menunggu penyelesaian kasusnya.

Informasi KJRI Jeddah melalui siaran pers yang diterima Redaksi elshinta.com, Kamis (10/1), aneka permasalahan yang dialami 13 PMI tersebut antara lain, tidak digaji, tidak dipulangkan hingga belasan tahun, mendapat perlakuan kasar pihak majikan dan keluarganya, menjadi Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dan korban fitnah majikan yang berujung pada pemenjaraan.

PMI berinisial SRS (45) misalnya, baru sekitar sebulan tiba di Arab Saudi. Dia diselundupkan oleh seorang oknum untuk bekerja ke Arab Saudi menggunakan visa ziarah (kunjungan). Setibanya di Bandara King Abdulaziz Jeddah, perempuan asal Lombok Tengah yang hanya lulusan SD ini tidak dijemput oleh calon pengguna jasa. Beruntung dia ditemukan oleh seorang staf KJRI yang tengah piket malam itu dan dibawa ke shelter. 

Nasib NST lebih tragis. Perempuan berusia 44 tahun menjadi korban perdagangan orang. Dia juga diberangkatkan ke Arab Saudi dengan visa ziarah dalam kondisi mental yang kurang siap untuk bekerja. Perempuan asal Sukabumi ini akhirnya tidak betah dan mengalami depresi. Sang majikan memberinya 200 riyal dan menyuruhnya naik bus untuk pergi ke KJRI Jeddah. Tidak tahu harus berbuat apa dan harus ke mana, dia akhirnya dimasukkan ke rumah sakit umum King Fahad Jeddah dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Ya begitulah dia kesehariannya. Kadang dia nyambung, kadang nggak. Kadang masuk ke ruangan saya dan gak mau keluar, tidur di sana. Baca koran terbalik," terang Mochamad Yusuf, Konsul Tenaga Kerja KJRI Jeddah.

Berdasarkan pengakuan keluarga, NST diberangkatkan oleh seorang calo berinisial HS ke Arab Saudi meskipun dia masih dalam masa perawatan lantaran menderita gangguan kejiwaan. 

Sejak Pemerintah RI memberlakukan moratorium pengiriman TKI informal awal 2011 ke Arab Saudi, marak kasus "penyanderaan" asisten rumah tangga (ART) oleh pengguna jasa (majikan). Kasus tersebut juga dialami seorang ibu asal Malang Jawa Timur berinisial KJT. Perempuan kelahiran 1961 ini telah 13 tahun bekerja di daerah Al-Namas, kota kecil berhawa dingin dan berjarak sekitar 550 km dari KJRI Jeddah.

Lain lagi kisah yang dialami ROS. Perempuan kelahiran 1982 ini telah sepuluh tahun bekerja di satu keluarga Saudi di Najran, sebuah provinsi yang terletak di sisi barat daya Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman.

Karena rumah majikan yang sangat jauh dari KJRI Jeddah, yaitu sekitar 1000 km, perempuan asal Cianjur ini harus menunggu momen yang pas agar bisa kabur ke KJRI. Suatu ketika saat liburan, ROS diajak majikan jalan-jalan ke Jeddah. Ada kesempatan, dia melarikan diri ke KJRI dan meminta bantuan agar hak-haknya diperjuangkan, antara lain, gaji yang tidak dibayar majikan selama 7 tahun.

Kasus DSTS malah lebih menegangkan. Bukan hanya masalah "ditahan" majikan dan sisa gaji yang tidak ditunaikan sebesar 39.000 riyal atau setara Rp140 juta. Perempuan yang telah bekerja selama 11 tahun sebagai ART di Jeddah itu kerap menerima perlakuan kasar dari majikan. Dia kerap dipukuli dan ditampar.

Kasus DSTS terungkap ketika dia bersama majikan hendak melakukan pergantian paspor. Sesuai prosedur, KJRI Jeddah menerapkan kebijakan wawancara untuk mengorek keluhan dan permasalahan, khusus dari PMI yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Perempuan kelahiran Cirebon 1983 ini akhirnya diputuskan diamankan sementara di shelter KJRI dan kasusnya dibawa ke kantor tenaga kerja setempat. Sang majikan mengamuk lantaran gagal membawa dia pulang kembali ke rumah. Karena berbuat onar di premis diplomatik, majikan nakal ini akhirnya digelandang keluar untuk diproses lebih lanjut.

Nasib memilukan juga dialami PMI lainnya berinisial ASP. Ibu kelahiran Kendal 1969 ini telah bekerja selama 10 tahun sebagai ART dengan upah bulanan di bawah standar, yaitu 800 riyal. Sudah sisa gajinya dikemplang, ia malah dilaporkan majikan ke polisi  atas tuduhan pencurian. Menurut penuturan ASP, sisa gajinya yang belum dibayarkan majikan senilai 72.200 riyal atau sekitar Rp260 juta. Akhirnya, dia dipenjara selama sebulan sebelum akhirnya dibebaskan oleh KJRI.

"Masih banyak rupa-rupa kasus PMI, khususnya kaum ibu yang bekerja di sektor rumah tangga. Sebagian telah berhasil diselesaikan, sebagian lagi masih kami perjuangkan," ujar Mohamad Hery Saripudin, Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah.

Perlu perhatian bersama

Perkembangan penanganan setiap kasus PMI tersebut, imbuh Konjen, selalu dilaporkan ke instansi berwenang di Jakarta dan pemerintah daerah agar menjadi perhatian bersama.

"Kepedulian bersama dari para pemangku otoritas insya Allah akan memberikan jaminan perlindungan yang lebih bagi para PMI, sehingga angka permasalahan yang menimpa mereka bisa ditekan," kata Konjen.

Konjen juga menyesalkan maraknya penempatan PMI secara unprocedural meskipun telah dilakukan penandatanganan joint statement antara Menteri perburuhan Arab Saudi dan Menteri Tenaga Kerja Indonesia.

"Belakangan marak WNI terutama kaum perempuan yang diberangkatkan dengan visa ziarah. Dari sini kita perlunya harus lebih hati-hati lagi terhadap praktek penyamaran pengiriman tenaga kerja dengan berpura-pura ziarah/kunjungan wisata," ujar Konjen.

Selain itu, Konjen Hery juga berharap agar aparat berwenang melakukan penegakan hukum kepada para pelaku penempatan PMI secara tidak prosedural yang kadang mengabaikan sisi kemanusiaan.

"Masa orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan dan sedang dirawat diberangkatkan juga. Ini kan sudah keterlaluan," sesal Konjen.

Saat ini ke-13 pekerja migran Indonesia tersebut telah dipulangkan, sembilan di antaranya dikawal langsung oleh petugas dari KJRI Jeddah pada 7 Januari 2019 silam. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Emas berjangka menguat pada level tertinggi 14 bulan
Rabu, 19 Juni 2019 - 09:46 WIB
Elshinta.com - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange menguat pada ak...
Presiden: Iran tidak akan perang melawan negara manapun
Selasa, 18 Juni 2019 - 18:47 WIB
Elshinta.com - Iran tidak akan perang melawan negara manapun, kata Presiden Hassan Rouhani pada...
Harga emas berjangka turun akibat aksi ambil untung
Selasa, 18 Juni 2019 - 08:46 WIB
Elshinta.com - Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange turun tip...
Dolar melayang di dekat tertinggi dua minggu, jelang pertemuan The Fed
Selasa, 18 Juni 2019 - 08:34 WIB
Elshinta.com - Kurs dolar Amerika Serikat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya ham...
Presiden Jokowi temui pansel calon pimpinan KPK
Senin, 17 Juni 2019 - 09:55 WIB
Elshinta.com - Presiden Joko Widodo menemui sembilan orang anggota panitia seleksi (pansel) pim...
Diplomat senior Uni Eropa dukung kesepakatan nuklir Iran
Senin, 17 Juni 2019 - 09:45 WIB
Elshinta.com - Diplomat paling senior kedua Uni Eropa menegaskan dukungan blok tersebut terhada...
Minyak naik di perdagangan Asia pascaserangan tanker di Timur Tengah
Senin, 17 Juni 2019 - 09:26 WIB
Elshinta.com - Harga minyak naik di perdagangan Asia pada Senin (17/6) pagi, setelah Menteri Lu...
Arab Saudi salahkan Iran atas serangan terhadap tanker
Minggu, 16 Juni 2019 - 13:36 WIB
Elshinta.com - Putra Mahkota Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua kapal tanke...
Indonesia suarakan solidaritas terhadap pekerja Palestina dalam pertemuan ILO
Sabtu, 15 Juni 2019 - 18:13 WIB
Elshinta.com - Presiden Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi) Mohammad Syaiful Bahri Anshori ...
Emas naik setelah pasar saham AS melemah
Kamis, 13 Juni 2019 - 10:25 WIB
Elshinta.com - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange menetap lebih t...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)