Penderita HIV AIDS terancam tidak bisa konsumsi obat Antiretroviral
Jumat, 11 Januari 2019 - 06:15 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2FsKlG1

Elshinta.com - Penderita HIV AIDS di Indonesia terancam tidak bisa mendapatkan obat Antiretroviral Fixed Dose Combination jenis Tenofovir, Lamivudin, Efavirens (ARV FDC TLE) untuk terapi pengobatan karena program pengadaan obat tersebut pada tahun 2018 gagal terlaksana.

"Proses pengadaan obat ARV Fixed Dose Combination jenis TLE ini di tahun 2018 dinyatakan gagal. Alokasi dana APBN tidak bisa tersalurkan untuk membeli obat tersebut," kata Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (10/01).

Proses penunjukan langsung dengan dua kali negosiasi harga, gagal karena PT Kimia Farma tidak setuju dengan harga yang ditawarkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan.

Kemudian dilakukan proses lelang terbatas dengan peserta lelang PT Kimia Farma dan PT Indofarma Global Medika, namun proses ini juga tidak menghasilkan pemenang sehingga menyebabkan terjadinya kekosongan persediaan obat ARV TLE di berbagai tempat.

Selanjutnya Kemenkes melakukan pengadaan darurat dengan menggunakan dana bantuan donor Global Fund dan membeli obat ARV TLE langsung di India. "Obat sudah sampai di Jakarta awal Desember 2018 sejumlah 220 ribu botol dan hanya cukup sampai bulan Maret 2019," katanya, seperti dikutip Antara.

Setelah stok obat ARV TLE diperkirakan habis pada Maret 2019, proses pengadaan selanjutnya masih belum dapat dipastikan.

Saat ini mayoritas ODHA di Indonesia menggunakan obat ARV TLE sebagai terapi pengobatan. Aditya memperkirakan, ada sekitar 631.635 orang HIV dan AIDS pada tahun 2018.

Meski tidak menyembuhkan, obat ARV TLE ini mampu menekan jumlah virus HIV di dalam tubuh pengidapnya. "Sehingga ODHA bisa tetap sehat dan berpeluang hidup lebih lama," katanya.

Namun bila ODHA tidak mengkonsumsi obat ini setiap hari secara rutin, maka akan menimbulkan resistensi virus terhadap obat tersebut. "Kalau tidak diminum setiap hari, risikonya terjadi resistensi terhadap obat," jelasnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Senin, 14 Januari 2019 - 21:33 WIB
Elshinta.com - ISPA atau infeksi saluran pernafasan akut, asma, pneumonia hingga jantung k...
Senin, 14 Januari 2019 - 06:46 WIB
Elshinta.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat mewaspadai penyakit d...
Minggu, 13 Januari 2019 - 17:57 WIB
Elshinta.com - Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengatakan minuman manis yang ding...
Jumat, 11 Januari 2019 - 07:07 WIB
Elshinta.com - Direktur Eksekutif LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana memin...
Jumat, 11 Januari 2019 - 06:15 WIB
Elshinta.com - Penderita HIV AIDS di Indonesia terancam tidak bisa mendapatkan obat Antire...
Kamis, 10 Januari 2019 - 20:36 WIB
Elshinta.com - Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengingatkan kepada masyarakat agar memperha...
Rabu, 09 Januari 2019 - 14:23 WIB
Elshinta.com - Alimuddin Arfah adalah peserta JKN-KIS yang tinggal di Kota Tarakan, Kalima...
Rabu, 09 Januari 2019 - 05:00 WIB
Elshinta.com - Minuman bervitamin ternyata tidak benar-benar bermanfaat bagi tubuh. Hal it...
Rabu, 09 Januari 2019 - 04:09 WIB
Elshinta.com - Seseorang dengan metabolime tubuh lambat biasanya mengalami gejala seperti ...
Rabu, 09 Januari 2019 - 03:11 WIB
Elshinta.com - Penelitian menunjukkan bahwa meditasi secara teratur dapat menjadi strategi...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)