Tim Gabungan dibentuk ungkap penyerangan Novel Baswedan
Jumat, 11 Januari 2019 - 20:26 WIB | Penulis : Angga Kusuma | Editor : Administrator
Penyidik KPK Novel Baswedan. Sumber foto: https://bit.ly/2FpBhBv

Elshinta.com - Tim Gabungan yang terdiri atas kepolisian, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tokoh masyarakat, pakar DNA dan sejumlah pihak dibentuk untuk mengungkap kasus penyerangan kepada penyidik KPK Novel Baswedan.

"Benar, Kapolri sudah mengeluarkan surat perintah tersebut atas tindak lanjut rekomendasi Komnas HAM terhadap ranah Kepolisian Republik Indonesia dalam mengusut kasus penyiraman air keras," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol. M Iqbal di Jakarta, Jumat (11/1).

Dalam surat tugas Kapolri bernomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 yang dikeluarkan pada 8 Januari 2019, kepolisian dalam tim gabungan bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan atas kekerasan yang terjadi kepada Novel Baswedan. Surat tugas tersebut berlaku selama enam bulan mulai 8 Januari 2019 sampai 7 Juli 2019.

Sementara itu, Tim Pemantauan Proses Hukum Komnas HAM memberikan rekomendasi kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Presiden Joko Widodo untuk membentuk tim gabungan, baik dari Polri, KPK, pakar, dan beberapa tokoh masyarakat.

Komnas HAM juga memberikan rekomendasi kepada KPK untuk melakukan langkah-langkah hukum atas peristiwa penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan yang patut diduga sebagai langkah menghalangi jalannya proses peradilan atau "obstruction of justice" oleh pihak-pihak yang sedang disidik oleh Novel Baswedan dan kawan-kawan serta mengembangkan sistem keamanan bagi seluruh jajaran KPK.

Selain itu, Komnas HAM merekomendasikan agar Presiden melakukan pengawasan, pemantauan, dan memastikan bahwa tim gabungan tersebut bekerja, demikian Antara.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rabu, 16 Januari 2019 - 21:35 WIB
Elshinta.com - Komisioner KPU Ilham Saputra mengatakan, KPU memutuskan tetap tidak melolos...
Rabu, 16 Januari 2019 - 20:58 WIB
Elshinta.com - Komisi VIII DPR RI hingga saat ini masih terus menghimpun masukan dari berb...
Rabu, 16 Januari 2019 - 20:24 WIB
Elshinta.com - Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) membuka tahun 2019 dengan...
Rabu, 16 Januari 2019 - 18:19 WIB
Elshinta.com - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menegaskan semua sistem pembayaran di pel...
Rabu, 16 Januari 2019 - 18:09 WIB
Elshinta.com - Sebanyak 1.650 petugas kebersihan di Kota Bandung akan divaksinasi tetanus ...
Rabu, 16 Januari 2019 - 17:35 WIB
Elshinta.com - Kantor Pelayanan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe madya cukai Kudus ma...
Rabu, 16 Januari 2019 - 17:14 WIB
Elshinta.com - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan personelnya siap mendukung ...
Rabu, 16 Januari 2019 - 16:17 WIB
Elshinta.com - Sebanyak 2.000 polisi dikerahkan untuk mengamankan debat perdana capres-caw...
Rabu, 16 Januari 2019 - 15:12 WIB
Elshinta.com - Presiden Indonesia Joko Widodo meminta kepada siapapun saat berbicara soal ...
Rabu, 16 Januari 2019 - 14:46 WIB
Elshinta.com - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menerima kunjungan Ketua Umum Pengurus...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)