MemoRI 25 Maret
De facto RI di Linggarjati
Elshinta
Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Dewi Rusiana
De facto RI di Linggarjati
Gedung Linggar Jati. Foto: Ist/Elshinta.

Elshinta.com - Perjalanan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 ternyata belumlah mulus. Pasca kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, tentara sekutu yang melucuti tentara Jepang di Indonesia ternyata membawa serta Netherlands-Indies Civil Administration (NICA).

Ini tentu menimbulkan kecurigaan pemerintah dan rakyat Indonesia yang menilai Belanda kembali ingin mencoba berkuasa dan menjajah kembali Indonesia. Kondisi ini membuat rakyat Indonesia kembali mengangkat senjata. Pertempuran-pertempuran kembali terjadi. Sebut saja, pertempuran 10 November, pertempuran Ambarawa, Medan area, Pertempuran Merah Putih di Manado, dll.

Sering terjadinya pertempuran yang merugikan kedua belah pihak membuat Kerajaan Belanda dan Indonesia sepakat melakukan perundingan untuk mencari jalan penyelesaian. 

Didahului perundingan di Hooge Veluwe, perundingan lanjutan pun digelar di sebuah rumah milik warga Belanda di Linggarjati pada 10 November 1946. Linggarjati atau Linggajati adalah nama sebuah desa di Kecamatan Cilimus, Kuningan, Jawa Barat di kaki Gunung Ciremai. 

Perundingan digelar melibatkan pihak Indonesia, Belanda dan Inggris sebagai penengah. Pihak Indonesia diwakili Sutan Syahrir, Muhammad Roem, Dr. A.K Gani dan Mr. Susanto Tirtodipuro. Sementara Belanda diwakili Prof. Schermerhorn, Van Poll dan De Boer. Inggris sebagai pihak penengah diwakili Lord Killearn.

Sering terjadinya ketidaksepahaman antara Indonesia dan Belanda membuat perjanjian Linggarjati baru ditandatangani pada 25 Maret 1947 di Istana Negara, Jakarta. 

Adapun isi perjanjian Linggarjati adalah:
- Belanda mengakui secara de facto RI dengan daerah kekuasaan meliputi Madura, Sumatera dan Jawa. Belanda harus pergi meninggalkan daerah de facto tersebut paling lambat 1 Januari 1949. 
- Belanda dan Republik Indonesia sepakat membentuk negara serikat dengan nama Negara Indonesia Serikat (RIS) terdiri dari RI, Timur Besar dan Kalimantan.
- Belanda dan RIS sepakat untuk membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketua.

Perjanjian Linggarjati memang memberi dampak positif dan negatif bagi Indonesia. Di satu sisi, dampak positif Indonesia diakui sebagai negara dan mendapat pengakuan secara de facto dari Belanda, namun di sisi negatif wilayah Indonesia semakin sempit.

Dalam perkembangannya, Perjanjian Linggarjati tidak berjalan baik. Pada 20 Juli 1947, Gubernur Jenderal H.J Van Mook memutuskan perjanjian secara sepihak dan mengumumkan bahwa Belanda tidak terkait dengan perjanjian Linggarjati hingga dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, dimulailah agresi militer Belanda I. Rakyat kembali angkat senjata melawan Belanda. 

Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada 25 Maret 1947, memang tidak dapat dipisahkan dari nama Linggarjati itu sendiri. Konon, nama Linggarjati juga terkait dengan kisah perjalanan Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Wali Songo. 

Menurut Sunan Gunung Jati, kawasan ini disebut Linggajati karena merupakan tempat linggih (lingga) Sunan Gunung Jati. Sementara menurut Sunan Bonang, Linggajati diartikan sebelum Sunan Gunung Jati sampai ke puncak Gunung Gede, dia linggar (berangkat) meninggalkan tempat setelah beristirahat tanpa mengendarai kendaraan melainkan memakai ilmu sejati. 

Sunan Kudus menyebutkan, nama Linggajati berasal dari kata nalingakeun ilmu sejati, karena di tempat inilah para Wali Songo bermusyawarah dan menjaga rahasia ilmu sejati agar tidak diketahui oleh orang banyak. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
KSSK: Stabilitas sistem keuangan terjaga topang pemulihan ekonomi
Selasa, 27 Oktober 2020 - 18:13 WIB
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan stabilitas sistem keuangan nasional pada triwula...
BNI sinergi dengan Hipmi untuk dorong pemberdayaan UMKM
Selasa, 27 Oktober 2020 - 17:58 WIB
PT Bank Negara Indonesia (BNI) bersinergi dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) untuk men...
Kodam Jaya siapkan perahu fiberglass untuk tanggulangi banjir Jakarta
Selasa, 27 Oktober 2020 - 17:33 WIB
 Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya berinovasi menyiapkan sejumlah perahu berbahan fiberglass (s...
Di tengah pandemi kinerja industri keuangan nonbank di Sumbar menurun
Selasa, 27 Oktober 2020 - 17:18 WIB
Otoritas Jasa Keuangan mencatat kinerja industri keuangan nonbank di Sumatera Barat mengalami penuru...
Kemristek: 3 perusahaan swasta produksi 1 miliar dosis vaksin COVID-19
Selasa, 27 Oktober 2020 - 17:03 WIB
Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) sudah menggandeng sejumlah perusahaan swasta dan tiga di...
Kasus positif COVID-19 Indonesia bertambah 3.520 jadi 396.454 kasus
Selasa, 27 Oktober 2020 - 16:48 WIB
Kasus terkonfirmasi positif COVID-19 yang dilaporkan melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19 per Se...
PSBB Proporsional Bodebek diperpanjang hingga 25 November
Selasa, 27 Oktober 2020 - 16:32 WIB
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional...
Masyarakat diimbau waspadai penyebaran COVID-19 selama libur panjang
Selasa, 27 Oktober 2020 - 16:14 WIB
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai penyebaran virus Corona jenis baru penyebab COVID-19, selama lib...
Menaker terbitkan SE Penetapan Upah Minimum Tahun 2021
Selasa, 27 Oktober 2020 - 15:52 WIB
Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah telah menerbitkan Surat Edaran (SE) yang ditujukan kepada Gube...
Menristek: Vaksin Merah Putih untuk kemandirian Indonesia
Selasa, 27 Oktober 2020 - 15:39 WIB
Bambang PS Brodjonegoro mengatakan vaksin Merah Putih sebagai perwujudan kemandirian bangsa dalam pe...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV