Dari Loetoeng Kesaoreng hingga Long March of Siliwangi (Darah dan Doa)
Sabtu, 30 Maret 2019 - 12:05 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
Film Loetoeng Kesaroeng. Foto: https://bit.ly/2TRAYYB/Elshinta.

Elshinta.com - “Ini adalah kisah perjalan pasukan Tentara Nasional Indonesia. Juga kisah perjalan hidup manusia dalam revolusi (…) Kisah dimulai tentang darah, dan air mata. Cerita tentang harapan dan doa yang tidak putus-putusnya”. Gambar dibuka dengan pemandangan alam pegunungan. Para prajurit berlarian di antara bukit-bukit, jembatan. Kemudian, terlihat Soedarto dan Adam sedang memperhatikan satu arah dengan memegang teropong di tangannya. Dikisahkan peristiwa dalam filem ini adalah para prajurit yang berada di sekitar Sarangan, Jawa Tengah, setelah peristiwa Madiun terjadi.

Paragraf di atas adalah gambaran dari awal cerita film Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi. Film yang disutradarai Usmar Ismail dan diangkat dari tulisan Sitor Situmorang ini menjadi tonggak bersejarah bagi perfilman di tanah air. 

Momentum pengambilan gambar (shooting) pertama film hasil karya anak bangsa pada 30 Maret 1950 inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Penetapan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional sendiri merupakan hasil konferensi Dewan Film Nasional dengan organisasi perfilman pada 11 Oktober 1962. Secara resmi penetapan Hari Film Nasional baru dilakukan pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang Hari Film Nasional (Keppres RI No. 25 Tahun 1999).

Film Darah dan Doa mengisahkan tentang perjalanan panjang (long march) prajurit Siliwangi yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Sosok Kapten Soedarto (Del Juzar), Kapten Adam (R. Soetjipto), adalah tokoh sentral dalam film ini. Karakter keduanya berbeda, Soedarto seorang yang menginginkan kebebasan dan sangat menempatkan sisi kemanusiaan di atas segala-galanya, sedangkan Adam adalah seorang yang sangat teguh pada aturan. Namun, kedua sahabat ini selalu bisa mengatasi perbedaan karena kedekatannya.

Bumbu cinta juga ditampilkan dalam film ini dengan menampilkan tokoh Connie (Ella Bergen), seorang gadis Indo-Jerman dan Suster Widya (Farida). 

Jika pengambilan gambar film Darah dan Doa yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional, kita tentu bolehlah bertanya, film apakah yang pertama kali diputar di bioskop di tanah air? Ya, jawabnya adalah film `Loetoeng Kesaroeng`. 

Film yang diproduksi oleh NV Java Film Company pada tahun 1926 tercatat oleh Harian De Lecomotif sebagai film lokal pertama yang diputar di Bioskop Majestic, di Jl Braga, Bandung, Jawa Barat pada 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927. 

Pemain-pemain dipilih dari kalangan pribumi golongan priyayi dan berpendidikan. Sementara pengambilan gambar seperti ditulis De Lecomotif dilakukan di sebuah wilayah berjarak dua kilometer sebelah barat Kota Padalarang.

Kereta kuda sewaan yang membawa poster film dan membagikan selebaran kepada warga menjadi alat promosi film tersebut di masa itu. Ini tentu menjadi hiburan dan ditunggu bagi warga, khususnya anak-anak. 

Sebelum film diputar pada jam-jam tertentu yakni pukul 19.30 WIB dan 21.00 WIB, sebuah orkes musik mini di pelataran Bioskop Majestic memainkan lagu-lagu gembira yang bisa menghibur dan menarik perhatian penonton. 

Film `Loetoeng Kasaroeng yang artinya Lutung yang Tersesat diangkat dari legenda masyarakat di bumi Parahyangan yang sering ditampilkan dalam seni pantun Sunda. Film ini mengisahkan perjalanan Sanghyang Guruminda dari Kahyangan yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (Bumi) dalam wujud seekor lutung.

Dalam perjalanannya di Bumi, sang lutung bertemu dengan putri Purbasari Ayuwangi yang diusir oleh saudaranya yang pendengki, Purbararang. Lutung Kasarung adalah seekor makhluk yang buruk rupa. Pada akhirnya ia berubah menjadi pangeran dan mengawini Purbasari, dan mereka memerintah Kerajaan Pasir Batang dan Kerajaan Cupu Mandala Ayu bersama-sama.

Darah dan Doa, Loetoeng Kesaroeng adalah film-film masa lalu yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan panjang perfilman di tanah air. Masih ada film-film yang bisa dikatakan sebagai pelopor film di tanah air, seperti De Roos Van Tjikembang, Si Ronda, Nyai Dasima, Resia Boroboedoer, Eulis Atjih, Lily Van Java, Setangan Berlomoer Darah, Rampok Preanger, dan Si Tjonat. Yuk! Nonton Film. "Selamat Hari Film Nasional"

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rabu, 22 Mei 2019 - 18:23 WIB
Elshinta.com - Wali Kota Tangerang H. Arief R. Wismansyah menghadiri acara Bukber Raya den...
Sabtu, 18 Mei 2019 - 16:50 WIB
Elshinta.com - Aktris Spanyol Penelope Cruz dan aktor Antonio Banderas, bersama sutradara ...
Jumat, 17 Mei 2019 - 13:57 WIB
Elshinta.com - Film `Kuntilanak 2` yang tayang pada 4 Juni 2019, menawarkan hal baru berup...
Rabu, 15 Mei 2019 - 18:17 WIB
Elshinta.com - Yayan Ruhian merasa bangga telah memperkenalkan seni bela diri pencak silat...
Rabu, 15 Mei 2019 - 10:57 WIB
Elshinta.com - Setelah saga Skywalker usai pada Desember, kisah `Star Wars` selanjutnya ba...
Minggu, 12 Mei 2019 - 12:11 WIB
Elshinta.com - Sutradara film `John Wick 3: Parabellum`, Chad Stahelski mengatakan jika seri ke...
Minggu, 12 Mei 2019 - 11:56 WIB
Elshinta.com - Bintang Marvel Studio Hayley Atwell atau pemeran tokoh Peggy Carter dalam film `...
Sabtu, 11 Mei 2019 - 12:29 WIB
Elshinta.com - Sutradara `Avengers: Endgame` mengungkapkan bahwa ada adegan antara Thor (Chris ...
Selasa, 07 Mei 2019 - 17:56 WIB
Elshinta.com - Johnny Depp belum dipastikan bermain kembali dalam film `Fantastic Beasts 3...
Selasa, 07 Mei 2019 - 14:07 WIB
Elshinta.com - Film `Single 2` ditulis, disutradarai, dan dibintangi oleh Raditya Dika. Fi...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)