Beberkan kronologis kejadian, ini klarifikasi terduga penganiaya siswi SMP
Kamis, 11 April 2019 - 07:43 WIB | Penulis : Dewi Rusiana | Editor : Dewi Rusiana
Tiga dari 12 siswi SMU yang diduga menjadi pelaku dan saksi dalam kasus penganiayaan siswi SMP berinisial AU (14) memberi keterangan saat jumpa pers di Mapolresta Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (10/4). Sumber foto: https://bit.ly/2P1JM8E

Elshinta.com - Tujuh dari 12 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terkait kasus perkelahian dengan seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) berinisial Aud (14), yang beritanya viral di media sosial, memberikan klarifikasi kepada media di Pontianak, Rabu (10/4). 

Klarifikasi berlangsung di aula Polresta Pontianak, Rabu sore. Ketujuh pelajar didampingi Komisioner KPPAD Pontianak Alik R Rosyad dan sejumlah keluarga mereka. 

Saat memberikan klarifikasi, ketujuh pelajar tersebut mengenakan masker penutup wajah dan tampak terisak menangis.

Para pelajar tersebut secara bergantian menyampaikan permintaan maaf kepada korban Aud. Namun di antara mereka ada yang menyatakan memang tidak berada di dua lokasi kejadian, di Aneka Vapiliun di Jalan Sulawesi dan taman Akcaya di Sutan Syahrir, Pontianak, pada Jumat (29/3), pukul 14.30 WIB.

Mereka juga menyatakan kecewa dengan pemberitaan di media sosial yang menyebut mereka melakukan kekerasan dengan mengeroyok secara beramai-ramai. Mereka juga membantah telah menganiaya korban dengan cara-cara seperti yang diungkap di media sosial.

Menurut mereka, mereka berkelahi satu lawan satu, yang melibatkan tiga orang, yakni Ec dan Aud, Ll dan Aud, dan Ar dan Aud. Sementara teman-teman yang lain hanya menyaksikan dan ada beberapa di antara mereka ternyata tidak berada di lokasi kejadian. Di antara mereka ada yang mencoba untuk melerai perkelahian tersebut, namun khawatir akan dianggap mendukung perkelahian tersebut.

"Jadi kami tidak mengeroyok Aud. Kami berkelahi satu lawan satu," kata salah satu pelajar tersebut, dikutip Antara.

Kronologis kejadian

Salah satu pelajar berinisial Ec (17), mengakui perkelahian dimulai dari dirinya dengan Aud karena kekesalannya terhadap korban yang sering membully dirinya di media sosial. Kemudian ia dan Aud membuat janji untuk menyelesaikan masalah tersebut pada Sabtu (30/3) malam di tepian sungai Kapuas.

"Tetapi Jumat siang Aud menghubungi saya dan mengajak menyelesaikan masalah kami saat itu juga," katanya menjelaskan.

Aud menyatakan tak memiliki kendaraan, sehingga dia pun dijemput saudara sepupunya yang bernama Pp dengan mengendarai motor. Mereka (Ec dan Aud) bertemu di tempat kejadian dan beradu mulut lantas terjadilah perkelahian. Perkelahian berlanjut ke taman Akcaya yang melibatkan Ar dan Ll, namun tetap satu lawan satu.

Sementara Komisioner KPPAD Pontianak, Alik R Rosyad menjelaskan kronologis perkelahian tersebut.

Menurut Alik, berdasarkan penjelasan para pelajar tersebut, perkelahian diawali dari Ec dan Aud di Aneka Vapiliun. Kemudian Aud mencoba lari ke Taman Akcaya yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi pertama.

Aud kemudian dikejar Ec. Saat sedang mengejar korban, Ec bertemu Ar di jalan Uray Bawadi. Ar kemudian diajak mengejar Aud, dan mereka bertemu korban di taman Akcaya. Kemudian Aud berkelahi dengan Ar. Setelah selesai berkelahi dengan Aud, Ll datang dan berkelahi lagi dengan Aud di lokasi yang sama.

Tersangka

Terkait kasus tersebut, Kepolisian Resort Kota Pontianak telah melakukan visum terhadap korban dan menetapkan tiga tersangka pelaku, yakni Ar atau TP, Ec atau NN, dan Ll atau FA. 

"Tetapi fakta yang ada itu menjambak rambut, mendorong sampai terjatuh, memiting, dan melempar sendal. Itu ada dilakukan. Dan tidak ada tindakan melukai alat kelamin," kata Kapolresta Pontianak, Kombes M Anwar Nasir.

Menurut Kapolresta, sebanyak sembilan saksi sudah menjalani pemeriksaan, termasuk saksi korban dan saksi pelapor yakni ibu korban. Dalam kasus tersebut korban juga sudah diambil visumnya. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Sabtu, 25 Mei 2019 - 19:18 WIB
Elshinta.com - Kepala Kepolisian Resor Garut AKBP Budi Satria Wiguna menyatakan, lima terduga t...
Sabtu, 25 Mei 2019 - 14:48 WIB
Elshinta.com - Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Kepolisian Da...
Sabtu, 25 Mei 2019 - 13:10 WIB
Elshinta.com - Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Agus Triatmaja membenarkan peristi...
Jumat, 24 Mei 2019 - 18:11 WIB
Elshinta.com - Tim gabungan Satpol PP Kota Malang, Bakesbang, TNI, dan kepolisian menggela...
Jumat, 24 Mei 2019 - 11:56 WIB
Elshinta.com - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatak...
Jumat, 24 Mei 2019 - 11:17 WIB
Elshinta.com - Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi, Raden...
Kamis, 23 Mei 2019 - 14:18 WIB
Elshinta.com - Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, Polisi telah m...
Kamis, 23 Mei 2019 - 07:21 WIB
Elshinta.com - Belasan orang ditemukan bersembunyi di Gedung Pertokoan Sarinah saat kericuhan t...
Selasa, 21 Mei 2019 - 19:45 WIB
Elshinta.com - Polisi berhasil membekuk dua pemuda bersama komplotannya yang masih remaja....
Senin, 20 Mei 2019 - 16:29 WIB
Elshinta.com - Ambulans milik DPD Partai Perindo Kota Sukabumi bernopol B 1893 PYD sempat ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)
ElshintaBandung