Balai Arkeologi Yogyakarta teliti bata Situs Sekaran
Elshinta
Minggu, 14 April 2019 - 20:57 WIB |
Balai Arkeologi Yogyakarta teliti bata Situs Sekaran
Bata berhias atau berukir yang ditemukan di Situs Sekaran, yang terletak di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu, (14/4). Sumber Foto: https://bit.ly/2UXTfTZ

Elshinta.com - Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap bata yang ada di Situs Sekaran, yang terletak di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, untuk mengetahui bahan dan campuran yang dipergunakan dalam pembuatan bata tersebut.

Ketua Tim Penelitian Penjajakan Balai Arkeologi Yogyakarta Hery Priswanto mengatakan, pihaknya saat ini telah mengambil contoh dari bata yang ada di Situs Sekaran. Bata yang ada pada situs itu, memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan bata yang dipergunakan untuk membangun rumah saat ini.

"Saya ambil satu contoh bata di sini, untuk mengetahui unsurnya apa saja. Meneliti bahan-bahannya, apakah dari tanah, kemudian campurannya apa saja," kata Hery, di area Situs Sekaran, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu (14/4).

Hery menjelaskan proses penelitian tersebut nantinya akan dilakukan di Yogyakarta. Pihaknya belum bisa memastikan berapa lama proses penelitian tersebut akan berlangsung. Proses penelitian bata dari Situs Sekaran tersebut, tidak bisa mencakup penelitian penanggalan karbon.

Hery menjelaskan, dari bata tersebut, pihaknya tidak bisa memastikan bangunan yang ada di Situs Sekaran itu berasal dari zaman apa. Untuk memastikan situs tersebut berasal dari era tertentu, harus dilakukan penelitian karbon, yang bersumber dari unsur-unsur organik.

"Untuk penanggalan karbon harus menggunakan unsur organik. Namun, akibat aktivitas di Situs Sekaran, kami menduga, tanah yang ada sudah terganggu," ujar Hery, dikutip Antara.

Gangguan tersebut, lanjut Hery, bisa disebabkan pada saat pengupasan lapisan atas situs, termasuk adanya aktivitas lain seperti orang yang merokok di lokasi tersebut. Namun, dalam penelitian lanjutan, pihaknya akan berupaya untuk mengambil unsur organik yang tidak terganggu aktivitas saat ini.

"Nanti perlu lebih fokus lagi untuk mengambil contoh tanah yang tidak terganggu. Saya sudah melihat beberapa lokasi, nanti akan ada rekomendasi untuk mencari carbon dating. Itu tetap dilakukan," kata Hery.

Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Timur Ismail Lutfi mengatakan bahwa, untuk memastikan era Situs Sekaran, memang harus dilakukan penelitian penanggalan karbon.

Adanya temuan lepas berupa fragmen porselen, dan mata uang kuno asal Tiongkok yang berasal dari masa Dinasti Song, belum bisa memastikan keterkaitannya dengan Situs Sekaran. Namun, jika ada temuan berupa bata yang memiliki goresan aksara kuno, hal tersebut bisa banyak membantu para peneliti. "Karena aksara itu, dari kacamata ilmu paleografi bisa mengarah pada zaman tertentu," ujar Lutfi.

Pada situs tersebut, telah ditemukan serpihan bata berhias atau berukir oleh salah seorang warga pada Minggu (14/4) saat melihat timbunan tanah yang ada di sekitar lokasi situs. Wujud fisik bata itu, merupakan serpihan salah satu sudut bangunan yang ada di Situs Sekaran.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Dipakai ponsel hingga mobil, penemu baterai lithium ion raih Nobel
Kamis, 10 Oktober 2019 - 09:45 WIB
Elshinta.com - Revolusi teknologi penyimpanan daya pada baterai lithium-ion yang sangat be...
Lapan-BPPT lakukan riset ciptakan roket untuk modifikasi cuaca
Senin, 07 Oktober 2019 - 19:21 WIB
Elshinta.com - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddi...
Pelajar Indonesia bertarung di KRAN demi tiket lomba roket air di Jepang
Minggu, 29 September 2019 - 18:44 WIB
Elshinta.com - Perhelatan inovatif dan inspiratif untuk menumbuhkan minat dan kemampuan ilmu pe...
Kedaulatan data sebuah keharusan hadapi era 4.0
Kamis, 26 September 2019 - 19:26 WIB
Elshinta.com - Data dinilai sebagai sumber daya baru yang berharga bagi bangsa Indonesia, karen...
Misteri kapal kuno terkubur ratusan tahun di Tanjung Jabung Timur Jambi
Sabtu, 24 Agustus 2019 - 18:39 WIB
Elshinta.com - Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jambi dan Tim Arkeolog Universit...
Universitas Negeri Malang ditunjuk sebagai tuan rumah KMHE 2019
Sabtu, 27 Juli 2019 - 21:42 WIB
Elshinta.com - Setelah berhasil menjadi Juara I pada Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018...
Asteroid lebih tinggi dari Menara Big Ben dekati bumi, apa berbahaya?
Rabu, 24 Juli 2019 - 21:25 WIB
Elshinta.com - Asteroid yang lebih tinggi dari Menara Jam Big Ben di London, Inggris, meluncur ...
Bakteri genus baru ditemukan di Sukabumi
Jumat, 19 Juli 2019 - 13:19 WIB
Elshinta.com - Para dosen dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas I...
Planetarium Jakarta rutin ajak warga teropong bulan 72 kali setahun
Rabu, 17 Juli 2019 - 06:01 WIB
Elshinta.com - Planetarium dan Observatorium Jakarta menggelar secara rutin peneropongan malam ...
Mahasiswa UB manfaatkan limbah RPH hasilkan energi listrik
Senin, 08 Juli 2019 - 19:47 WIB
Elshinta.com - Sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) berkolaborasi dengan mah...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)