PVMBG: Aktivitas Gunung Agung masih belum stabil dan masih berpotensi erupsi
Elshinta
Selasa, 23 April 2019 - 06:53 WIB | Penulis : Dewi Rusiana | Editor : Dewi Rusiana
PVMBG: Aktivitas Gunung Agung masih belum stabil dan masih berpotensi erupsi
Erupsi Gunung Agung, Minggu (21/4). Sumber foto: https://bit.ly/2GC7nKA

Elshinta.com - Sejak awal tahun 2019, Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, sudah beberapa kali erupsi abu dengan waktu jeda berkisar 1-3 minggu. Pada 4 April 2019, terjadi erupsi tipe Strombolian, dan pascaerupsi tersebut Gunung Agung mengalami erupsi lagi pada Minggu (21/4) sebanyak dua kali, yaitu pukul 03.21 WITA dan 18.56 WITA. Erupsi dengan tinggi kolom abu 2000-3000 meter di atas puncak gunung. 

Dalam siaran pers melalui laman resminya, Senin (22/4), Kementerian ESDM menginformasikan bahwa, dari data pemantauan yang diperoleh dari Pos Pengamatan Gunung Agung, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pascaerupsi, secara visual teramati aktivitas permukaan masih didominasi oleh hembusan asap putih maupun sesekali erupsi abu disertai lontaran lava pijar. 

Sementara secara seismik, aktivitas Gunung Agung masih didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah yang mencerminkan aktivitas aliran fluida di kedalaman dangkal berupa Gempa Hembusan dan sesekali Gempa Letusan. 

Kegempaan frekuensi tinggi yang mencerminkan peretakkan batuan di dalam tubuh gunungapi akibat pergerakan magma di kedalaman berupa Gempa Vulkanik Dalam maupun Vulkanik Dangkal masih terekam dengan intensitas relatif rendah. Dominannya kegempaan dengan konten frekuensi rendah dibandingkan dengan konten frekuensi tinggi juga mencerminkan bahwa aliran fluida magmatik ke permukaan relatif lancar karena sistem sudah cenderung terbuka.

Secara deformasi, dalam satu bulan terakhir Gunung Agung mengalami fluktuasi berupa inflasi (penggembungan) maupun deflasi (pengempisan). Volume magma yang bergerak di bawah permukaan teramati dalam jumlah yang kecil (kisaran 1 juta meter kubik). Data deformasi masih mengindikasikan aktivitas Gunung Agung masih belum stabil dan masih berpotensi untuk terjadi erupsi dengan skala relatif kecil. 

Secara penginderaan jauh, citra satelit termal mengindikasikan masih adanya hotspot (titik panas) di kawah Gunung Agung terutama pada bagian lava yang berbatasan dengan dinding kawah. Hal ini mengindikasikan masih adanya pergerakan fluida magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Kubah lava di dalam kawah masih relatif tidak berubah volumenya dari periode erupsi 2017-2018 yaitu sekitar 25 juta m3 atau sekitar 40% dari volume kosong kawah.

PVMBG menganalisis bahwa Gunung Agung masih berpotensi untuk terjadi erupsi baik secara eksplosif (Strombolian-Vulkanian skala kecil) maupun secara efusif (aliran lava kedalam kawah). 

Evaluasi data pemantauan terkini mengindikasikan bahwa potensi untuk terjadinya erupsi besar masih belum teramati. Selain itu, Aktivitas Gunung Agung masih berada dalam kondisi yang dinamis dan trend aktivitas dapat berubah sewaktu-waktu.

PVMBG menjelaskan bahwa ancaman bahaya yang paling mungkin terjadi saat ini berupa lontaran batu/lava pijar di dalam hingga keluar kawah, maupun hujan pasir dan abu yang arah penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Lahar hujan dapat terjadi jika terjadi hujan dan membawa material erupsi melalui aliran-aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Agung. Emisi gas vulkanik beracun kemungkinan hanya berada di sekitar area kawah puncak.

Dari data-data tersebut, PVMBG menyimpulkan aktivitas Gunung Agung masih belum stabil dan masih berpotensi terjadi erupsi sehingga disimpulkan tingkat aktivitasnya tetap berada pada Level 3 (Siaga). 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gempa Turki dipicu aktivitas Sesar Sisam di Laut Aegea
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 10:50 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  menyatakan, gempa berkekuatan magnitudo 7,0 y...
Banjir Bandang terjang Sungai Pagu, tidak ada korban jiwa
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 10:34 WIB
Banjir bandang melanda beberapa titik di Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Ba...
Gedung sekolah terdampak tanah longsor di Lebak
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 10:16 WIB
Hujan dengan intensitas tinggi memicu terjadinya pergerakan atau patahan tanah yang berakibat terjad...
Banjir dan longsor di Kebumen, 2.107 warga mengungsi
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 09:58 WIB
Bencana banjir dan tanah longsor terjadi di wilayah administrasi Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tel...
31 Oktober 2017, Ambon lima kali diguncang gempa
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 08:17 WIB
Gempabumi hingga sebanyak lima kali mengguncang Kota Ambon dan sekitarnya, Selasa malam, 31 Oktober ...
BPPTKG sampaikan aktivitas vulkanik Gunung Merapi meningkat
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 07:54 WIB
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan, aktivitas Gu...
KBRI: Tidak ada korban WNI dalam gempa Turki
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 07:36 WIB
KBRI Ankara menyatakan, sejauh ini tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gempab...
Gempa M 7,1 guncang Turki sebabkan tsunami, tidak berdampak ke Indonesia
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 07:03 WIB
Gempa tektonik dengan magnitudo 7,1 mengguncang Turki, Yunani dan Bulgaria, Jumat (30/10) malam puku...
Banjir Cilacap meluas, 7.949 jiwa terdampak
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 06:49 WIB
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap kembali melaporkan adanya penambahan ju...
Sumur mengering, BPBD Kabupaten Kediri droping air bersih 
Jumat, 30 Oktober 2020 - 16:57 WIB
Guna memenuhi kebutuhaan air bersih bagi warga Desa Tiron Kecamatan Banyakan, BPBD Kabupaten Kediri ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV