Fenomena haji minimalis berkembang di jemaah Indonesia
Elshinta
Kamis, 02 Mei 2019 - 09:24 WIB |
Fenomena haji minimalis berkembang di jemaah Indonesia
Mantan Dirjen PHU Kemenag, Abdul Djamil di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (1/5) malam. Sumber foto: https://bit.ly/2IU3xyY

Elshinta.com - Fenomena haji minimalis atau menjalankan ibadah haji dengan kemampuan penguasaan manasik dan doa-doa yang terbatas dinilai banyak berkembang di kalangan jemaah haji Indonesia.

“Banyak yang pada akhirnya memilih jalan pintas menjadi jemaah haji minimalis,” kata mantan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama Abdul Djamil di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (1/5) malam.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu hadir memberikan materi dalam acara Pembekalan Terintegrasi Petugas Haji Arab Saudi Tahun 1440 H/2019 untuk memberikan motivasi kepada 1.108 petugas haji yang segera bertugas pada masim haji tahun ini.

Abdul Jamil yang juga pemerhati haji itu mengatakan banyak jemaah haji hanya mengandalkan doa sapu jagat yakni `rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar`. Selain itu mereka juga banyak tergantung pada pembimbing haji bahkan ketika sedang melaksanakan rangkaian ibadah.

“Itulah mengapa di Tanah Suci sering didapati banyak jemaah haji Indonesia yang selalu bergerombol atau bareng-bareng selama mengikuti rangkaian ibadah. Bahkan saat ini sudah banyak KBIH yang modern dan canggih membekali jemaahnya dengan headset sehingga suara dikirimkan melalui frekuensi radio agar selalu bisa didengarkan selama menjalankan rangkaian ibadah,” ungkap dia, sebagaimana dihimpun Antara.

Abdul Djamil mengaku saat ini sudah jarang sekali mendapati jemaah haji yang mampu membaca langsung doa-doa yang ada di dalam buku panduan yang diberikan kepada jemaah. “Mereka lebih memilih yang praktis dan minimalis. Apakah dengan seperti ini hajinya sah? Iya tetap sah,” pungkasnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Presiden: Tanpa penerimaan kemajemukan masyarakat tidak berkembang
Rabu, 18 September 2019 - 19:36 WIB
Elshinta.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, isu kemajukan bukan semata-mata isu sosial ...
Bea Cukai dan KLHK kembalikan impor limbah beracun ke negara asal
Rabu, 18 September 2019 - 19:06 WIB
Elshinta.com - Menindaklanjuti maraknya impor limbah plastik yang tercampur sampah dan limbah bahan ...
Cek peralatan dan data kewilayahan, Dandim 0614/Kota Cirebon kunjungi Koramil 0404
Rabu, 18 September 2019 - 18:06 WIB
Elshinta.com - Komandan Kodim (Dandim) 0614/Kota Cirebon Letkol Inf Herry Indriyanto melakukan kunju...
Tingkat hunian hotel di Singkawang menurun karena kabut asap
Rabu, 18 September 2019 - 17:38 WIB
Elshinta.com - Kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Singkawang, Kalimantan Barat bukan hanya membe...
PPID ujung tombak suksesnya program pemerintah di Lumajang
Rabu, 18 September 2019 - 17:06 WIB
Elshinta.com - Pejabat Pengelola Informasi dan Dukumentasi (PPID) dari setiap OPD dinilai menjadi ...
DPRD Jatim minta Pemerintah segera sahkan RUU P-KS
Rabu, 18 September 2019 - 15:03 WIB
Elshinta.com - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) meminta kepada Pemerintah segera menges...
Menko Polhukam: Ada tiga masalah aktual perlu dicermati
Rabu, 18 September 2019 - 14:54 WIB
Elshinta.com - Menko Polhukam Wiranto menyampaikan adanya dinamika nasional dengan berbagai permas...
Apa alasan disahkannya UU Perkawinan?
Rabu, 18 September 2019 - 14:27 WIB
Elshinta.com - Undang-Undang (UU) Perkawinan yang mengubah usia minimal menikah telah disahkan. Untu...
Kualitas udara Palembang sentuh kategori berbahaya
Rabu, 18 September 2019 - 13:59 WIB
Elshinta.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendata kualitas udara di Kota ...
Peneliti: Ada tiga kelompok bicara revisi UU KPK di medsos
Rabu, 18 September 2019 - 13:39 WIB
Elshinta.com - Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) meny...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)