MemoRI 07 Mei
Akhir agresi `Operatie Kraai` Belanda di Yogyakarta
Elshinta
Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
Akhir agresi `Operatie Kraai` Belanda di Yogyakarta
Perundingan Roem-Royen. Foto: https://bit.ly/2POQfEc/Elshinta.

Elshinta.com - Pasca kemerdekaan atau tepatnya, 19 Desember 1948, Belanda melakukan serangan dan agresi militernya yang ke dua atau Operatie Kraai ke Yogyakarta. Tidak hanya serangan militer, Belanda juga melakukan penahanan terhadap para pemimpin RI. Belanda pun melakukan propaganda bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah hancur. 

Serangan dan propaganda Belanda tersebut ternyata mendapat kecaman dari dunia internasional, terutama Amerika Serikat dan Inggris serta Dewan PBB. UNCI (United Nations Commission for Indonesia) pun dibentuk PBB sebagai reaksi atas agresi militer Belanda tersebut.

UNCI yang dipimpin Merle Cochran dari Amerika Serikat dibantu Critchley dari Australia dan Harremans dari Belgia mendapat tugas dari PBB untuk membantu perundingan antara pihak Republik Indonesia dengan Belanda. UNCI sekaligus menjadi penengah dalam perundingan yang berlangsung di Jakarta dan digelar 17 April 1949.

Perundingan yang dikenal dengan perundingan Roem Royen diketuai Merle Cochran dari Amerika Serikat sebagai wakil UNCI. Pihak Indonesia diwakili Mohammad Roem dan beberapa anggota seperti Ali Sastro Amidjojo, Dr. Leimena, Ir. Juanda, Prof. Supomo dan Latuharhary. Sedangkan pihak Belanda diwakili Dr. J. Herman van Royen dengan anggotanya seperti Blom, Jacob, dr Van, dr. Geda, Dr. P.J. Koets, Van Hoogstratendan dan Dr. Gieben.

Perundingan tidak berjalan lancar dan sempat terhenti seminggu setelah perundingan berjalan. Penyebabnya adalah Van Royen yang menafsirkan bahwa Belanda akan memulihkan  pemerintahan setelah pemimpin-pemimpin RI memerintahkan pasukan bersenjata mereka untuk menghentikan serangan gerilya, bekerja sama dalam memulihkan perdamaian, pemeliharaan ketertiban dan keamanan, setelah itu bersedia menghadiri KMB.

Kemudian pihak Indonesia tidak melakukan hal-hal diatas karena para pemimpin-pemimpin RI terpencar-pencar, tidak ada kontak satu dengan lainnya. Perundingan Roem Royen kemudian berjalan kembali pada 1 Mei karena adanya tekanan Amerika Serikat. 

Perundingan lanjutan diperkuat dengan kehadiran Drs Moh Hatta yang datang dari pengasingan di Bangka, serta Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta. Kedatangan Sri Sultan HB IX untuk mempertegas pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta.

7 Mei 1949, bertempat di Hotel Des Indes, Jakarta, perjanjian Roem Royen mulai ditandatangani. Nama perjanjian diambil dari kedua pemimpin delegasi, yakni Mohammad Roem dan Herman van Royen.

Terdapat tujuh poin dari isi perjanjian Roem-Royen, yakni pertama, tentara bersenjata Republik Indonesia harus menghentikan aktivitas gerilya. Kedua, Pemerintah Republik Indonesia turut serta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Ketiga, Kembalinya pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta. Keempat, tentara bersenjata Belanda harus menghentikan operasi militer dan pembebasan semua tahanan politik. Kelima, kedaulatan RI diserahkan secara utuh tanpa syarat. Keenam, dengan menyetujui adanya Republik Indonesia yang bagian dari Negara Indonesia Serikat. Ketujuh, Belanda memberikan hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada pihak Indonesia.

Selain kembalinya para pemimpin RI seperti Soekarno dan Mohammad Hatta dari pengasingan dan gencatan senjata, hasil perundingan Roem-Royen menjadi pintu bagi digelarnya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, pada dari 23 Agustus hingga 2 November 1949.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Menkeu Sri Mulyani: Krisis COVID-19 kesempatan perkuat fondasi negara
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 12:12 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyatakan, krisis pandemi COVID-19 merupakan kesem...
48 orang meninggal di Korsel usai divaksin Corona? Ini faktanya
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 11:23 WIB
Sebuah artikel menyerupai berita berjudul `Innalilahi Wainnailahi Rojiun, 48 Orang Meninggal Usai Di...
Warga pesisir Lebak diminta waspadai gelombang hingga enam meter
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 08:12 WIB
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten memperingatkan masyarakat pesisir selatan...
Polda Metro perkirakan lonjakan arus balik pada Sabtu-Minggu
Jumat, 30 Oktober 2020 - 21:26 WIB
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya memprediksi lonjakan arus balik libur panjang Maulid Nabi Mu...
 Perusahaan media wajib peduli kesehatan mental pekerja
Jumat, 30 Oktober 2020 - 21:11 WIB
Perusahaan media dinilai penting untuk memperhatikan kesehatan mental pekerjanya agar lebih produkti...
Pengendara sepeda motor bawa jenazah gegerkan Boyolali
Jumat, 30 Oktober 2020 - 20:26 WIB
Seorang pengendara sepeda motor yang membawa jenazah ditutup kain batik menggegerkan warga Kabupaten...
Pengamat: Generasi muda harus terus gemakan semangat Sumpah Pemuda
Jumat, 30 Oktober 2020 - 19:38 WIB
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio meminta generasi muda Indonesia terus menggemakan semangat...
 Prajurit Satgas Pamtas Yonif 125 dan warga gotong royong perbaiki gereja
Jumat, 30 Oktober 2020 - 18:16 WIB
Dalam rangka meningkatkan kekompakan sekaligus mewujudkan toleransi antar umat beragama, Prajurit ...
Sebanyak 12 kamera E-TLE dirusak perusuh
Jumat, 30 Oktober 2020 - 17:40 WIB
 Sebanyak 12 kamera tilang elektronik (Electronic Traffic Law Enforcement/ETLE) di DKI Jakarta diru...
Dishub DKI segera siagakan patroli untuk cegah begal sepeda
Jumat, 30 Oktober 2020 - 16:06 WIB
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo segera menyiagakan personel patroli  di jalur-...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV