1.600 konten radikalisme ditutup selama 2019
Elshinta
Sabtu, 11 Mei 2019 - 07:29 WIB |
1.600 konten radikalisme ditutup selama 2019
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2JxsijV

Elshinta.com - Sekitar 1.600 konten berkaitan paham radikalisme dan terorisme dalam sejumlah platform media sosial ditutup selama Januari sampai April 2019.

"Informasi yang saya dapat, 1.600 lebih sudah ditutup, itu terus kami dari Direktorat Siber, Kemkominfo dan BSSN sudah kerja sama dengan platform," tutur Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Jumat (10/5).

Pijakan (platform) yang diajak melakukan patroli siber menjaring konten-konten radikal, seperti pembuatan bahan peledak, di antaranya Youtube serta Twitter.

Diketahui terduga teroris EY yang merupakan pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Bekasi, Jawa Barat, belajar membuat serta memodifikasi bom dari media sosial, dikutip Antara.

Platform media sosial yang digunakan untuk mendalami cara membuat bom oleh EY antara lain Twitter serta platform video Youtube.

Sejauh ini dari belajar sendiri itu, kelompok EY sudah merakit dua bom, serta bahan baku cukup banyak untuk merakit bom.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan selama Januari sampai Februari 2019 telah dilakukan pemblokiran sebanyak 1.031 konten yang terdiri atas 963 konten Facebook dan Instagram serta 68 konten di Twitter.

Konten pijakan Facebook dan Instagram merupakan yang paling banyak ditutup terkait radikalisme dan terorisme.

Bahkan selama 2018, dari 10.499 konten yang ditutup, sebanyak 7.160 konten di Facebook dan Instagram, 1.316 konten di Twitter, 677 konten di Google/Youtube, 502 konten di Telegram, 502 konten di file sharing dan 292 konten di situs web.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Garap kacamata pintar, Facebook gandeng Ray-Ban
Rabu, 18 September 2019 - 12:20 WIB
Elshinta.com - Facebook dilaporkan telah menggarap kacamata Augmented Reality (AR) dalam beberapa ...
Kemkominfo luncurkan SIMONAS, platform rekrutmen talenta digital gratis
Kamis, 05 September 2019 - 15:04 WIB
Elshinta.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika meluncurkan platform national talent pool SIM...
Akun bos Twitter Jack Dorsey diretas, cuitkan kata-kata rasis
Sabtu, 31 Agustus 2019 - 12:29 WIB
Elshinta.com - Akun bos Twitter Inc, Jack Dorsey, diretas pada Jumat malam (30/8), dan mengirim cu...
Ingin lindungi akun Facebook, ikuti langkah berikut agar aman
Kamis, 29 Agustus 2019 - 21:29 WIB
Elshinta.com - Pengguna media sosial perlu khawatir terhadap keamanan akun mereka terutama jika su...
Google berhenti pakai nama makanan untuk Android
Minggu, 25 Agustus 2019 - 15:28 WIB
Elshinta.com - Google mulai tahun ini menghentikan tradisi menamai sistem operasi terbaru Android ...
Pemprov DKI luncurkan aplikasi e-Uji Emisi
Selasa, 13 Agustus 2019 - 13:45 WIB
Elshinta.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meluncurkan aplikasi Uji Emisi Elektronik...
 LIPI kembangkan aplikasi identifikasi kayu
Selasa, 30 Juli 2019 - 18:56 WIB
Elshinta.com - Pada Era Revolusi Industri 4.0 membuat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (...
Menkominfo ingatkan masyarakat hati-hati gunakan FaceApp
Rabu, 24 Juli 2019 - 07:10 WIB
Elshinta.com - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengingatkan mas...
Kominfo imbau masyarakat hati-hati sebelum unduh aplikasi
Selasa, 23 Juli 2019 - 18:58 WIB
Elshinta.com - Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informati...
Bank Mandiri imbau nasabah tak gunakan M-Banking sementara
Sabtu, 20 Juli 2019 - 14:13 WIB
Elshinta.com - Bank Mandiri mengimbau nasabah untuk tidak menggunakan layanan Mobile Banki...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)