MemoRI 13 Mei
Mei `98: Ketika amarah dan asap melanda kota
Elshinta
Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
Mei `98: Ketika amarah dan asap melanda kota
Kerusuhan Mei 1998. Foto: https://bit.ly/2Hfr4Hm/Elshinta.

Elshinta.com - Rabu, 13 Mei 1998 ribuan massa berkumpul di depan Kampus Trisakti. Mereka datang untuk menyampaikan ungkapan duka cita atas meninggalnya empat mahasiswa yang tertembak peluru aparat saat unjuk rasa yang berujung bentrok, Selasa 12 Mei 1998. 

Sementara, mahasiswa berkumpul di dalam kampus. Suasana duka dan berkabung menyelimuti civitas akademika Universitas Trisakti. Pihak kampus sendiri melarang mahasiswa keluar kampus. Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pagi itu, suasana masih terlihat normal. Massa terus berdatangan dan jumlahnya pun terus bertambah. Massa yang datang sejak pukul 08.00 pagi itu masih tetap fokus menujukkan rasa simpati mereka atas tragedi Trisakti, hingga sekitar pukul 12.00 WIB suasana berubah saat terjadi pembakaran sebuah truk di perempatan jalan raya.

Pembakaran truk memicu emosi massa di sekitaran Kampus Trisakti. Massa mulai melempari aparat dan bertindak anarkhis dengan mencabut dan merusak rambu-rambu lalu lintas serta pagar pembatas. 

Suasana semakin memanas, kerusuhan mulai merembet ke wilayah lain di sekitaran Grogol. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menyebutkan, titik picu awal kerusuhan di Jakarta terletak di wilayah Jakarta Barat, tepatnya di wilayah seputar Universitas Trisakti. 

Sekelompok massa bergerak diikuti massa lain ke wilayah Grogol seperti ke Jl. KH Hasyim Asyari, Jl. Kyai Tapa, Roxy dan sekitarnya. Mereka merusak dan membakar kendaraan, gedung dan juga pertokoan. Massa juga mulai melakukan penjarahan.
 
Tidak hanya terjadi di beberapa wilayah di Jakarta Barat, kerusuhan disertai pembakaran dan penjarahan juga merembet ke beberapa wilayah di Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. Bahkan, jelang malam, kerusuhan mulai masuk ke wilayah Tangerang, seperti Batuceper. 

Kerusuhan disertai pembakaran dan penjarahan 13 Mei 1998 terus berlanjut keesokan hari hingga 15 Mei 1998. Isu ras Anti China yang berhembus semakin memperparah kondisi di Jakarta dan sekitarnya. Kerusuhan dan pembakaran disertai penjarahan meluas ke beberapa wilayah di Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Bekasi. 

Perkantoran, pertokoan, pusat perniagaan dibakar dan dijarah. Warga berebut mengambil apa saja yang bisa mereka bawa pulang. Mirisnya, pembakaran pusat pertokoan yang dilakukan warga, menelan korban jiwa. Seperti di kawasan Pusat Perbelanjaan Slipi Jaya, di mana banyak warga yang tewas terbakar begitu pula di kawasan pusat belanja di kawasan Klender, Jakarta Timur. 

Peristiwa kelam yang dialami bangsa Indonesia takkan hilang dari lembar catatan sejarah. Kondisi krisis ekonomi, sosial yang memicu aksi unjuk rasa besar-besaran menuntut turunnya Presiden Soeharto ternyata harus dibayar mahal dengan harta dan nyawa anak bangsa.

aku ciumi pula badai yang membakar kota:

abu tubuhmu berkobar di tangga kemarau,

hingga perih berduri perih. Abu jantungmu menebas

anak-anak waktu, hingga darah berduri darah 

(Dari Puisi Jamal D. Rahman)

Ita Martadinata Haryono, siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh 

Kerusuhan Mei 1998 merupakan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.  Kerusuhan berawal dari krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti. Empat mahasiswa Universitas Trisakti terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.

Presiden berkuasa saat itu Soeharto turun jabatan dan digantikan oleh B. J. Habibie

Konsentrasi kerusuhan pada toko-toko dan perusahaan—terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa-- hancur diamuk massa.

Kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Medan dan Surakarta. Ratusan wanita keturunan Tionghoa diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dan dibunuh.

Banyak warga Indonesia keturunan yang meninggalkan Indonesia.

Seorang aktivis relawan kemanusiaan bernama Ita Martadinata Haryono, siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh.

Banyak toko ditulisi “Milik pribumi" atau "Pro-reformasi" oleh pemiliknya karena massa fokus menyerang orang-orang Tionghoa. Beberapa dari mereka tidak ketahuan, beberapa lainnya ketahuan bukan milik pribumi.

Hingga bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan terhadap nama-nama yang dianggap kunci dari peristiwa kerusuhan Mei 1998.

Pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebut bukti-bukti konkret tidak dapat ditemukan atas kasus-kasus pemerkosaan tersebut, namun pernyataan ini dibantah oleh banyak pihak. (id.wikipedia.org)

 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kepulan asap keluar di depan Masjid Istiqlal akibat kabel listrik terbakar
Minggu, 25 Oktober 2020 - 20:55 WIB
Kepulan asap sempat keluar di depan Masjid Istiqlal akibat adanya kabel listrik yang ditanam di bawa...
Peringatan dini cuaca Jawa Barat malam hari ini
Minggu, 25 Oktober 2020 - 19:11 WIB
Wilayah Jawa Barat masih berpotensi diguyur hujan hingga malam hari.
5 orang terduga perusuh di Jember ditangkap
Minggu, 25 Oktober 2020 - 18:57 WIB
Aparat Kepolisian Resor Jember, Jawa Timur, menangkap lima orang yang diduga terlibat kerusuhan saat...
Peringatan dini cuaca Banten siang hingga sore hari ini
Minggu, 25 Oktober 2020 - 14:38 WIB
Wilayah Banten berpotensi diguyur hujan pada siang hingga sore hari nanti.
Sepekan menghilang, pencarian tiga anak di Langkat terus dilakukan 
Minggu, 25 Oktober 2020 - 14:12 WIB
Hilangnya tiga bocah di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara hingga kini masih misteri. Namun upaya pen...
Peringatan dini cuaca Jawa Barat siang hingga jelang sore hari ini
Minggu, 25 Oktober 2020 - 13:55 WIB
Wilayah Jawa Barat berpeluang diguyur hujan pada siang hingga jelang sore hari ini.
Peringatan dini cuaca Banten siang hari ini
Minggu, 25 Oktober 2020 - 12:46 WIB
Wilayah Banten berpotensi diguyur hujan pada siang hari ini.
Peringatan dini cuaca Jabodetabek siang hari ini
Minggu, 25 Oktober 2020 - 12:38 WIB
Wilayah Jabodetabek berpotensi diguyur hujan sepanjang siang hari ini.
25 Oktober 2010, gempa Magnitudo 7,7 guncang Kepulauan Mentawai
Minggu, 25 Oktober 2020 - 08:28 WIB
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan lepas pantai Sumatera atau Kepulauan Mentawai.
Peringatan dini cuaca Jabodetabek sore hingga malam hari ini
Sabtu, 24 Oktober 2020 - 17:46 WIB
Wilayah Jabodetabek berpotensi diguyur hujan pada sore hingga malam hari ini.
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV