Merokok bukan satu-satunya penyebab kanker paru-paru
Elshinta
Minggu, 07 Juli 2019 - 19:24 WIB |
Merokok bukan satu-satunya penyebab kanker paru-paru
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/32f0c3C

Elshinta.com - Sebesar 90 persen kasus kanker paru memang disebabkan kebiasaan merokok, tapi bukan berarti orang yang tidak merokok akan jauh dari penyakit tersebut, justru ada beberapa faktor lain yang menjadi penyebab kanker paru.

Sebelumnya, Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia pada Minggu pukul 02.00 WIB di Guangzhou, China, setelah menjalani pengobatan kanker paru-paru.

Sebelum meninggalkan Tanah Air untuk pengobatan lebih lanjut di Guangzhou pada 15 Juni 2019, Sutopo mengaku kaget dirinya divonis kanker paru stadium empat karena ia bukanlah perokok.

Setidaknya enam faktor yang menyebabkan berkembangnya sel kanker paru, selain kebiasaan merokok aktif, seperti dikutip Antara.

  • Perokok pasif

Perokok pasif atau menghirup asap tembakau dari orang lain yang berada di sekitar Anda dapat menjadi penyebab kanker paru.

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang tidak merokok yang tinggal dengan perokok memiliki peningkatan risiko kanker 24 persen jika dibandingkan dengan bukan perokok lainnya, bahkan 7.300 kematian akibat kanker paru-paru terjadi setiap tahun di Amerika Serikat yang disebabkan oleh perokok pasif.

  • Serat asbes

Serat asbes adalah serat silikat yang dapat bertahan seumur hidup di jaringan paru-paru setelah terpapar asbes.

Tempat kerja adalah sumber paparan serat asbes yang umum, karena dulu asbes banyak digunakan untuk bahan isolasi termal. Saat ini, penggunaan asbes terbatas atau dilarang di banyak negara termasuk Amerika Serikat.

Paparan asbes jangka panjang terkait dengan peningkatan risiko kanker paru-paru. Penambang, pekerja pabrik atau orang yang mungkin menghirup serat asbes memiliki risiko lebih besar terkena kanker paru-paru.

  • Gas radon

Gas Radon adalah gas inert alami yang secara kimia merupakan produk peluruhan alami uranium.

Gas itu meluruh untuk membentuk produk yang memancarkan jenis radiasi ion. Gas radon diketahui sebagai penyebab kanker paru-paru, dengan perkiraan 12 persen kematian akibat kanker paru-paru disebabkan oleh gas radon, atau 15.000 hingga 22.000 kematian terkait kanker paru-paru setiap tahun di AS.

Gas radon dapat melakukan perjalanan melalui tanah dan memasuki rumah melalui celah di fondasi, pipa, saluran air, atau lubang lainnya. Badan Perlindungan Lingkungan AS memperkirakan bahwa satu dari setiap 15 rumah di AS mengandung tingkat gas radon yang berbahaya. Gas radon tidak terlihat dan tidak berbau, tetapi dapat dideteksi dengan alat tes sederhana.

  • Genetik

Faktor genetik juga dapat berperan dalam peluang seseorang terkena kanker paru-paru. Riwayat keluarga dengan kanker paru-paru mungkin menimbulkan risiko lebih tinggi terkena penyakit ini. Jika orang lain di keluarga Anda pernah atau pernah menderita kanker paru-paru, penting untuk mengungkapkan hal ini ke dokter Anda.

  • Menghirup bahan kimia

Menghirup bahan kimia atau mineral, seperti asbes, arsenik, kromium, nikel, jelaga, atau tar dari waktu ke waktu dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru pada seseorang. Pekerja di industri manufaktur atau pertambangan tertentu mungkin memiliki paparan yang lebih tinggi terhadap bahan kimia ini.

  • Polusi Partikel

Polusi partikel mengacu pada campuran partikel padat dan cair yang sangat kecil di udara yang kita hirup. Bukti menunjukkan bahwa polusi partikel seperti yang berasal dari asap knalpot dan polusi udara dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Menurunnya sistem imun sebabkan rentan sakit saat tua 
Selasa, 21 Januari 2020 - 21:11 WIB
Kepala HayandraLab dr Komang A Wahyuningsih M Biomed (AAM) SpDLP mengatakan sistem imun yang semakin...
 RS UMM tambah tiga layanan untuk pasien 
Selasa, 21 Januari 2020 - 14:47 WIB
Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM), Jawa Timur kini dilengkapi tiga sarana penunj...
Melalui `Gowes Bersama`, Kapolresta Bandung gaungkan pola hidup sehat 
Jumat, 17 Januari 2020 - 19:16 WIB
Seperti istilah Men Sana In Corpore Sano yang berarti di dalam raga yang sehat terdapat raga yang ku...
Bupati Langkat ajak <i>stakeholder</i> cegah stunting
Kamis, 16 Januari 2020 - 14:36 WIB
Bupati Langkat, Sumatera Utara, mengajak keterlibatan semua pemangku kepentingan (stakeholder) di Ka...
Perlu diluruskan, Kemenkes: Ada pemahaman yang salah soal rokok elektronik
Kamis, 16 Januari 2020 - 10:06 WIB
Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan, Alexander K Ginting menga...
Khasiat jamur untuk penderita diabetes
Selasa, 14 Januari 2020 - 09:16 WIB
Jamur rendah kalori sehingga bisa menjadi pilihan menu makanan atau bahkan camilan sehat para penyan...
Terpapar polusi udara berisiko kena skizofrenia
Minggu, 12 Januari 2020 - 08:29 WIB
Polusi udara mempengaruhi kesehatan fisik dan hasil penelitian dalam jurnal JAMA Network Open menyim...
Menkes minta warga Indonesia waspada penyakit pneumonia berat di Tiongkok
Sabtu, 11 Januari 2020 - 13:39 WIB
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto meminta warga Indonesia untuk waspada terhadap penyakit pneu...
Antisipasi peredaran narkoba, Polsek Medan Timur dirikan `Posko Sumut Bersih Narkoba`
Kamis, 09 Januari 2020 - 20:34 WIB
Polsek Medan Timur Polrestabes Medan mendirikan Posko Sumut Bersih Narkoba (Bersinar) di kawasan Lin...
Kemenkes selidiki kemungkinan kasus pneumonia berat di Indonesia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:59 WIB
Kementerian Kesehatan berupaya untuk menyelidiki dan meneliti kemungkinan adanya kasus baru pnemuoni...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV