Google hapus aplikasi pengintai di Play Store
Elshinta
Kamis, 18 Juli 2019 - 16:48 WIB |
Google hapus aplikasi pengintai di Play Store
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2XWqF2T

Elshinta.com - Avast, perusahaan keamanan siber yang terkenal dengan produk antivirus, menemukan bahwa Google sudah menghapus sejumlah aplikasi pengintai dari pasar Play Store.

Avast, seperti diberitakan laman SlashGear, menemukan tujuh aplikasi pengintai di Play Store, aplikasi terebut dapat digunakan untuk menguntit anak, pasangan, karyawan, atau siapa pun yang memasang aplikasi tersebut di ponsel Android.

"Aplikasi-aplikasi ini sangat tidak etis dan bermasalah untuk privasi dan semestinya tidak ada di Google Play Store. Mereka mempromosikan perilaku kriminal dan dapat disalahgunakan oleh karyawan, penguntit atau pasangan abusif untuk mengintai korban mereka," kata pimpinan keamanan mobile di Avast, Nikolaos Chrysaidos.

Avas mengkategorikan aplikasi seperti itu sebagai stalkerware dan mereka segera mengontak Google atas temuan tersebut. Menurut Avast, Google sudah menghapus aplikasi tersebut dari Play Store.

Sayangnya, aplikasi tersebut sudah diunduh hingga 130.000 kali, menurut Avast yang terpopuler SMS Tracker dan Spy Tracker, masing-masing diunduh 50.000 kali.

Aplikasi lainnya yang termasuk dihapus antara lain Employee Work Spy, Phone Cell Tracker, Mobile Tracking, Spy Kids Tracker dan Track Employees Check Work Phone Online Spy Free.

Avast menemukan produk tersebut memberi tahu bagaimana cara memasang aplikasi ke ponsel korban. Korban tidak tahu meski pun aplikasi sudah dihapus, mereka masih diawasi.

Aplikasi ini akan mengirimkan informasi mengenai alamat email korban, termasuk juga SMS, lokasi, kontak dan histori panggilan telepon. Demikian mengutip Antara.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pejabat PBB dilarang pakai WhatsApp sejak tahun lalu
Jumat, 24 Januari 2020 - 11:38 WIB
Para pejabat PBB dilarang menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi karena `tidak didukung sebagai me...
Google kembangkan aplikasi penangkal kecanduan smartphone  
Kamis, 23 Januari 2020 - 14:27 WIB
Google dikabarkan baru saja meluncurkan tiga aplikasi eksperimen sebagai bagian dari Digital Wellbei...
Facebook rilis tema gelap di Android ke lebih banyak pengguna
Kamis, 23 Januari 2020 - 11:50 WIB
Setelah meluncurkan tema gelap untuk aplikasi Messenger dan laman Facebook kini mulai merilis uji co...
WhatsApp mode gelap baru tersedia untuk pengguna beta
Rabu, 22 Januari 2020 - 11:45 WIB
WhatsApp akhirnya menambahkan mode gelap pada aplikasinya pada platform Android. Namun, fitur terseb...
Instagram hapus tombol IGTV di beranda 
Senin, 20 Januari 2020 - 17:25 WIB
Setelah Instagram meluncurkan IGTV pada tahun 2018 lalu, kini Instagram menghapus tombol IGTV yang m...
WhatsApp akan punya fitur stiker animasi
Senin, 20 Januari 2020 - 10:37 WIB
Aplikasi berkirim pesan WhatsApp akan memiliki fitur baru berupa stike animasi, dilihat dari aplikas...
Yahoo luncurkan mesin pencari yang fokus pada privasi
Minggu, 19 Januari 2020 - 12:17 WIB
Verizon baru-baru ini merilis mesin pencari Yahoo OneSearch baru yang ditenagai oleh Microsoft Bing,...
Instagram resmi akan buat DM lewat web
Sabtu, 18 Januari 2020 - 13:59 WIB
Instagram mengumumkan sedang mengembangkan fitur baru agar pengguna bisa mengirim pesan pribadi alia...
Facebook batal pasang iklan di WhatsApp
Jumat, 17 Januari 2020 - 14:36 WIB
Facebook Inc membatalkan rencana untuk memasang iklan di aplikasi berbagi pesan secara cuma-cuma Wha...
Instagram tambah efek Boomerang mirip TikTok
Minggu, 12 Januari 2020 - 21:32 WIB
Media sosial milik Facebook, Instagram, menambah efek Boomerang mirip filter yang disediakan TikTok ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV