Warga Selandia Baru serahkan lebih dari 10.000 senjata api
Elshinta
Senin, 22 Juli 2019 - 06:15 WIB |
Warga Selandia Baru serahkan lebih dari 10.000 senjata api
kumentasi spanduk dipasang di situs peringatan korban penembakan Jumat lalu, di depan Christchurch Botanic Garden di Christchurch, Selandia Baru, Selasa (19/3/2019). Sumber Foto: https://bit.ly/2y3plRb

Elshinta.com - Warga Selandia Baru telah menyerahkan lebih dari 10.000 senapan, perangkat dan asesoris senjata api selama pekan pertama pemberlakuan program membeli kembali di negara tersebut.

Program itu dicanangkan setelah penembakan massal terburuk dalam masa damai negara itu. Angka tersebut diketahui berdasarkan data kepolisian yang dirilis pada acara hari Minggu, Sunday show.

Undang-undang reformasi senjata yang dikeluarkan pada April lalu, melarang sebagian besar senjata api semi-otomastis, perangkat-perangkat yang mengubah senjata api menjadi semi-otomatis, alat penyimpanan dan pengisian amunisi atau magazen, dan beberapa jenis senapan.

Para pemilik diberi waktu hingga 20 Desember untuk menyerahkan senjata apinya dan akan dihargai sampai dengan 95 persen dari harga asli saat pembelian.

Pemerintah Selandia Baru telah menyiapkan 208 juta dolar Selandia Baru, setara dengan kira-kira Rp2 triliun, sebagai kompensasi bagi mereka.

Program pembelian kembali ini dilakukan empat bulan setelah seorang penembak menggunakan senjata api semi-otomatis untuk menyerang umat Muslim yang tengah melakukan salat Jumat di kota Christchurch. Sebanyak 51 orang tewas dalam kejadian tersebut.

Lebih dari 2.000 orang telah menyerahkan 3.275 senjata api, 7.827 perangkat dan asesoris. Sebagai gantinya, otoritas Selandia Baru telah membayar mereka lebih dari 6 juta dolar Selandia Baru, atau setara dengan sekitar 56 miliar rupiah.

Angka tersebut diperoleh setelah program membeli kembali itu dimulai Sabtu lalu, kata seorang aparat kepolisian kepada Reuters melalui telepon, Minggu.

Kepolisian setempat mengapresiasi tingginya jumlah orang yang menyerahkan senjata pada hari Minggu, dengan 684 orang menyerahkan 1.061 senjata dan 3.397 perangkat dan asesoris dalam acara yang berbeda-beda di penjuru negara itu.

Pengawas polisi Karyn Malthus mengatakan ratusan senjata api telah diserahkan di kota Auckland. “Respon dari para pemilik senjata sangat positif,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Menurut laporan media, Rabu, penduduk kota Christchurch kecewa dengan usulan pembukaan toko senjata api ‘Gun City’ di kota itu.

Brenton Tarrant, yang dituduh atas aksi penembakan pada 15 Maret itu, membeli empat senjata dan amunisi dari toko tersebut melalui jaringan daring.

Tarrant, yang akan diadili pada Mei, menyatakan tidak bersalah atas 92 tuduhan yang dibebankan kepadanya, termasuk tuduhan terorisme pertama di Selandia Baru.

Menurut Small Arms Survey, dengan populasi di bawah lima juta orang dan diperkirakan total 1,5 juta senjata api, Selandia Baru berada di peringkat ke-17 dalam daftar kepemilikan senjata api sipil. Demikian mengutip Antara.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
KJRI Jeddah gandeng 21 pengusaha Saudi bahas investasi di Indramayu
Senin, 14 Oktober 2019 - 21:07 WIB
Elshinta.com - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah menggandeng 21 pengusaha besa...
Bakamla RI hadiri HLM for the 15th HACGAM di Colombo
Senin, 14 Oktober 2019 - 10:38 WIB
Elshinta.com - Perwakilan Bakamla RI/Indonesian Coast Guard (IDNCG) dan Polair yang tergab...
Pembunuh sutradara `The Incredible Hulk` ditangkap
Sabtu, 12 Oktober 2019 - 09:56 WIB
Elshinta.com - Awal pekan ini, polisi menangkap Edwin Jerry Hiatt karena diduga terlibat d...
Pemukim Yahudi bakar lahan zaitun yang siap panen di selatan Nablus
Rabu, 09 Oktober 2019 - 12:39 WIB
Elshinta.com - Pemukim Yahudi membakar puluhan pohon zaitun milik warga selatan Nablus, di...
Tiongkok kecam pembatasan visa AS
Rabu, 09 Oktober 2019 - 08:55 WIB
Elshinta.com - Kedutaan Besar Tiongkok di Washington pada Selasa (8/10) mengecam pemberlakuan p...
Resmi dilantik Paus Fransiskus, Uskup Suharyo Kardinal ketiga dari Indonesia
Rabu, 09 Oktober 2019 - 06:43 WIB
Elshinta.com - Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo resmi dilantik seb...
Alami kecelakaan, TKW Sukabumi segera dipulangkan ke kampung halaman
Selasa, 08 Oktober 2019 - 12:07 WIB
Elshinta.com - Tenaga kerja wanita asal Desa Citarik, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ilega...
 Turki akan luncurkan operasi militer di timur Sungai Efrat
Sabtu, 05 Oktober 2019 - 20:43 WIB
Elshinta.com - Presiden Tayyip Erdogan mengatakan Turki akan meluncurkan operasi militer d...
Tak miliki izin tinggal dan visa kerja, 26 WNI ditahan Imigrasi Malaysia
Jumat, 04 Oktober 2019 - 19:45 WIB
Elshinta.com - Kantor Imigrasi Malaysia menahan 26 Warga Negara Indonesia (WNI) terdiri 20 oran...
Insiden jembatan runtuh di Taiwan, dua WNI ditemukan meninggal dunia
Rabu, 02 Oktober 2019 - 12:37 WIB
Elshinta.com - Sebanyak dua dari tiga orang WNI yang sempat dilaporkan hilang karena terjebak r...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)
Elshinta
Mochamad Solichin
Elshinta
Mochamad Solichin
Elshinta
Mochamad Solichin