Hanya butuh Rp150.000 untuk teknik Dekomposer dan Mikroba di restorasi lahan gambut
Elshinta
Senin, 22 Juli 2019 - 09:45 WIB | Penulis : Dewi Rusiana | Editor : Administrator
Hanya butuh Rp150.000 untuk teknik Dekomposer dan Mikroba di restorasi lahan gambut
Foto: Elshinta Palembang

Elshinta.com - Badan Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia bersama dengan Lembaga Pengembangan Pertanian Nadhatul Ulama (LPPNU) Provinsi Sumatera Selatan, melakukan kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Lahan Gambut Tanpa Bakar ke beberapa wilayah di Provinsi Sumatera Selatan, pada 20-21 Juli 2019. 

Sosialisasi dilakukan di Pondok Pesantren Al-Ittihaad Islamic Center KTM Telang di Desa Muliasari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, dan Pondok Pesantren Mambaul Ulum di Desa Sari Agung, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin. 

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Deputi Bidang Edukasi Sosialisasi Partisipasi dan Kemitraan BRG RI, Dr. Myrna A. Safitri PhD, Kasubbag Edukasi Sosialisasi Partisipasi dan Kemitraan BRG RI,  Desi Erni Nawasti S.Hut., M.Si, Sekretaris Tim Restorasi Gambut Daerah Provinsi Sumsel,  Eko Agus Surianto SE,  Perwakilan LPPNU Pusat,  Ir. Budi Ichsan Nasution, Ketua LPPNU Provinsi Sumsel, Drs. H. Agus Muhaimin MM, pimpinan Ponpes Al-Ittihaad Islamic Center KTM Telang KH. Zainur Arifin, dan Pimpinan Ponpes Mambaul Ulum,  KH.  Moch. Akrom, serta para kepala desa dan petani di dua kecamatan tersebut.

Dalam kegiatan sosialisasi ini BRG RI juga memberikan pelatihan kepada para petani tentang bagaimana mengelola lahan gambut yang ramah lingkungan dengan tanpa dibakar.

Selaku pemateri dari Praktisi Pertanian Alami yang juga Direktur Institut Agro Ekologi Indonesia (Inagri), Syahroni mengatakan, bahwa problem lahan gambut adalah tingkat keasaman, miskin unsur hara, miskin mikroorganisme sehingga menimbulkan penurunan produksi panen. 

Dalam pelatihan ini diberikan dua kategori materi. Kategori pertama adalah bahan pembenahan tanah yakni bahan-bahan yang digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah seperti arang sekam yang berfungsi untuk mengatasi pH tanah,  mengatasi racun-racun yang ada di dalam tanah dan menambah unsur silika yang penting buat tanaman.

"Bahan pembenahan tanah lainnya berupa mikroorganisme lokal yang diambil dari lingkungan sekitar untuk diproduksi sebagai bakteri pengurai," katanya, kepada Elshinta Palembang. 

Kategori kedua adalah membuat nutrisi untuk tanaman yang diramu dari sumberdaya lokal yang ada di sekitar seperti dedaunan dan  buah-buahan sebagai unsur nabati, unsur hewani dari limbah organik contohnya ikan lele yang dihaluskan dan limbah pertanian sebagai sumber unsur hara tanaman yang dapat menghasilkan unsur N,  P, K, dan unsur mikro yang biasanya para petani beli di toko-toko pertanian berupa pupuk kimia yang sudah tidak ramah dengan lingkungan lagi. 

Di samping itu, para petani juga diajarkan cara praktis memberikan nutrisi pada lahan dengan proses fermentasi.

Ditambahkannya bahwa para petani dapat menghemat dana yang cukup signifikan dengan menggunakan teknik pertanian alami pengolahan lahan gambut ini, yang biasanya untuk biaya input produksi membutuhkan dana mencapai sekitar 2,5 juta untuk membeli pupuk, bibit tanaman, pestisida dan nutrisinya, biaya produksi ini bahkan bisa lebih karena semakin kesini tanah semakin miskin akan unsur hara dan perlu penambahan pupuk kimia, akan tetapi dengan teknik pertanian alami ini para petani dapat mengurangi biaya input produksinya.

"Hanya sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000 saja untuk biaya input produksi dengan teknik Dekomposer dan Mikroba atau pertanian alami di lahan restorasi gambut tanpa dibakar," jelasnya. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Atasi karhutla, Kodam II/Sriwijaya turunkan 1.000 personel
Minggu, 25 Agustus 2019 - 12:12 WIB
Elshinta.com - Kodam II/Sriwijaya menurunkan Satgas Karhutla yang terdiri dari TNI bersama Polisi, M...
Hutan kawasan Bandara Hang Nadim terbakar, tidak ganggu penerbangan
Minggu, 25 Agustus 2019 - 09:54 WIB
Elshinta.com - Aktivitas penerbangan tidak terganggu akibat dari kebakaran hutan di wilayah Kawasan ...
Kebakaran landa hutan di kawasan Bandara Hang Nadim
Minggu, 25 Agustus 2019 - 09:15 WIB
Elshinta.com - Hutan di wilayah Kawasan Keselamatan Oprasional Penerbangan (KSOP) Bandara Internasio...
Inovatif, Pemerintah puji pertanian berbasis pariwisata di Tabanan
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:45 WIB
Elshinta.com - Pemerintah Indonesia melalui Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmi...
Mantan Menteri BUMN beri apresiasi Pertamina tanam 90.000 mangrove
Selasa, 20 Agustus 2019 - 10:26 WIB
Elshinta.com - Mantan Menteri BUMN Mustafa Abubakar, memberi apresiasi kepada Pertamina terkait pel...
Dongkrak hasil produksi, petani bawang tanam demplot ramah lingkungan
Senin, 19 Agustus 2019 - 20:59 WIB
Elshinta.com - Petani bawang merah binaan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kediri memiliki pola ta...
Menteri LHK siapkan imbauan kemasan plastik sekali pakai
Senin, 19 Agustus 2019 - 19:10 WIB
Elshinta.com - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengungkapkan saat ...
Siti Nurbaya: Karhutla masih bisa dikendalikan
Senin, 19 Agustus 2019 - 18:35 WIB
Elshinta.com - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar menyebutkan dari fl...
Tak pakai air PDAM, bisnis besar di Depok marak eksploitasi air tanah
Senin, 19 Agustus 2019 - 16:25 WIB
Elshinta.com - Manajer Marketing dan Juru Bicara Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Asasta, ...
Jonan minta lahan reklamasi Freeport ditanami tanaman keras
Senin, 19 Agustus 2019 - 11:27 WIB
Elshinta.com - Menutup rangkaian kunjungan kerjanya di PT Freeport Indonesia (PT FI) usai menjadi In...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)