Pemkab Cianjur targetkan 2030 wilayahnya `triple zero` kasus HIV/AIDS
Elshinta
Jumat, 13 September 2019 - 20:43 WIB | Penulis : Dhany Lukito | Editor : Administrator
Pemkab Cianjur targetkan 2030 wilayahnya `triple zero` kasus HIV/AIDS
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Cianjur, dr Neneng Efa Fatimah. Sumber foto: Elshinta/Angga Purwanda

Elshinta.com - Pelaku hubungan seks menyimpang, laki-laki seks laki-laki (LSL) menjadi penyumbang tersebar orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hingga triwulan ketiga, jumlah ODHA baru di Tatar Santri itu sebanyak 94 orang.

"Hampir 40 persen pengidap HIV/AIDS baru di Cianjur adalah para pelaku seks menyimpang, LSL," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Cianjur, Neneng Efa Fatimah, kepada Kontributor Elshinta, Angga Purwanda, Jumat (13/9).

Selain LSL, lanjut Efa, penyumbang ODHA di Cianjur juga ada dari kalangan ibu rumah tangga, pekerja seks komersial, dan kelompok pelaku seks lainnya.

Menurutnya, angka ODHA baru tersebut kemungkinan akan terus bertambah, mengingat ada waktu tiga bulan lagi hingga akhir tahun untuk melakukan pemeriksaan dan pendampingan terhadap pengidap HIV/AIDS.

"Angkanya kemungkinan akan bertambah, karena kita masih akan terus melakukan pendataan dan pendampingan hingga akhir tahun ini. Tahun ini, diperkirakan melebihi dari pendataan di 2018, dengan total 124 ODHA," jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun, pada 2017 tercatat ada 168 orang dengan HIV/AIDS, 86 orang di antaranya merupakan pelaku seks menyimpang. Sedangkan, pendataan yang dilakukan sejak 2005 sampai 2016 tercatat ada 655 ODHA di Cianjur. Untuk ODHA berdasarkan kelompok usia, sebut Efa, berada pada rentang usia 30-45 tahun dengan 20 persen. Kemudian disusul di usia 20 hingga 30 tahun, dan usia remaja.

Ketika ditanya terkait adanya ASN di lingkungan Pemkab Cianjur yang mengidap HIV/AIDS, Efa mengaku tidak memiliki data dan pihaknya tidak mengklasifikasi data profesi. Namun dia mengakui jika kemungkinan ada ODHA di lingkungan ASN.

"Kalau jumlah data jelasnya kami tidak tahu, karena memang pendataannya tidak sampai ke ranah sana, termasuk pengelompokannya. Tapi berpotensi ada. Karena, tidak tidak menutup kemungkinan di lingkungan profesi lainnya pun ada, karena HIV/AIDS ini tidak terpaku pada siapa dan apa profesinya," ungkapnya.

Efa menjelaskan, data ODHA setiap tahunnya dipastikan akan mengalami peningkatan. Pasalnya Pemkab ditargetkan untuk melakukan pendataan, pemeriksaan, dan pembinaan terhadap pengidap HIV/AIDS.

Menurutnya, data yang diperoleh tersebut akan dijadikan dasar untuk penanganan masalah HIV/AIDS. Sehingga pada 2030 bisa terkejar untuk target triple zero, yakni zero ODHA baru, zero diskriminasi, dan zero kematian akibat HIV/AIDS.

"Sekarang target kami melakukan pemeriksaan ke setiap kecamatan untuk menemukan ODHA baru hingga 2025, setelahnya bagaimana target triple zero itu terwujud. Makanya pasti setiap tahun ada peningkatan. Bukan berarti banyak itu menjadi jelek image nya, malah itu bagus. Karena kerja Pemkab melalui Dinas Kesehatan memang maksimal. Tentu setelahnya penanganan dan pengobatan," kata dia.

Dia berharap dengan percepatan pendataan, penanganan, dan pembinaan, penyebaran HIV/AIDS bisa menurun ke depannya. Apalagi Pemkab telah menjalankan program keagamaan untuk mencegah setiap prilaku yang berpotensi menularkan perilaku sek bebas dan menyimpang, yang dapat menularkan HIV/AIDS.

Di samping itu, pengidap HIV/AIDS juga diharapkan mengikuti bimbingan dan konseling terutama yang akan dan telah berumah tangga, agar pasangan mereka tidak tertular HIV/AIDS.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
 BIN proaktif tes swab di daerah episentrum COVID-19
Sabtu, 23 Mei 2020 - 06:25 WIB
Badan Intelijen Negara (BIN) proaktif membantu pemerintah mempercepat penanganan wabah virus corona ...
Mengapa pria dewasa bisa kekanak-kanakan?
Jumat, 22 Mei 2020 - 23:15 WIB
Seiring bertambahnya usia, sudah sewajarnya seorang pria menunjukkan sikap dan sifat yang dewasa pul...
 Penyebab rambut kemaluan memutih lebih cepat
Rabu, 20 Mei 2020 - 23:15 WIB
Fakta bahwa rambut kemaluan ternyata juga bisa beruban, tentunya sangat mengejutkan. Namun bila ramb...
Pasien positif COVID-19 di DIY bertambah menjadi 209 orang
Rabu, 20 Mei 2020 - 21:56 WIB
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat jumlah kasus pasien dalam pengawasan (PDP) yang terko...
Rapid test massal di fasum Ponorogo, 36 orang reaktif
Rabu, 20 Mei 2020 - 15:47 WIB
Tim satgas penanggulangan Covid-19 Ponorogo melakukan rapid test massal. Mereka menyasar titik–tit...
Mengapa pria dianggap lebih sering memikirkan seks daripada wanita?
Selasa, 19 Mei 2020 - 23:15 WIB
Kebanyakan orang menganggap wajar jika pria lebih sering memikirkan seks daripada wanita. Bahkan, ko...
 60 personil SAR Jayapura lakukan rapit test Covid-19
Selasa, 19 Mei 2020 - 19:55 WIB
Sebanyak 60 orang personil Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Jayapura mengikuti rapid test mass...
Relawan Indonesia Bersatu gelar rapid test dan PCR COVID-19 massal
Selasa, 19 Mei 2020 - 18:25 WIB
Relawan Indonesia Bersatu Lawan COVID-19 kembali menggelar `rapid test` dan `PCR test`massal untuk m...
Lima hal agar tak kena COVID-19
Selasa, 19 Mei 2020 - 13:57 WIB
Disiplin dan konsisten menerapkan perilaku bersih dan sehat antara lain mencuci tangan menjadi salah...
Mengapa pria sebaiknya tidak tidur larut malam?
Senin, 18 Mei 2020 - 23:15 WIB
Pria yang memiliki gangguan tidur seperti insomnia atau begadang nampaknya harus mulai berhati-hati....
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV