Pelajar Indonesia bertarung di KRAN demi tiket lomba roket air di Jepang
Elshinta
Minggu, 29 September 2019 - 18:44 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Administrator
Pelajar Indonesia bertarung di KRAN demi tiket lomba roket air di Jepang
Foto: Hendrik Raseukiy/Radio Elshinta

Elshinta.com - Perhelatan inovatif dan inspiratif untuk menumbuhkan minat dan kemampuan ilmu pengetahuan sejak dini, diselenggarakan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Perhelatan ini berupa Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) tahun 2019 berlangsung di Lapangan Rotunda Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Jawa Barat pada Minggu (29/9), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hendrik Raseukiy.

Kompetisi ini diikuti sebanyak 140 pelajar dari kategori usia 12 sampai 16 tahun yaitu dari pelajar SMP, SMA, dan SMK.

"Di tahun 2019 ini, delegasi berasal dari 13 provinsi. Awalnya, dimulai kompetisi KRAN di tingkat daerah masing-masing sehingga, menjadi 10 orang pemenang di tingkat provinsi untuk menjadi delegasi di tingkat nasional ini. Kompetisi ini secara berkala sudah berlangsung dalam 28 tahun. Setiap daerah maksimalnya mengirim 10 orang delegasi, namun  bisa saja, delegasi provinsi membawa orang saja, sesuai dengan situasi atau kondisi pembiayaan masing-masing. Soal pembiayaan ini, dapat berasal dari peribadi keluarga pelajarnya, sekolah, pemerintah daerah, ataupun dari sponsor pihak swasta. Bebas," ujar Direktur PP IPTEK Mochammad Syahrial Annas.

Pantauan, untuk  mencari unggulan dalam penembakan roket ini adalah, peserta dapat menempatkan roket air ke sasaran utama yang pusatnya berjarak 80 meter dari basis peluncuran. Sasaran jatuh dari roket air ini berbentuk luas seperti helipad. Ada lingkaran bidang nilai seperti sasara untuk olahraga panahan. 

Dilanjutkan Annas, pengunggul nantinya akan mewakili pelajar Indonesia dalam kompetisi yang sama yaitu di tingkat Asia-Pasifik yang rencananya akan berlangsung pada tanggal 22-25 November 2019, di Japan. Sebelumnya, di tingkat Internasional, di tahun 2017 pelajar Indonesia pernah meraih peringkat kedua di Philipina. 

Penilaian kompetisi ini dilakukan oleh dewan juri dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Pusat Teknologi Roket LAPAN, dan PP-IPTEK Kemenristekdikti. 

Mencari enam orang pelajar di Kompetisi ini menjadi langkah akhir menuju Kompetisi Roket Air Internasional yang akan diselenggarakan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dalam kegiatan Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF). 

Bagaimana cara kerja roket air ini, Syahrial Annas menjelaskan. Roket air ini, terbuat dari bahan botol plastik keras bekas minuman soda. Terdiri dari dua buah botol yang dirakit menjadi satu bagian badan roket. 

Badan roket dilengkapi dengan sayap atau sirip yang terbuat dari bahan infraboard atau plastik kanopi tebal yang dipotong dan dibentuk seperti sirip roket pesawat ulang alik. Sedangkan desain sirip roket bentuknya dapat bermacam-macam tergantung dari kreativitas para peserta. 

Cara kerja roket dengan prinsip parabolik. Dalam roket botol ada air sedikit diletakkan di dua besi panjang sebagai busur penampang peluncur. Kemudian, air ditekan oleh tekanan gas sampai ditembakkan setelah menekan pemicunya.

Peserta diberikan kebebasan membuat perangkat roketnya dari bahan yang sama. Kemudian mareka merancang secara mandiri. Selain itu ada pilihan masing-masing derajat kemiringan busur peluncur.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Dipakai ponsel hingga mobil, penemu baterai lithium ion raih Nobel
Kamis, 10 Oktober 2019 - 09:45 WIB
Elshinta.com - Revolusi teknologi penyimpanan daya pada baterai lithium-ion yang sangat be...
Lapan-BPPT lakukan riset ciptakan roket untuk modifikasi cuaca
Senin, 07 Oktober 2019 - 19:21 WIB
Elshinta.com - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddi...
Pelajar Indonesia bertarung di KRAN demi tiket lomba roket air di Jepang
Minggu, 29 September 2019 - 18:44 WIB
Elshinta.com - Perhelatan inovatif dan inspiratif untuk menumbuhkan minat dan kemampuan ilmu pe...
Kedaulatan data sebuah keharusan hadapi era 4.0
Kamis, 26 September 2019 - 19:26 WIB
Elshinta.com - Data dinilai sebagai sumber daya baru yang berharga bagi bangsa Indonesia, karen...
Misteri kapal kuno terkubur ratusan tahun di Tanjung Jabung Timur Jambi
Sabtu, 24 Agustus 2019 - 18:39 WIB
Elshinta.com - Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jambi dan Tim Arkeolog Universit...
Universitas Negeri Malang ditunjuk sebagai tuan rumah KMHE 2019
Sabtu, 27 Juli 2019 - 21:42 WIB
Elshinta.com - Setelah berhasil menjadi Juara I pada Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018...
Asteroid lebih tinggi dari Menara Big Ben dekati bumi, apa berbahaya?
Rabu, 24 Juli 2019 - 21:25 WIB
Elshinta.com - Asteroid yang lebih tinggi dari Menara Jam Big Ben di London, Inggris, meluncur ...
Bakteri genus baru ditemukan di Sukabumi
Jumat, 19 Juli 2019 - 13:19 WIB
Elshinta.com - Para dosen dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas I...
Planetarium Jakarta rutin ajak warga teropong bulan 72 kali setahun
Rabu, 17 Juli 2019 - 06:01 WIB
Elshinta.com - Planetarium dan Observatorium Jakarta menggelar secara rutin peneropongan malam ...
Mahasiswa UB manfaatkan limbah RPH hasilkan energi listrik
Senin, 08 Juli 2019 - 19:47 WIB
Elshinta.com - Sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) berkolaborasi dengan mah...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV