13 pekerja migran yang bekerja di Singapura berhasil raih gelar sarjana
Elshinta
Rabu, 13 November 2019 - 07:37 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Dewi Rusiana
13 pekerja migran yang bekerja di Singapura berhasil raih gelar sarjana
Foto: Eko Purnomo/Radio Elshinta

Elshinta.com - Sebanyak 13 pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Singapura berhasil meraih gelar sarjana dari Universitas Terbuka (UT). Ke-13 pekerja migran tersebut di wisuda dengan memanfaatkan peluang belajar sembari bekerja di luar negeri.

Atase Ketenagakerjaan di Singapura, Devriel Sogia menjelaskan, rata-rata  PMI di Singapura mendapat jatah libur 1 hari dalam seminggu. Para pekerja migran yang di wisuda UT mampu memaksimalkan peluang libur mereka dengan belajar di UT.

"Kami mengingatkan kepada semua PMI di Singapura, untuk tetap meningkatkan keterampilan dan pendidikan melalui berbagai akses yang ada di sana," kata Devriel usai menghadiri wisuda Pekerja Migran Indonesia di Gedung UT Convention Center, Tangerang Selatan, Banten, pada Selasa (12/11), seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Purnomo.

Menurut Davriel, peluang untuk mengenyam pendidikan selama bekerja di Singapura didasari 2 hal. Pertama, kemauan keras para PMI untuk meningkatkan keterampilan dan pendidikan. Kedua, kesempatan yang diberikan oleh majikan.

"Jadi dua hal itu yang saling terkait. Yaitu keinginan, upaya dia ingin maju, dan kesempatan dari majikan," terang Davriel.

Ia pun mencontohkan dengan salah satu PMI yang di wisuda hari ini, yaitu Asmaunisak. Perempuan yang biasa disapa Nisak ini disebutnya tetap mengikuti pendidikan di UT selama bekerja. Meskipun, ia harus menyelesaikan studinya hingga 6 tahun.

"Saya mengimbau kepada teman-teman PMI semua bahwa bekerja ke Singapura ini hanya sebagai pijakan. Untuk maju ke depan, untuk membangun kehidupan yang lebih baik, salah satu upayanya tadi, belajar sambil bekerja," ujarnya.

Davriel menambahkan, selain pendidikan formal seperti yang diselenggarakan UT, Pemerintah Indonesia juga menyediakan sejumlah akses peningkatan keterampilan bagi PMI. Salah satunya adalah Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kerja (P3K).

Davriel melanjutkan, P3K adalah kursus selana 6 bulan yang terdiri dari 8 kejuruan, yaitu Barista, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Komputer, Tata Kecantikan, Menjahit, dan Baking. Saat ini, P3K di Singapura diikuti sekitar 600 PMI.

"Dari 8 kejuruan ini, kita akan terus meningkatkan kualitas pelatihan. Kita juga akan bekerja sama dengan BNSP guna mendapatkan sertifikasi yang diakui oleh Indonesia," ucapnya. 

Salah satu PMI  yaitu Nisak (36 tahun), sangat bersyukur akhirnya dapat di wisuda. Pendidikan yang dienyam selama ini berasal dari keinginanya untuk meningkatkan keterampilan, serta mendapat dukungan penuh dari majikannya.

"Semoga bisa menjadi contoh bagi teman-teman pekerja migran, bahwa pekerja migran juga bisa sekolah, bisa kuliah, jadi orang-orang yang bekerja di luar negeri jangan menganggap diri kita itu rendah, anggap diri kita ini pekerja, bukan pembantu," terang perempuan asal Kendal, Jawa Tengah tersebut.

Ia pun berterima kasih kepada majikannya, Mrs. Lisa Tan, yang turut mengatarkannya untuk wisuda di Indonesia. Tak hanya itu, majikannya juga telah membantu biaya pendidikan, biaya wisuda, hingga memfasilitasi keluarga Nisak untuk datang pada acara wisuda.

"Dia dan keluarganya support saya. Dia membayarkan kuliah saya, tiket pesawat, nginep di hotel juga dia yang bayar, tidak memotong gaji," ujar Nisak.

Nisak sendiri mengambil program pendidikan Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan. Selain Nisak, 12 PMI yang di wisuda adalah Ida Supartini dari program studi Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan, Jamilah (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Maria Kareri Hara (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Eti Maini (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Reni Haryati (S1 Akuntansi).

Kemudian, Tuti Sulistyaningsih (S1 Manajemen), Mahdalena (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Dorince Lassa (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Saryanti (S1 Ilmu Pemerintahan), Juwita Seo (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Umi Nadhiroh (S1 Manajemen), dan Wiratna(Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan).

Sementara itu, Direktur UT Batam, Eliaki Gulo, menambahkan, program pendidikan bagi pekerja migran ini merupakan upaya mendekatkan akses peningkatan keterampilan dan pendidikan bagi WNI di luar negeri. Selain di Singapura, program ini juga ada di Kuala Lumpur dan Johor (Malaysia).

Saat ini, mahasiswa UT di Singapura sebanyak 230 mahasiswa, Kuala Lumpur sebanyak 500 mahasiswa, dan Johor 280 mahasiswa. "Ini adalah upaya bersama, bukan hanya UT namun juga pemerintah, untuk memberikan akses pendidikan kepada warga kita yang ada di luar sana," paparnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Mendikbud sebut prestasi tak mungkin ditentukan melalui pilihan ganda
Sabtu, 14 Desember 2019 - 07:17 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan prestasi siswa tidak bisa di...
Mendikbud diminta fokus tanggulangi kampus terpapar radikalisme
Jumat, 13 Desember 2019 - 15:26 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas meminta Menteri Pendidikan dan Ke...
PPDB 2020 tetap gunakan sistem Zonasi, jatah jalur prestasi naik jadi 30%
Jumat, 13 Desember 2019 - 12:42 WIB
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan akan tetap menggunakan sistem Zonasi ...
Ujian semester SMP ditunda gara-gara banjir
Jumat, 13 Desember 2019 - 10:59 WIB
Sebanyak 162 murid SMP N 2 Solok Selatan, Sumatera Barat, tidak bisa melaksanakan ujian semester kar...
Mendikbud tegaskan UN tidak dihapus  
Kamis, 12 Desember 2019 - 21:14 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menegaskan bahwa Ujian Nasional (...
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Guru Besar UMY
Kamis, 12 Desember 2019 - 18:45 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas ...
Presiden Jokowi tegaskan UN dihapus mulai 2021 
Kamis, 12 Desember 2019 - 16:36 WIB
Presiden Joko Widodo menegaskan Ujian Nasional (UN) resmi dihapuskan dari sistem pendidikan di Indon...
KPAI sayangkan pengurangan kuota jalur zonasi
Kamis, 12 Desember 2019 - 10:25 WIB
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyayangkan berkurangnya kuota...
Komisi X DPR dorong keseriusan peningkatan literasi
Kamis, 12 Desember 2019 - 07:05 WIB
Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mendorong agar ada keseriusan pemerintah dalam meningkatkan liter...
Tingkatkan inovasi, mahasiswa gelar WICAN 2019
Rabu, 11 Desember 2019 - 19:48 WIB
Rektor Universitas  Widyatama Prof. H. Obsatar Sinaga mengatakan adanya kegiatan WICAN (Widyatama ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_berita_detail.php
Line: 217
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 144
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once