Saat dunia diproyeksi tumbuh 3%, Menkeu Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia tumbuh 5,02% 
Elshinta
Selasa, 19 November 2019 - 08:33 WIB | Penulis : Dewi Rusiana | Editor : Administrator
Saat dunia diproyeksi tumbuh 3%, Menkeu Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia tumbuh 5,02% 
Menkeu Sri Mulyani Indrawati menyampaikan perkembangan penyerapan APBN Kwartal III/2019, di Kemenkeu, Jakarta, Senin (18/11). Sumber foto: https://bit.ly/3403mcd

Elshinta.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, stabilitas ekonomi Indonesia masih tetap terjaga di tengah prospek perlambatan pertumbuhan perekonomian global. 

Menurut Menkeu, di saat ekonomi global tahun ini diproyeksikan tumbuh 3,0 persen atau terendah sejak krisis keuangan global tahun 2008, kondisi di dalam negeri secara year-over-year Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia triwulan III masih tumbuh 5,02 persen sebagaimana dilaporkan Badn Pusat Statistik (BPS). 

“Pertumbuhan ekonomi didukung oleh Konsumsi Rumah Tangga (RT) dan Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT) yang masih tumbuh di atas 5%. Kemudian penerimaan ekspor sudah menunjukkan kinerja positif dengan tumbuh sebesar 0,02%,” tutur Menkeu, di Aula Djuanda I Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (18/11). 

Sementara itu, paparnya, neraca perdagangan juga sudah mengalami surplus pada Oktober 2019, membaik dari bulan sebelumnya yang mengalami defisit. Demikian juga dengan net ekspor yang sudah mulai positif pada triwulan III tahun 2019, seiring dengan perbaikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang didorong oleh penurunan defisit transaksi berjalan dan peningkatan surplus transaksi modal dan finansial. 

“Kondisi tersebut diyakini akan memberikan pondasi kuat terhadap perkembangan ekonomi nasional hingga akhir tahun ini dan juga tahun depan,” kata Menkeu, seperti diinformasikan melalui laman resmi Kemenkeu

Pendapatan Negara dan Hibah Masih Tumbuh Positif 

Hingga akhir Oktober 2019, lanjut Menkeu, realisasi pendapatan negara dan hibah telah mencapai Rp1.508,91 triliun atau 69,69 persen dari target APBN 2019 dan masih tumbuh dengan positif. 

Capaian pendapatan negara tersebut terdiri atas penerimaan perpajakan yang terealisasi sebesar Rp1.173,89 triliun atau 65,71 persen, PNBP yang telah terealisasi sebesar Rp333,29 triliun atau 88,10 persen, dan penerimaan hibah yang terealisasi sebesar Rp1,72 triliun atau 395,55 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2019. 

“Secara umum realisasi tersebut mengalami pertumbuhan dan membaik dibandingkan kinerja September 2019, meskipun perekonomian global masih mengalami tekanan yang berdampak pada kondisi domestik,” terang Menkeu. 

Realisasi penerimaan pajak tercatat masih tetap tumbuh dan telah mencapai 64,56 persen dari target APBN 2019. Pajak Penghasilan (PPh) Nonmigas dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan penopang utama Penerimaan Pajak. 

Pertumbuhan PPh Nonmigas utamanya didorong oleh pertumbuhan penerimaan PPh 25/29 Orang Pribadi (OP) yang disebabkan oleh kenaikan kepatuhan pasca Tax Amnesty (TA) dan PPh 21 karena adanya peningkatan tingkat serapan tenaga kerja.  

Penerimaan PPh 25/29 OP dan PPh 21, masing-masing tercatat tumbuh sebesar 16,35 persen (yoy) dan 9,77 persen (yoy). Sementara itu, penerimaan kumulatif dari PPN/PPnBM per akhir Oktober 2019 tumbuh lebih baik jika dibandingkan periode triwulan III 2019 di tengah perlambatan perekonomian. 

Realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu tercatat telah mencapai Rp155,42 triliun atau 74,43 persen dari target APBN 2019 dan mampu tumbuh positif sebesar 7,92 persen (yoy). Penerimaan Kepabeanan dan Cukai sebagian besar ditopang oleh penerimaan dari cukai, yang tumbuh 15,29 persen (yoy). 

Berdasarkan komponennya, pertumbuhan penerimaan cukai utamanya berasal dari penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) dan cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) yang tumbuh masing-masing sebesar 15,30 persen (yoy) dan 14,25 persen (yoy).

Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai dengan akhir Oktober 2019 mencapai Rp333,29 triliun atau mencapai 88,10 persen dari target APBN dan masih tumbuh sebesar 3,16 persen (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018. 

Belanja Negara Masih Terjaga 

Mengenai belanja negara, menurut Menkeu Sri Mulyani, masih menunjukkan kinerja yang on track dan berperan dalam memberikan stimulus terhadap perekonomian. Pengeluaran Pemerintah per akhir Oktober 2019 telah mencapai Rp1.797,97 triliun (73,1 persen dari pagu APBN), meningkat 4,5 persen (yoy) jika dibandingkan realisasi pada periode yang sama pada tahun 2018. 

Realisasi belanja negara tersebut terdiri dari realisasi Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp1.121,10 triliun (68,6 persen dari pagu APBN) dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sebesar Rp676,87 triliun (81,9 persen dari pagu APBN). 

Realisasi Belanja Pemerintah Pusat mengalami peningkatan sebesar 4,7 persen (yoy) dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya, utamanya diakibatkan oleh realisasi Belanja Bantuan Sosial yang mencapai Rp91,75 triliun (94,5 persen dari pagu APBN) atau meningkat sebesar 32,7 persen (yoy) dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.  

Dalam hal ini, APBN menjaga daya beli masyarakat miskin yang masih rentan dalam mencukupi kebutuhan hidup melalui peningkatan belanja sosial tersebut. Di sisi lain, realisasi TKDD tumbuh sebesar 4,71 persen (yoy) atau mencapai Rp676,87 triliun atau 81,87 persen dari pagu APBN 2019.  

Sementara itu, realisasi belanja subsidi yang meliputi subsidi energi dan subsidi nonenergi sampai dengan akhir Oktober 2019 mencapai Rp146,19 triliun atau 65,2 persen dari pagu yang ditetapkan dalam APBN. 

Menkeu juga menyampaikan, di tengah kondisi perekonomian global yang mengalami tekanan dan berdampak pada penerimaan perpajakan, APBN berfungsi sebagai countercyclical yang memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi. 

Untuk menjaga kesinambungan fiskal dan kredibilitas APBN, Pemerintah mengantisipasi pelebaran defisit yang diperkirakan mencapai 2 hingga 2,2 persen terhadap PDB, salah satunya dengan menerbitkan obligasi dalam valuta asing di bulan Oktober lalu. Dengan adanya antisipasi pelebaran defisit tersebut, Pemerintah secara hati-hati melakukan pengelolaan pembiayaan. 

“Hingga akhir Oktober 2019, realisasi pembiayaan masih on track di mana posisi utang pemerintah terjaga aman di bawah 30 persen per PDB, yakni sebesar 29,87 persen. Hal tersebut membuktikan bahwa Pemerintah mengelola pembiayaan yang ditujukan untuk hal-hal yang produktif dalam rangka menopang pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi tekanan global,” terang Sri Mulyani. 

Pemerintah senantiasa memantau dan mewaspadai perkembangan kondisi global dan domestik yang sangat dinamis. Pemerintah juga berkomitmen menjaga APBN 2019 yang sehat, kuat, dan mandiri sebagai instrumen dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan rakyat. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Anggaran infrastruktur 2021 dinilai penting pacu pertumbuhan ekonomi
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 10:41 WIB
Pengamat tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna menilai alokasi anggaran infrastruktur Kemen...
Erick: Pembangunan Pelabuhan Teluk Benoa dorong pariwisata maritim
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 09:50 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan bahwa pembangunan Pelabuhan Teluk Benoa di Bali untuk mendoro...
Menkeu targetkan penerimaan dividen BUMN Rp26,1 triliun
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 09:28 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa target penerimaan negara bukan pajak (PNBP...
Raih anggaran tertinggi 2021, Menteri PUPR: Percepat pemulihan ekonomi
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 08:48 WIB
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menyampaikan alokasi anggaran terting...
RAPBN 2021 dinilai cukup kontra-siklus, mampu dorong pemulihan ekonomi
Jumat, 14 Agustus 2020 - 20:11 WIB
Ketua Komisi XI DPR Dito Ganinduto menilai Rancangan APBN (RAPBN) 2021 cukup ekspansif dan konsolida...
Pengamat nilai defisit anggaran 5,5 persen kurang besar
Jumat, 14 Agustus 2020 - 19:55 WIB
Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai defisit defisi...
Dukung ekonomi berkelanjutan, Kemenperin dorong inovasi riset 
Jumat, 14 Agustus 2020 - 19:38 WIB
Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan ekosistem inovasi di sektor industri sebagai ...
Bakti Kominfo berdayakan kayu putih Subang
Jumat, 14 Agustus 2020 - 18:28 WIB
Besarnya potensi minyak kayu putih di Subang, Jawa Barat, ditunjukkan dengan luasnya hutan produksi ...
Rupiah ditutup melemah seiring masih mandeknya kesepakatan stimulus AS
Jumat, 14 Agustus 2020 - 18:11 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat sore, ditutup melemah seir...
IHSG akhir pekan ditutup menguat pascapidato Presiden
Jumat, 14 Agustus 2020 - 17:56 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan, Jumat, ditutup mengu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV