Sosok Ayu Kartika Dewi, Stafsus Milineal pejuang toleransi
Elshinta
Jumat, 22 November 2019 - 12:41 WIB | Penulis : Ervina Rias Palupi | Editor : Administrator
Sosok Ayu Kartika Dewi, Stafsus Milineal pejuang toleransi
Sumber foto:https://bit.ly/35sqKQ2

Elshinta.com - Tujuh staf khusus (stafsus) dari kalangan milenial telah dipilih Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada 21 November 2019. Salah satunya adalah Ayu Kartika Dewi. Siapakah sosok Ayu Kartika Dewi sosok yang disebut presiden memiliki misi mulia untuk merekatkan persatuan di tengah kebhinekaan ini?

Pendidikan dan karir
Ayu adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Ayu yang menyukai scuba diving ini mendapat dua beasiswa dan mendapat gelar MBA dari Duke University, Keller Scholarship dan Fuqua School of Business dari program Fulbright Scholarship.
Ayu juga merupakan Direktur Pelaksana Indika Foundation yang berfokus pada menciptakan dampak dalam pendidikan perdamaian dan pembangunan karakter.

Sumber foto:https://bit.ly/2OuHmj6

Perempuan yang hobi berpetualang dan senang memainkan piano, gitar, dan biola ini pernah menjadi staf Gubernur DKI Jakarta dan staf di Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Saat berusia 27 tahun, kariernya mulai cemerlang dengan memegang jabatan Manajer Consumer Knowledge Procter and Gamble (P&G) cabang Singapura selama 5 tahun serta pernah bergabung dengan McKinsey & Co. Ayu juga pernah mengikuti program dari Singapore International Foundation (SIF). 

Hidup berpindah-pindah mengikuti sang ayah membuat perempuan yang sangat menyukai mengajar ini terbiasa dengan lingkungan beragam. 

Indonesia Mengajar
Ayu Kartika Dewi adalah sosok yang memiliki semangat dan komitmen tinggi dalam menggelorakan nilai toleransi dan keberagaman di penjuru Nusantara. Komitmen tersebut mulai terbangun pada saat Ayu mengawali pengabdiannya bersama lembaga Indonesia Mengajar. Lembaga nirlaba ini fokus mencetak dan mengirimkan kawula muda sebagai pengajar SD di daerah-daerah terpencil.

Pada 2010, Ayu mendapatkan tugas untuk mengajar di salah satu SD yang berada di Desa Papaloang, Halmahera Selatan, Maluku Utara dan menjadi pengajar muda angkatan pertama pada program Indonesia Mengajar.

Di sana Ayu melihat permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan setempat. Salah satu anak didiknya masih mengalami trauma dengan kerusuhan dua kelompok agama yang terjadi di Ambon pada 1999. Padahal, saat Ayu melawat ke Maluku, keadaan sudah damai dan dua kelompok yang terlibat konflik sudah berikrar damai. Namun, ketakutan akan akan bayang-bayang masa kelam itu masih terus menghantui anak didiknya.

Sumber foto:https://bit.ly/37uvwyc

SabangMerauke 1000 Anak Bangsa Merantau untuk Kembali
Pengalaman itu membuat Ayu semakin perhatian tehadap isu toleransi dan keberagaman. Ia pun mencetuskan Program Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali (SabangMerauke). Ayu mendirikan organisasi ini sekitar tahun 2010-2011 dan menjabat sebagai mentor pada Board of Directors SabangMerauke.

Program ini merupakan upaya Ayu menggelorakan nilai keberagaman, toleransi, hingga cakrawala ilmu pengetahuan antarpelajar di Indonesia. Program itu mengajarkan anak-anak mengenai makna Bhinneka Tunggal Ika melalui program pertukaran pelajar. Ayu percaya bahwa toleransi tidak bisa hanya dibaca di buku PPKN. Toleransi itu harus dialami dan dirasakan.

Para peserta yang merupakan pelajar tingkat SMP tersebut diajak untuk tinggal di keluarga yang berbeda, sehingga merasakan perbedaan dan bisa memaknainya. Nantinya setelah tugas tersebut selesai, mereka menjadi duta perdamainan di daerah asal masing-masing. Hingga sekarang, sudah ribuan pelajar dikirim ke berbagai daerah guna merajut nilai keberagaman dan toleransi.

Ayu mengatakan prasangka terhadap agama maupun suku yang berbeda di Indonesia masih ada. Itulah mengapa Ayu berjuang keras untuk menghilangkan pikiran-pikiran semacam itu karena keberagaman di Indonesia merupakan kekayaan tersendiri. 

Sumber foto:https://bit.ly/37u59bu

Milenial Islami 
Usaha Ayu menyebarkan nilai keberagaman dan toleransi tak berhenti sampai di situ. Ia mendirikan Milenial Islami yang memanfaatkan media sosial (medsos) untuk menggaungkan Islam yang moderat. Ia ingin agar generasi milenial usia 18 hingga 25 tahun mengenal pandangan Islam yang moderat. Para anggota Milenial Islami juga langsung turun ke lapangan dengan mendatangi universitas hingga kampus di penjuru negeri.

Ayu memang sangat perhatian kepada dunia pendidikan di Indonesia. Dari Sabang Merauke dan Milenial Islami, menunjukkan betapa Ayu pantang menyerah mencetak pemuda yang berpikir kritis dan saling menghargai sebagai sesama manusia. Ia menyadari institusi pendidikan belum maksimal mengajarkan keberagaman dan toleransi.

Stafsus milenial
Diangkat sebagai stafsus, Ayu meyakini Indonesia bisa maju jika bangsa berpikir kritis. Ayu juga berbicara masalah perdamaian dan toleransi. Ayu mengatakan bahwa fokus presiden adalah pada pembangunan SDM unggul. Sehingga Ayu menekankan pentingnya generasi muda menjadi penopang Indonesia Ayu menyakini pribadi pentingnya punya 21st century skills ada '4C', yaitu critical thinking, creativity, communication, dan collaboration.

Dan untuk merangkul generasi muda, menurutnya tidak cukup dengan membuat acara-acara yang hanya berbau Milenial, tetapi juga harus mendengarkan aspirasi anak muda secara serius. (berbagai sumber)


 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tak hanya selegram, Nay memiliki bisnis kuliner
Jumat, 04 September 2020 - 21:03 WIB
Tak sedikit selebgram, influencer atau youtubers yang kemudian melebarkan sayap dengan mengembangkan...
Era Soekamto, aktif kampanyekan budaya lewat kebaya
Rabu, 29 April 2020 - 06:00 WIB
Dalam pandangan Era Soekamto, sosok Kartini adalah seorang figur wanita yang sangat kritis dan mindf...
 Sosok Niki Zefanya, penyanyi asal Indonesia yang masuk daftar 30 Under 30 Asia dari Forbes
Selasa, 07 April 2020 - 10:53 WIB
Isyana Sarasvati dan Niki Zefanya, masuk dalam daftar bergengsi 30 Under 30 Asia 2020 oleh Forbes. ...
Sosok Pricilia Carla Yules, Miss Indonesia 2020
Jumat, 21 Februari 2020 - 13:54 WIB
Pricilia Carla Yules asal Sulawesi Selatan resmi dinobatkan menjadi Miss Indonesia 2020 pada malam p...
Zahra Amalina, duta pariwisata spa pertama di Indonesia
Kamis, 20 Februari 2020 - 21:00 WIB
Indonesia memiliki potensi yang luar biasa di sektor pariwisata, salah satunya adalah di industri sp...
Sosok Apriyani Rahayu, anak desa yang mengharumkan nama bangsa
Senin, 20 Januari 2020 - 12:53 WIB
Pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu sukses meraih gelar juara di Indon...
Naila Novaranti, wanita pertama Indonesia yang menaklukan tujuh benua dengan terjun payung
Senin, 30 Desember 2019 - 11:55 WIB
Penerjun payung dunia dari Indonesia, Naila Novaranti berhasil menaklukan benua Antartika pada 5 Des...
Profil Albertina Ho, Srikandi Hukum yang menjadi Dewan Pengawas KPK
Senin, 23 Desember 2019 - 12:18 WIB
Dewan pengawas yang terdiri dari lima orang merupakan struktur baru di KPK. Ketua dan anggota dewan ...
Sosok Lili Pintauli Siregar, Pimpinan KPK yang baru
Jumat, 20 Desember 2019 - 17:57 WIB
Presiden Joko Widodo telah melantik lima orang Pimpinan KPK baru untuk periode 2019-2023 pada Jumat,...
Hasniah, perempuan difabel rungu yang mahir merias
Jumat, 06 Desember 2019 - 10:37 WIB
Perempuan memang tidak bisa dipisahkan dari dunia kecantikan. Demikian pula dengan Hasniah. Saat mel...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV